Pikiran kotor itu datang lagi
Pikiran kotor itu datang lagi. Mestinya saya menjadi ikan yang berenang melawan arus, seperti salmon. Bukan malah memejamkan mata sambil menikmati arus membawa saya entah ke mana dalam kemabukan imajinasi yang parah. Harusnya berenang saja ke hulu tanpa memunculkan pikiran apa-apa.
Hanya saja ada dua masalah besar. Pertama, saya masih hidup yang mustahil berhenti berpikir kecuali dalam kondisi sakit mental. Kedua, saya masih hidup yang lagi-lagi mustahil bisa terus hidup tanpa makan. Seadangkan makan di zaman sekarang tidak semudah zaman kakek-nenek saya dahulu kala.
Kakek tidak bekerja, ia tidak pernah kelaparan. Sedangkan nenek membantu kakek dalam ketidakbekerjaannya. Nenek jugalah tidak kelaparan. Mereka bisa memakan apa saja dari mana saja, tumbuh dan berkembang, serta menjadi setua itu sembari tetap menikmati kehidupan. Ironis, orang-orang kolot macam kakek-nenek saya seperti menampar saya berkali-kali di satu waktu. Bagaimana mungkin saya dan istri yang keduanya bekerja masih mendapati rasanya kelaparan, lebih keparat lagi, malah terlilit utang segunung.
Pikiran kotor itu datang lagi. Seperti ombak yang seolah membawa segelas air segar untuk meredakan dahaga ternyata tsunami belaka yang mendatangkan guncangan. Pikiran itu mengatakan agar saya berjudi dengan dua pilihan antara buku akan laku atau sebaliknya. Jika laku, kehidupan saya akan berubah lebih baik. Jika tidak, seperti sebelumnya, kehidupan saya akan menjadi lebih kelaparan dan sengsara.
Seharusnya saya membiarkan tulisan-tulisan saya hilang dengan sendirinya. Tidak perlu memikirkan untuk menjadikan satu kesatuan yang dijilid dan diperjualbelikan. Saya sungguh benci pikiran ini, mengapa pula saya berpikir bahwa ada kemungkinan tulisan-tulisan ini memiliki nilai komoditas?
Benar apa yang keluar dari mulut teman saya tatkala dalam kondisi setengah mabuk pada sebuah dini hari di bulan Februari 2019 lalu. Matanya terbuka setengah, namun rasanya hatinya justru terbuka seluruhnya. Menyarankan saya diruqyah saja agar terhindar dari pikiran kotor yang bakal melahirkan tindakan-tindakan kotor yang berimbas hanya pada penambahan dosa di samping meningkatnya kesengsaraan di dunia.
Jika benar-benar melaksanakannya, barangkali sekarang saya menjadi anomali di tengah salmon. Saya akan menjadi salmon yang menuju hilir alih-alih hulu, mencari tempat persembunyian di bawah akar pohon purba, lalu beranak pinak dengan hampala yang sama-sama anomali bahkan juga labi-labi.
Pikiran kotor itu semakin kotor saja. Nyatanya, sekarang saya tidak menjadi salmon lurus yang menuju ke hulu, tidak pula salmon keblinger yang menuju ke hilir. Saya hanya sedang berputar-putar mabuk nyaris mampus karena terkena limbah pabrik tekstil. Air pabrik yang kotor membikin pikiran saya semakin kotor saja.
Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.
☕ Traktir kopi