Mencatat lelah
Hari demi hari berjalan begini saja. Pikiranku senantiasa mengharapkan pelangi yang indah dan perkasa. Namun, tindakanku hanyalah limbah kental yang bau.
Ketidakcocokan yang terus berulang jam demi jam, hari demi hari, saat tidur dan setelah bangun; benar-benar membuatku --meski sulit kukatakan-- lelah.
Baiklah. Aku juga perlu jujur kepada diri sendiri. Bahwa aku lelah.
Bukan tidak mungkin aku akan menjelma serupa Anak Krakatoa. Yang kemudian menyemburkan lahar panas untuk membikin porak-poranda tatanan keparat ini.
Siapa sebenarnya yang mengatur kehidupanku?!
Aku seperti menyadari ada kekuatan di luar diriku yang mengendalikan kehidupan --termasuk kehidupanku. Sedangkan Tuhan sesungguhnya, Allah, sedang melihat mereka bermain peran sebagai Tuhan palsu.
Pada pertengahan perjalanan menuju mengantuk di sepertiga malam, aku menemukan di media sosial kehidupan beruntung orang-orang. Membuatku merasa iri dan bertanya-tanya kenapa kehidupanku hanya begini-begini saja.
Pada beberapa gulir ke bawah, aku menemukan kehidupan sengsara orang-orang. Membuatku bergetar sehingga menetes air mata karena (sering) lupa bersyukur atas semuanya. Atas hadiah-Nya yang tiada tara. Bahwa aku masih hidup, dan setidaknya masih waras, dan setidaknya masih sadar bahwa salat lima waktu adalah sebuah kewajiban untuk setiap muslim.
Media sosial barangkali memiliki andil dalam membentuk ketidakcocokan antara pikiran dan tindakanku. Sedang Tuhan palsu yang tadi berada di baliknya. Dia (atau mereka) mengatur sistem yang lebih akrab disebut sebagai algoritma.
Setiap orang yang merelakan dirinya masuk ke "dunia maya" mau tidak mau harus tunduk pada sistem berengsek itu. Aih, dunia maya.
Seharusnya Tuhan sesungguhnya, Allah, kekuasaan-Nya juga termasuk dunia nyata dan dunia maya, pun dunia lain yang berada di antara keduanya, pun dunia lain yang berada di selain keduanya.
Kekuasaan Allah seharusnya juga melingkupi ruang dan waktu yang tidak terbatas. Mencakup hal-hal lain yang tidak terikat ruang dan waktu.
Kekuasan Allah seharusnya --dan memang begitulah-- memeluk duniaku.
Duniaku sedang porak-poranda, Allah!
Duniaku sedang diselami oleh racun-racun. Sedikit di antaranya; uang, kecerdasan buatan, pengendalian pikiran, serum yang membuat manusia suka sesama jenis, konspirasi kuno menguasai dunia, mengurangi populasi manusia, utang negara, bumi datar, siluman kadal, alien yang sebenarnya spesies manusia dari masa depan yang kembali ke masa kini melalui lorong waktu, obat-obatan yang meracuni, makanan-makanan yang membuat manusia ketergantungan, ketidakmampuan untuk keluar dari tiap-tiap racun-racun itu.
Aku selalu berada di titik hampir mencapai suatu pemahaman akan kesadaran yang lain. Tetapi saat aku mencoba untuk mendekat, kesadaran itu menjauh, kabur, buram, lenyap, datang, jelas, kabur, buram, lenyap. Aku tidak pernah mencapai apa-apa. Dan aku tidak pernah beranjak dari mana pun.
Hari demi hari berjalan begini saja. Pikiranku senantiasa mengharapkan pelangi yang indah dan perkasa. Namun, tindakanku hanyalah limbah kental yang bau.
Aku lelah. Ini kusampaikan dengan segala kejujuran yang telanjang kepada-Mu.
Sebenarnya, serupa apa dunia ini? Seperti apa duniaku? Aku tak hendak lagi mengejar untuk menemukan jawaban.
Kau adalah yang berkuasa atas segalanya. Kau jugalah yang berkuasa atas diriku, pikiranku, tindakanku, perasaanku. Yang terakhir itulah mustahil dikuasai Tuhan palsu.
Sehingga, setelah semuanya, kehendakilah perasaanku atas segala ketentuan-Mu. Asal Engkau tidak marah, ya Allah. Meski langit dan bumi terbalik, akan aku telan bulat-bulat semuanya.
Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.
☕ Traktir kopi