Mencatat diam 2

Dam yang hampir jebol. Terlalu umum. Tetapi begitulah diam. Aku sedang berusaha mati-matian menahan gejolak gelombang yang semakin deras. Memasang wajah ramah dengan senyum tipis yang mengisyaratkan bahwa semuanya baik-baik saja. Membiarkan sedikit arusnya mengalir lewat celah kecil karena itulah kenormalan. Setelah semuanya, aku menunggu air di atas dam surut dengan sendirinya --kalau bukan karena keajaiban.

Sempat berkali-kali di waktu lalu aku kejebolan. Selalu berakhir pada semacam penyesalan. Sempat juga beberapa waktu yang lebih sedikit itu aku berhasil menahan. Ada rasanya kepuasan. Tetapi antara keduanya tidak benar-benar mengubah semuanya menjadi lebih baik. Semuanya baik-baik saja, tidak lain adalah kebohongan pertama yang tidak ingin aku tampilkan. Kebohongan yang dilakukan oleh lebih banyak laki-laki di negeri ini terkini. Dalam konteks berbeda, tentu saja.

Aku tidak merasakan apa-apa. Bahkan kalau mati sekarang, tidak ada lagi penyesalan. Aku tidak lagi gusar tentang tulisanku yang tidak pernah membaik. Juga tentang tidak adanya waktu memancing sama sekali. Rasa-rasanya, apa yang selama ini kuyakini bahwa satu-satunya yang serius dalam kehidupan adalah kematian mulai ada benarnya. Aku tidak ingin membuat sebuah catatan yang serius. Tetapi, ini juga bukan bercanda.

Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.

☕ Traktir kopi