Tak bisa apa pun kulakukan kecuali kesia-siaan

..tak bisa apa pun kulakukan kecuali kesia-siaan
sebaris puisi Daruz Armedian

Aku kehilangan fokus pada nyaris semua hal.

Semuanya bermula dari sebuah kesadaran bahwa tidak ada yang bisa kulakukan dengan benar. Aku selalu mengacau hingga sampai di umur yang sudah tidak bisa dikatakan muda lagi ini. Oleh karenanya, akhirnya, setelah semuanya, aku begitu berharap di sisa umur yang kupunya, ada semacam keajaiban, hidayah, pertolongan ilahi --atau apa pun yang bermakna serupa-- yang dapat membuatku menjadi lebih baik.

Kesadaran bahwa tidak ada yang bisa kulakukan dengan benar pamungkasnya adalah kemarin saat menghadapi sepuluh soal matematika SMA kelas 11, yang bagaimana pun, seharusnya mudah untuk dikerjakan. Nyatanya, aku hanya bisa menjawab dua di antaranya, dan belum tentu benar.

Dari sana muncul ingatan-ingatan yang tidak lain sama-sama bisa dimaknai sebagai kegagalan --ketidakberhasilan.

Aku tidak mampu mengambil peran seperti seharusnya; menjadi kakak tertua yang mengayomi dari adik-adik yatim, menjadi anak laki-laki yang saleh dari ibu janda, menjadi suami yang berwibawa dari istri cantik, menjadi ayah yang dapat dicontoh dari anak lucu, menjadi menantu yang bisa dibanggakan dari mertua baik, menjadi manusia yang bermanfaat dari tetangga ramah.

Dan parahnya, aku yang selalu mengaku bahwa separuh jiwaku adalah memancing, nyatanya, sebenarnya-benarnya, terang-benderang menyadari dalam bidang yang menurutku paling aku kuasai, justru sering boncos. Lagi, dengan percaya diri yang ganjil, mengafirmasi dengan menyebut diri sendiri sebagai Ketua Mancing Boncos Indonesia.

Semuanya belum berhenti di situ. Tidak ada tulisanku yang mendapat (semacam) pujian selain dari seorang teman yang sering mentraktir aku kopi. Segunung surel penolakan dari surat kabar, belum surel penolakan dari penerbit, yang sangat mungkin terus bertambah, seharusnya menyadarkan tanpa bayang-bayang bahwa tulisanku selama ini tidak pernah baik --pun membaik.

Serangkaian panjang kecerobohan yang seluruhnya bermuara pada kegagalan ini agaknya menyakitkan. Dua belas surat lamaran yang kukirim dalam seminggu kemarin memperoleh dua belas penolakan.

Seharusnya, itu semua dapat menjadi cerita motivasi yang heroik kelak jika suatu hari aku akhirnya keberhasilan keluar dari nasib buruk.

Aku tak lagi memaksa
langit tunduk tatap merunduk
pada kusam tengkuk terbakar
erang kepedihan yang tersembunyi.
Hitam samar di tengah mata sembabmu
keluasan ruangan di bawah kubah
masjid kota yang mewah
terurai serupa benang rajut bergulung.
Nestapa kering serak satu-satu
jangan-jangan sayap-sayap kupu-kupu
sobek-sobek pengap serumpun catatan.

Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.

☕ Traktir kopi