Semangat hidup dan kesabaran adalah omong kosong

Warna orange di langit itu tidak lagi cerah. Warnanya layu dan memudar, lalu beberapa bentar hilang dimakan sesuatu entah apa. Fajar yang merah itu juga diam saja. Tidak berbicara, apalagi mengatakan ayo semangat, ini adalah hari baru.

Kita tidak mau memanis-maniskan keadaan. Bahwa sekarang sebetulnya abu-abu yang padam. Ruang gelap untuk mengurung penyair dan seekor macan tanpa keduanya tahu keberadaan satu sama lain masing-masing di dalamnya. Ya, karena saking gelapnya.

Anda pun tidak akan sadar yang sedang Anda makan itu tangan atau kaki. Berteriak di ruangan itu sia-sia belaka. Kegelapan telah berhasil memakan segalanya, termasuk suara. Siapa pun yang terlanjur masuk ke dalamnya niscaya bertanya, apakah Tuhan sanggup melihat dan mendengar jerit dan jerat orang-orang di dalam sini?

Baru dua jam di dalam sana, seorang asing menjadi gila. Barangkali pikirannya telah kusut mirip jembut yang sengaja dipanjangkan oleh pemiliknya. Sejak adanya ruangan itu, hanya ada satu orang, dan mungkin satu-satunya yang masih bisa menjaga kewarasan selama enam tahun.

Orang itu adalah saya.

Namun sungguh disayangkan, baru terlelap sebentar di waktu ini (siang-malam juga hilang di sini), saya bermimpi hampir saja berjabat tangan dengan Izrail. Mimpi yang terasa nyata, di sana juga gelap belaka.

Saya sempat melihat sebuah cermin yang bersinar terang benderang. Lengkungan bulat sempurna itu menampilkan secara bergantian gambar rusak kebersamaan saya dengan orang-orang yang saya kenal dahulu. Semakin lama semakin menembus pada masa-masa kanak-kanak yang sebebas itu. Kepala saya mendekat dengan sendirinya, mencoba memasukkan dirinya ke dalam bulatan cermin.

Pemandangan yang teramat indah. Indah sekali. Berhasil si kepala masuk, lubang itu menjadi lebih besar hingga seluruh badan ditelan ke dalamnya. Saya melihat diri saya sendiri memperoleh cahaya. Masuk ke waktu yang indah dan menyenangkan.

Akhirnya ini kaki. Akhirnya ini tangan. Akhirnya.... akhirnya semua tubuh ini kelihatan setelah berapa hitungan waktu terkurung dalam ruang gelap sialan. Rumput hijau yang pendek mirip di halaman rumah nenek --ingatan yang juga kembali entah dari mana-- terasa menusuk-nusuk di telapak kaki. Rasa geli sedikit perih itu luar biasa. Di atas sana ada bulatan kuning raksasa yang tidak bisa saya lihat dengan mata. Itu matahari, sesuatu lain dari masa lalu yang juga terasa sangat asing.

Sekarang lihatlah hamparan di depan itu. Sebuah sungai dangkal yang gemericik airnya membuat saya mengingat kembali untuk segera ambil joran pancing, menggali tanah mencari cacing, lalu memancing di sana selamanya. Barangkali separuh jiwa saya telah kembali.

Seorang anak bersepatu lewat di depan saya.

Anak yang entah mengapa begitu ceria. Ia teramat rapi seperti baru saja mandi meski sekarang masih belum bisa dikatakan sore hari. Ia berlari semakin kencang, menyempit, bertumbuh, dan menjauh. Lalu dengan cepat kembali, sekarang ia berhenti tepat di hadapan saya.

"Halo," kata saya kemudian.

"Halo." jawab saya.

Sosok di depan saya benar-benar persis saya yang terkurung di ruang gelap selama hitungan waktu. "Masih enam tahun," katanya sebelum berubah menjadi sosok raksasa. Sungai terangkat bersamaan dengan tanah, rumput, dan matahari. Dikumpulkan jadi sebuah bulatan kecil yang seolah-olah mirip cermin yang memakan segala-galanya termasuk cahaya. Kini yang tersisa hanyalah kegelapan yang benar-benar hitam sebagaimana ruang sebelumnya.

Sebelum sempat memasukkan kepala ke dalamnya lagi, cermin itu pudar. Sekarang tidak ada apa pun yang tersisa kecuali kesia-siaan. Ingatan belakangan dan pengalaman mendapat sebentar cahaya tadi cukup menjadi penguat untuk enam, atau tujuh tahun ke depan.

Saya meringkuk, dan lagi-lagi, sendirian. Terdengar suara langkah kaki --sesuatu yang sangat asing sebab suara seharusnya tidak berlaku di sini. Saya angkat kepala, ada seseorang mendekat. Orang itu seperti manusia namun memiliki begitu banyak mata di setiap bagian tubuhnya.

Semakin ia mendekat, semakin sesak dada saya. Napas ini seperti berhenti. Saat itu saya mulai panik, betul-betul gila ini sudah, saya tidak bisa bernapas! Aduh! Kepala rasanya sakit mau pecah, dada ini mengembang, tanpa kelihatan pun saya bisa tahu kalau mulut saya menganga. Sejak kapan saya memegang lubang hidung dengan dua jari untuk membukanya tetapi tidak berhasil. Sejak kapan saya berguling-guling sambil meraba sesuatu di dada dengan satu tangan, dan merogoh ke dalam mulut dengan tangan lainnya.

Saya sudah tidak tahan dengan rasa sakitnya.

Hingga orang itu tepat berada di depan saya, pandangan saya mulai kabur. Tubuh ini tak sanggup lagi bergerak. Pikiran berhenti begitu saja. Saya merasakan sesuatu yang akan keluar dengan seret seperti silit ambeien yang hendak mengeluarkan tahi super keras seukuran betis dan sepanjang empat meter. Setiap senti prosesnya terasa begitu mengerikan.

Barangkali ini adalah akhir. Ia mengulurkan tangan, semakin dekat, dan saya terbangun engap-engapan. Saya rabai dada masih utuh, kepala masih di tempatnya, dan saya rasai mengambil napas tidak pernah senikmat ini sebelumnya.

Di sekitar masih tidak kelihatan apa-apa. Saya duduk sambil menghirup napas lagi sekuat-kuatnya sembari memastikan masih bisa melakukannya. Oke, tidak ada masalah. Ternyata benar kata orang, terlilit utang bikin kita sulit bernapas. Hanya saja, saya tidak pernah menyangka kalau segelap dan senyata ini.

Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.

☕ Traktir kopi