Makanya disebut blog pribadi
Beberapa tulisan dalam blog ini sejatinya tidak (boleh) dikonsumsi publik. Makanya disebut sebagai blog pribadi.
Entahlah... Tetapi saya ingin bikin blog baru. Blog yang benar-benar baru dan tidak ada siapa pun yang akan menyadari kalau itu blog saya.
Sehingga, saya akan terbebas dari hal jahanam ini:
- Menulis hanya untuk mencari sebanyak-banyaknya pengunjung
Sehingga mengorbankan ini:
- Menulis sebebas-bebasnya tentang apa saja
Saya akan menulis semua hal. Tentang ke-aku-an sampai ketidakakuan pakai bahasa manusia maupun binatang. Saya akan menulis juga dengan emosi dengan meluap-luap, melepaskan segala sesuatu seperti keberhasilan berak setelah menundanya seminggu.
Bagaimana jika tidak ada yang membaca? Tidak masalah. Ada maupun tidak yang membaca, sekali lagi, bukan masalah sama sekali.
Blog baru saya tidak memiliki ketergantungan pada hal remeh harus dibaca orang; begitu pula tulisan di dalamnya tidak bergantung pada kaidah SEO omong kosong tai asu.
Mengabaikan kaidah SEO omong kosong
Ada juga manusia pemilik blog yang masih memegang teguh kaidah SEO on page yang jelas-jelas omong kosong belaka itu.
Keyword harus ada di judul, jumlah kata minimal segini, gambar harus punya alt, densitas maksimal segini, internal link harus ada, dan serentetan aturan omong kosong tai asu lainnya.
Di blog baru saya kelak, saya akan sepenuhnya mengabaikan itu. Tidak terikat pada aturan yang tidak jelas siapa yang mencetuskan.
Lho, Anda kan juga tahu bahwa sejak dulu hingga sekarang tidak ada aturan baku yang berlaku universal untuk SEO?
Aturan-aturan itu kan hanya bikinan plugin SEO biar produk mereka ada yang pakai?
Bebas menulis ke-aku-an
Anda barangkali tidak tahu bahwa menulis tentang aku atau tulisan yang berkiblat pada aku adalah sesuatu yang hina. Penulis sejati mestinya menulis selain aku, mereka harusnya menulis tentang kehidupan.
Tetapi, saya bukanlah penulis, apalagi sejati.
Di blog baru saya, saya akan menulis ke-aku-an; segala tulisan yang membahas tentang diri ini. Micek terhadap sesuatu di luarnya.
Saya akan begitu bodo amat tentang perjuangan kemanusiaan, sebagaimana saya bodo amat tentang kondisi negara.
Saya akan lebih suka menulis tentang rasa capai setelah ngopi seharian daripada tentang semua pejabat negeri ini nyawit.
Menulis yang paling intim dan rahasia
Selanjutnya, saya juga akan meluapkan semua yang selama ini terbendung. Segala sambat, kutukan, dendam, dan sengkarut yang begitu intim dan rahasia dan menjijikan.
Semuanya akan tumpah-ruah di blog baru saya tanpa terkecuali.
Tentang rasa mengalah yang terus-terusan. Juga tentang putus asa yang begitu hitam.
Saya tidak akan khawatir menulis semuanya karena, lagi-lagi, tidak ada yang tahu kalau itu adalah saya.
Tetapi masalahnya sekarang adalah saya terlampau miskin untuk melakukannya. Konfigurasi teknis blog harus di laptop; sesuatu yang sederhana namun tidak saya miliki.
Perihal teknis lainnya seperti proteksi whois juga butuh duit.
Aih, kemiskinan ini membuat saya untuk sementara terpaksa membendung apa-apa yang hendak saya luapkan. Saya mesti sanggup menahannya sebentar lagi.
Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.
☕ Traktir kopi