Setiap hari bertemu dengan orang yang mendekati gila

Catatan ini merupakan kisah nyata. Terkini. Saat ini.

Saya sedang duduk di warung kopi biasanya, sendirian juga seperti biasanya. Di warung kopi kota kecil bagian paling selatan Pulau Jawa ini datang-pergi orang-orang unik.

Selalu begitu. Beberapa dari mereka yang tampaknya mendekati gila. Mulai dari yang berbicara ke telepon meski tidak sedang dalam panggilan. Berbicara sendiri dengan cara yang aneh sembari mengawasi sekitar. Bagian yang bicara sendiri ini saya hitung ada empat.

Kemudian, mereka yang akan dengan sembrono duduk di samping orang, meminta sebatang rokok, satu seruput kopi, lalu pergi.

Beberapa waktu juga ada satu-dua (kadang bersama-sama) datang mengangkat tangan kanan tinggi-tinggi sembari menyapa setiap orang satu-satu dengan teriakan "ASSALMU'ALAIKUM!"

Mereka seolah memiliki dunianya sendiri.

Namun kalau saya pikir-pikir lagi, dibandingkan mereka yang bicara sendiri, orang-orang yang mendekati gila dengan cara berdiam diri, sendiri, di pojok, sambil menulis sesuatu di laptop justru paling mengkhawatirkan.

Jangan-jangan yang ditulisnya adalah puisi-puisi gelap ajakan makar, kritik terhadap program mulia memberi makan siang, atau malah caci-maki nirkemanusiaan terkait kebohongan belasan lapangan kerja. Ngeri...

Mereka bisa jadi sepenuhnya gila kapan saja. Bahkan detik berikutnya tepat setelah menyelesaikan tulisannya.

Terutama satu orang yang paling khusyuk sejak siang sampai nyaris tengah malam itu. Sepertinya ia sedang menulis juga di laptop, sempat saya lihat sebentar tulisannya berbicara tentang orang yang mendekati gila.

Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.

☕ Traktir kopi