Semacam putus asa

Surup telah menjadi makanan sehari-hari. Langsung ia telan tanpa pernah memotongnya menjadi bagian-bagian kecil lebih dulu. Ia tidak memegang pisau dan garpu, tidak pula pakai tangan, langsung mangap dan menelan surup bulat-bulat.

Tidak seperti Joni yang sempat-sempatnya pakai celemek sebelum memegang pisau di tangan kanan dan garpu di tangan lainnya. Joni memang begitu orangnya, kata teman satu kontrakan yang hanya dipanggil sebagai Celeng. Siapa pun akan tahu bahwa Celeng bukan namanya yang sebenarnya.

"Akhirnya kita sampai," kata Celeng setelah turun dari jok motor paling belakang.

Mereka bertiga berada di sana, sebuah warung kopi pinggir kali yang memiliki empat lampu berwarna kuning menyebar di setiap sudutnya.

"Ayo di sana," kata Joni kemudian sambil menunjuk pojok paling gelap yang lampunya mati.

Mereka akan membicarakan tentang sesuatu yang penting. Itu jelas. Sebab jika tidak penting, sesuatu itu hanya akan tertuang di kontrakan. Mereka sudah membawanya sampai warung kopi, kondisi yang sama-sama dipahami sebagai kegentingan.

Sebuah jam dinding berdiri sendirian tepat di tengah tembok paling ujung. Jarum pendek menunjuk angka 10, sedang jarum panjang entah mengarah ke berapa. Mereka tidak terlalu peduli dengan waktu. Terbiasa melakukan semua hal tanpa melihat jam --kecuali salat.

Meteor seukuran kelapa tiba-tiba jatuh dari langit. Mengantam keras warung kopi, menghancurkannya jadi debu setiap sesuatu yang punya kepala di sana. Memberikan dampak kerusakan luar biasa dalam radius 24 km ke semua penjuru arah mata angin. Tidak ada yang tersisa.

"Jangan melamun," kata Celeng kepada Joni.

Joni manggut-manggut. Membuyarkan beberapa harapannya tentang suatu kejadian yang sebenarnya lebih mengarah pada bencana.

Orang-orang di warung kopi pukul segitu masih datang-pergi. Tidak ada satu pun dari ketiga orang di bagian pojok yang lampunya mati itu untuk memulai. Seolah menunggu tanda entah apa, entah dari siapa.

Setiap dari mereka sibuk bermain ponsel. Menatap barang sebesar telapak tangan itu dengan pandangan getir.

"Lihat ini," itu Celeng lagi. "Ada rakyat di sebuah negara yang ditipu terang-terangan oleh pemerintahnya."

"Aku sudah melihatnya," katanya.

"Omong kosong itu. Mereka para keparat dan keluarga seharusnya ketiban meteor," Joni akhirnya. "Biar tidak ada satu pun keturunan mereka yang tersisa di negara itu."

Ia dan Celeng menyadari bahwa ada sesuatu yang salah dengan Joni --terlalu emosional. Sesuatu itu bisa merusak suasana. Dan barangkali semuanya sudah sepakat jika suasana rusak, oleh sebab itu mereka datang ke warung kopi ini.

Jarum pendek terus berputar dengan sembrono. Sekarang berada di titik antara satu dan dua.

"Ayo," kata Joni memecah keheningan setelah muak dengan membahas pejabat keparat yang tidak ada habisnya.

Kedua orang lainnya menyadari bahwa itu tanda.

Satu motor itu dinaiki mereka bertiga. Keluar dari warung kopi yang kini semua lampunya sudah mati. Menyeberang kali lewat jembatan kecil sebelum berbelok ke kanan dan lurus sekitar dua kilometer. Lalu pada akhirnya masuk jalan yang teramat sempit menuju warung kopi lain yang --meski semua lampunya menyala-- rasanya remang belaka.

"Dua, seperti biasa," kata Joni kepada penjualnya.

Joni membawa keresek hitam besar berjalan menuju ia dan Celeng yang sedari tadi ternyata masih berada di atas motor.

"Ada?" tanya Celeng.

Joni hanya menangguk lemas.

Dan terjadilah sesuatu yang disepakati, mereka bertiga berakhir di kontrakan yang memiliki lampu kuning sebagai satu-satunya penerangan. Membentuk lingkaran kecil. Mengeluarkan dua pesanan Joni. Ia buka satu pelan-pelan.

Sambil menyodorkan gelas dadakan dari potongan botol Ale-Ale yang sudah terisi, Joni bertanya kepada Celeng. "Namamu itu sebenarnya siapa?"

"Mat Ayam," jawab Celeng singkat.

"Oke, tak akan kulupakan lagi nama itu," janji Joni.

"Kau sudah menanyakan hal itu dua belas kali sejak aku ikut ngontrak dua tahun lalu."

Pada akhirnya dua pesanan yang tadi habis juga tepat setelah muazin menyelesaikan azan subuh. Ia dan Mat Ayam sudah terkapar --tidur. Joni masih meringkuk di pojokan sambil menangis dan muntah dan bekeringat, mungkin kencing juga. Semua cairan itu bercampur jadi aroma yang semerbak aneh.

Tidak ada yang tahu apa yang Joni luapkan sejak sampai di kontrakan sampai subuh. Kecuali mereka bertiga, tembok di keempat sisi, sebuah pintu yang mengelupas catnya, lampu yang nyalanya makin muram, sepotong tikar bekas spanduk, sebuah keresek hitam, gelas bekas Ale-Ale, tiga asbak penuh, dua botol yang terguling, dan Allah.

Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.

☕ Traktir kopi