1 kalimat yang ditulis sendiri lebih baik dari 10.000 kata yang ditulis AI

Jika Anda membaca sebuah artikel di sini, kemudian merasa tidak puas, jelas, itu merupakan hasil tulisan AI alias Artificial Intelligence alias kecerdasan buatan. Sebab, kalau itu merupakan tulisan saya sendiri, niscaya Anda akan merasa puas karenanya. Karena satu-dua hal, saya agaknya jago membikin orang lain puas.

AI hanyalah cepat. Itu saja. Terkait dengan hasil kualitas tulisanya, jangan ditanyakan. Anda hanya perlu membacanya dari awal sampai akhir dengan pelan-pelan serta tidak terburu-buru, lantas setelah selesai, Anda akan merasa hambar. Merasa seperti tengah berada di ruangan gelap penuh debu.

Mencoba menyangkal alasan yang (barangkali) muncul dari dalam batok kepala Anda

Di bagian ini, saya akan menjawab sekaligus menyangkal berbagai tapi, tapi, dan tapi yang hendak Anda ajukan.

1. Tapi, apakah saya sudah mencoba menggunakan AI berbayar (versi pro)?

Sudah. Kabar buruk. Selain hanya cepat, Anda ternyata juga kehilangan uang. Tidak ada peningkatan kulitas dari Gemini gratisan dengan Gemini Pro (Google AI Plus). Sekali lagi, saya tidak bosan menulis ini, bahwa Anda akan sepenuhnya menyadari itu tulisan AI setelah selesai membacanya.

Kalau dipaksa mencari perbedaan antara AI gratisan dan versi berbayar. Saya bisa mengatakan kalau tulisan yang dihasilkan hanya akan lebih panjang dan lebih banyak data. Sebatas itu. Tetap tidak ada kedalaman yang menyentuh relung paling sensitif manusia.

Kedalaman dalam tulisan itu penting sebagaimana kedalaman saat memasukkan batang torpedo Anda ke tempat yang seharusnya. Jika tidak dalam dan hanya bermain di permukaan, itu bakal berakhir pada salah satu pihak yang tidak puas. Saya paham betul hal ini karena sudah menikah.

2. Tapi, hasil tulisan yang tidak mendalam itu hanya karena prompt yang ditulis tidak tepat!

Aih, omong kosong mana lagi itu.

Sebelum menulis artikel ini yang jelas-jelas secara manual. Saya sudah mencoba ratusan (barangkali hampir ribuan) berbagai prompt dari berbagai bahasa. Kebetulan saya sudah membahas terkait perbandingan prompt-nya, Anda bisa membacanya di ciri tulisan yang dihasilkan AI, itu pun kalau Anda tidak malas melakukannya.

Pun seberapa ciamik Anda meracik prompt, itu hanya akan tetap berakhir pada satu lubang. Bukan lubang meki yang gelap, rimbun, dan gelap itu; melainkan lubang kesimpulan bahwa itu tulisan AI.

3. Tapi, AI hanyalah alat, yang menentukan kualitas hasil tulisan AI tetap pilotnya!

Benar. Tepat. Saya agak setuju untuk yang ini. Dan baca ini pelan-pelan karena saya mau memberikan rahasianya:

Rahasianya adalah Anda harus meminta AI untuk generate per paragraf. Kemudian mengeditnya sesuai dengan gaya bahasa Anda sendiri. Pun mau pakai AI gratisan dan premium, cara itu memiliki power yang sama.

Sayangnya...

Usaha, waktu, dan pikiran yang Anda kerahkan untuk menjelaskan kepada AI apa yang Anda inginkan melalui prompt tiap paragraf itu, jauh lebih besar daripada Anda langsung menulis paragraf yang jadi secara manual. Belum lagi proses editing ulang yang merupakan keniscayaan setelah paragraf berhasil dibuat AI.

Bagaimana jika Anda mengabaikan proses edit ulang? Hasilnya sama saja, jatuh di lubang yang tadi, lubang kesimpulan bahwa itu tulisan AI. Tiada yang lain.

4. Tapi, tujuan saya ngeblog hanyalah untuk dapat traffic, bukan untuk memuaskan pengunjung blog saya.

Oke, Anda hanya perlu onani. Tidak perlu memuaskan siapa-siapa selain diri Anda sendiri. Pun onani itu seiring waktu akan menggerogoti sesuatu yang penting dari tubuh Anda. Meski awal-awal artikel Anda langsung terindeks dan muncul di halaman pertama Google, tunggulah beberapa bentar hingga artikel itu menghilang dari sana selamanya.

Lebih buruk lagi, blog yang Anda rawat dengan kasih sayang dan kehati-hatian itu bisa terseret masuk kotak gelap Google dan terkunci rapat di dalamnya selamanya. Kotak gelap itu biasa kita sebut sebagai sandbox.

5. Tapi, ...

Tutup mulut Anda. Jika ada tapi-tapi yang lain, utarakan saja di komentar. Saya mau membahas hal yang lebih penting daripada tapi-tapi Anda.

Sayangnya, sesuatu selalu memiliki manfaat, termasuk kemunculan AI

Saya orangnya tidak fanatik terhadap sesuatu. Pun AI telah membuat hidup saya babak-belur-luar-dalam, saya akan tetap mengakui bahwa teknologi sialan ini memiliki manfaatnya dalam dunia tulis-menulis.

Saya kasih saran sederhana agar tulisan Anda memiliki data-data kuantitatif agar tampak kredibel, sekaligus menyentuh kedalaman sisi sensitif manusia yang sama sekali tidak bisa dilakukan oleh robot.

Bagaimana caranya?

  1. Mintalah AI untuk generate artikel dengan data yang penuh. Suruh ia berpikir lebih panjang, lebih lama, dan lebih dalam. Bikin target kata yang terasa mustahil, misalnya 2.500 kata. Dan, suruh ia melakukan semua proses melelahkan seperti riset data, riset keyword, maupun hal teknis yang lain.
  2. Setelah menunggu beberapa waktu, artikel lengkap tersebut sudah jadi.
  3. Anda hanya perlu membuka dua tab di Chrome. Satu tab merupakan dashboard blog Anda, dan tab lainnya adalah artikel lengkap hasil AI.
  4. Baca satu paragraf di tab artikel hasil AI. Pahami maksudnya.
  5. Tulis kembali menggunakan gaya bahasa Anda sendiri di tab dashboard blog Anda.
  6. Ulangi langkah 4 dan 5 terus menerus sampai artikel tersebut lengkap.

Istilah ringkasnya adalah: rewrite. Saya jelaskan lebih rinci seperti di atas agar lebih mudah dipahami oleh blogger yang suka onani.

Hanya saja, Anda tidak perlu melakukan proses teknis persiapan sebelum menulis artikel yang lengkap dengan data-data kuantitatif. Anda (sepertinya) juga perlu meriset data yang disajikan oleh AI tersebut di tab opsional ketiga.

Kesalahan data dari tulisan AI adalah keniscayaan

Coba Anda tulis nama Anda, kemudian minta AI untuk melakukan riset mendalam tentang siapa Anda. Atau, Anda coba menulis tentang sebuah topik dalam hobi Anda, suruh AI memberikan penjelasan yang sebenarnya sudah Anda pahami di luar kepala.

Baca tulisan AI yang dihasilkan. Simsalabim... Anda akan tahu kalau AI adalah mesin cepat sok tahu tentang semua hal. Padahal faktanya, ia tidak benar-benar memahami apa yang Anda maksudkan.

Makanya, kesalahan data dari tulisan AI adalah keniscayaan.

Mana tahu AI tentang pengalaman pakai joran Yehang ijo lumut, atau perbandingan antara Yehang dan Gouyi?

Anda justru akan merasa jengkel saat meminta rekomendasi rangkaian pancing yang tepat untuk Oregon Nutule. Mana ada enaknya tegek itu dipakai mancing dasaran dengan timah anting ukuran 40 gram? Kocak. Sudah gila si AI.

Aduh, lagi-lagi, kalau dipaksa menyebut apa manfaat AI untuk seorang manusia biasa yang di waktu luang memancing ikan, dan di waktu yang lebih luang menulis cerita seperti saya ini. Maka saya akan menjawab, hanyalah untuk sambat tanpa dibalas balik sambat.


Pertama kali diterbitkan di blog lain dengan judul: Ketidakpuasan dengan tulisan AI, Blogger, apakah Anda puas?

Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.

☕ Traktir kopi