Tidak lagi mengganggu
Bikin story WhatsApp pukul 12 malam agar dikira belum tidur, atau pukul 04.00 subuh agar dikira sudah bangun, sesuatu yang berada di luar jalur kelaziman terasa begitu hebat, itu dulu, sekarang semuanya hanya debu yang mengawang-awang di depan mata dan tidak akan pernah sampai menyentuhnya. Aku tidak lagi terganggu jika semua orang menganggapku tidur terlalu sore atau bangun terlalu siang sebagaimana aku tidak terganggu jika semua orang menganggapku sudah hilang.
Beberapa hal terlalu pribadi, kondisi keuanganku yang masih memberontak dan hilangnya kepercayaan orang-orang terdekat dengan cara sembrono. Serangkaian urusan laki-laki dewasa yang seumur-umur tidak pernah kusangka bakal demikian.
Aku kini tengah mengangkangi mulut kakus sambil mengisap rokok sama seperti sepuluh tahun yang lalu saat masih menjadi mahasiswa. Membawa ponsel untuk menulis cerita atau mencatat sesuatu menakjubkan yang keluar dari mana saja. Sedang sengkarut yang aku sedang menanggungnya tidak pernah lebih besar dan keras seperti ini. Aku setuju bahwa dewasa itu jebakan, tidak lagi merasai kegirangan saat sebuah tulisan terselesaikan.
Barangkali aku hanya rindu akan kebebasan purna sebagai mahasiswa yang sempat kusangka sebagai masa-masa sulit itu. Semua orang ingin kembali ke masa lalu karena ingin memperbaiki sesuatu; atau merasa babak belur dihajar keadaan terkin, semacam kehidupan yang tidak diinginkan.
Barang lima isapan asap lagi aku harus bangkit, kembali pada mati rasa dan rutinitas tanpa gairah. Mengurai satu per satu benang kusut yang seiring bergantinya hari malah jadi makin kusut. Jika aku sudah bangkit setelah semua urusan dengan kakus, aku tidak lagi terganggu menghadapi semuanya. Dan seperti orang-orang sebelum aku yang juga sudah terjebak, aku akan mengatakan bahwa inilah dewasa.
Ah, aku ingin sebatang lagi dalam lamunan di tengah kaki kesemutan. Juga gairah yang berkobar-kobar seperti matahari pukul delapan.
Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.
☕ Traktir kopi