Segelas air putih saat kehausan
Sekarang, di lingkungan pergaulanku tengah terjadi musim kawin. Mereka bahagia, sedang kita kekeringan; isi dompet dan empati. Aku nyaris tidak bisa merasakan kebahagiaan yang pasangan-pasangan itu, kenalan-kenalanku itu rasakan. Yang sedang berkelindan di kepalaku hanya amplop dan isinya. Atau, alasan paling masuk akal melupa untuk menghindari undangan celaka.
Kondisi kehausan semacam itu membuatku harus lebih banyak berpikir, lebih sedikit tidur, yang lantas menghantam kesehatanku dengan cara ganjil. Aku tidak percaya bahwa kurang tidur dapat membuat seorang manusia sakit, itu dulu. Sekarang aku adalah manusia yang sedang mengalaminya.
Sebenarnya, harapanku itu sebuah keajaiban di mana satu lautan jatuh dari langit. Namun yang kudapat merupakan segelas air putih. Itu tak lantas membikin rasa kecewa lebih besar dari rasa syukur. Setidaknya, dengan segelas senilai Rp300.000 itu dapat kubagi ke beberapa teman untuk pernikahannya di samping popok dan susu anak. Sehingga, aku tidak perlu mencari alasan apa pun untuk menghindari undangan mereka.
Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.
☕ Traktir kopi