Terlalu banyak 2
Persoalan kian bertumpuk saban satu-satu detik yang terlewat. Aku memandangi jam dinding yang berbunyi duk-duk-duk dalam kondisi terancam oleh sesuatu tak tampak. Bunyi yang sama dengan sesuatu di dalam dada yang begitu jelas kedengarannya. Persoalan itu yang semula hanya sebesar semut, pada hampir 946.080.000 detik berevolusi menjadi gajah raksasa permasalahan.
Pada catatan ini, aku tidak akan mengatakan apa-apa, seperti mengajukan sebuah pertanyaan apakah aku akan mampu melewatinya. Sebab, sejak 604.800 detik yang lalu sudah kupikirkan segala jalan keluar yang sampai sekarang belum ketemu jawabannya selain keajaiban. Aku percaya dengan adanya keajaiban, dan kepercayaan itu semakin kokoh dengan cara aneh dalam kondisi seperti ini. Benar-benar munafik!
Begitu pula di sini aku tidak akan menjelaskan apa yang sedang aku rasakan. Soalnya, cerita tentang kesedihan yang biru berpadu kemarahan yang merah tidak akan menghasilkan apa-apa kecuali kekosongan yang ungu. Cerita tentang itu semua sudah umum, setiap orang menanggung, mungkin kau jugalah salah satunya.
Menulis catatan hanya untuk menunjukkan posisimu sebagai pihak tidak bersalah juga tidak ada gunanya. Sudah terang-benderang seterang lampu pijar di dapur rumah mertua, kondisi demikian tidak perlu tahu siapa yang salah dan benar. Sampai di titik yang tidak aku mengerti, aku sendiri tidak tahu mengapa aku menulis catatan ini.
Pagi tadi saat berada di punggung motor dalam perjalanan panjang, aku mengingat cukup banyak sengkarut yang hendak kutulis. Namun malam ini setelah 3.624 detik berlalu, tidak ada satu pun yang bisa kuingat. Aku hanya ingat bahwa aku perlu menulis sebuah catatan. Yang dapat menjelma sebagai catatan pamungkas yang berada di puncak kesedihan, kemarahan, kekosongan.
Meminta bantuan kepada orang-orang dekat sudah aku lakukan sejak lama. Hingga pada akhirnya, seperti yang bisa ditebak, para pemberi bantuan telah muak dengan semua permintaan itu. Sekarang, aku hanya mendapat penolakan. Sedang gajah raksasa yang tadi tetap bertumbuh semakin mengerikan tatkala aku menulis catatan ini.
Aku mencoba mengingatnya satu-satu, setidaknya pagi itu. Sehingga beginilah adanya: aku ingat matematika menerangkan ada contoh yang benar dan contoh yang salah, aku adalah contoh yang kedua; aku juga ingat sebuah judul buku tentang seseorang yang gagal menjadi manusia; seorang perempuan yang mengantongi batu sebelum menceburkan diri ke sungai; beberapa cerita mengerikan dari Facebook; esai Dea Anugrah; kelaziman yang berpola dalam masyarakat; puisi Daruz Armedian, yang kemudian di perjalanan pagi itu aku bersenandung aneh, "Aku ingin melepas manusia dari penjara kepala ini, manusia yang selalu berharap hidup seribu tahun lagi, betapa hanya sesal kupintal, begitu tahu di sepanjang usiaku, tak bisa apapun kulakukan kecuali kesia-siaan, harusnya aku bersepakat dengan usiaku, tak perlu memanjangkan angan-angan, hidupku tak mungkin bisa setua waktu, aku tak hendak berteriak lagi: kenanglah aku kenanglah! Aku ingin mayatku dikuburkan, dan jejak-jejakku dimusnahkan, aku tak ingin menjadi sampah, di kepala orang-orang!"; suara seorang musuh yang menjadi teman (atau teman yang menjadi musuh) yang sedang membacakannya; kemurungan serupa abu-abu body motor; sungai Brantas yang tidak terlalu dalam; bekas galian pasir sedalam lima belas meter di Rejotangan; tawa riang seorang anak perempuan berusia dua tahun; wajah muram ibunya; pandangan khawatir mertua; kekecewaan orang tua; anggapan buruk adik-adik; asam urat di sendi jempol kaki; kematian itu berwarna biru Amato Assagaf, yang hanya kuingat pada bagian ini, "Setelah semuanya, aku duduk."; gim ponsel yang menemani setiap malam; joran pancing yang jarang kupakai; cacing merah yang tergantung di kantung kresek sebelah timba; halaman rumah kotor yang belum sempat aku bersihkan; utang lima puluh ribu kepada seorang kenalan; dua hari perjalanan di tanah sepi; bertemu orang bermuka dua; kesakitan saat menghadapi maut; ceramah panjang yang mengutuk tindakan bunuh diri; ban motor bocor saat magrib; lantai merah yang punya corak dengan warna lebih muda pada salah satu catatan; harapan menerbitkan buku; tulisan yang tidak kunjung membaik; lelatu di samping asbak depan televisi yang tidak pernah menyala lagi. Setelah semuanya, aku sampai di muka perahu tambang.
2.716 detik setelah kuingat semua itu, aku hinggap pada debam dada yang tak tertahankan; mata berkaca-kaca seperti pada perjalanan; tangan dan kaki gemetar; perut keroncongan; kopi dingin dikelilingi semut hitam; kitab lupa lantaran memakan semut; kawatir yang belum bisa kujelaskan; keajaiban yang tak kunjung datang; pertolongan yang melambaikan tangan menjauh dari pandangan; kekosongan dalam arti apa pun; penerimaan yang ganjil; mental yang tidak beres; keinginan suram untuk mengakhiri semuanya dalam hitungan 900 detik jam dinding menggunakan tambang benaran.
Aku tidak akan menulis serupa surat wasiat dalam catatan ini, karena setelah semuanya kupikir kau akan beranggapan bahwa aku akan membunuh diriku sendiri. Tidak. Itu mustahil. Aku tidak (atau belum) memiliki keberanian mengerikan itu. Sebab yang sudah jelas, aku sudah mati berkali-kali dibunuh pikiran. Aku akan lebih memilih hidup, diam, dan menunggu maut diam-diam merenggut hidup.
Begitu pula aku tidak menulis catatan ini untukmu. Barangkali aku memiliki lebih banyak waktu dan sekonyong ajaib seperti yang aku harapkan bisa melewati kondisi ini, sehingga barang 26.280.000 detik kemudian aku bisa membaca ulang catatan ini, lalu menutup wajah dengan kedua tangan karena malu.
Sekarang, aku hanya ingin tidur. Sudah 259.200 detik mata ini terus membelalak pada semua kemungkinan, pada tanda-tanda yang barangkali disampaikan alam untuk perubahan. Sementara yang muncul masih hanyalah tanda tangan di atas kertas stiker yang kemudian dibuat main anakku. Juga tanda silang pada puluhan deret kemungkinan yang sudah kudaftar dalam catatan di ponsel. Juga satu-satunya tanda centang pada keajaiban.
Atau barangkali aku tidak butuh jawaban untuk apa-apa dari tanda-tanda. Hanya menerima. Setelah semuanya. Tidak. Aku hanya butuh tidur dulu.
Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.
☕ Traktir kopi