Mencatat cerita orang lain

Saya sudah membahas perihal cerita buruk saya di sini dan saya tidak mau menuliskannya untuk kedua kali.

Menelan pahit kenyataan tidak semudah yang selama ini saya bayangkan. Saya bisa memasukkan hingga tiga pil sekaligus, lalu menelannya seketika tanpa minum air. Namun, pahit kenyataan sama sekali berbeda dengan pahit pil obat.

Bicara tentang kepahitan. Ada pula kopi yang selalu saya pesan dengan kepahitan di atas rata-rata. Kopi murah seharga Rp4.000 per cangkir yang biasa menemani saya di kala waktu-waktu sengsara itu --dan sengsara ini; adalah kopi yang sama yang saya dapatkan dengan cara manipulasi; adalah juga kopi yang sama yang saya jadikan variabel kepahitan di sini.

Pahit kenyataan bahwa tulisan saya benar-benar buruk berada di tingkat yang berbeda di antara semua kepahitan lainnya itu.

Kepahitannya akan tetap terasa meski sudah membilas lidah seharian penuh. Itu tidak akan hilang dengan mudah. Kepahitan yang sistemik. Turut mempengaruhi mental saya yang dari awal memang sudah rentan dan rapuh.

Saya berada dalam dilema yang sama anehnya dengan memilih pancing yang paling cocok untuk saya. Di satu sisi, saya tidak ingin menulis lagi. Di sisi lain, saya tidak ingin menulis yang buruk lagi. Dan apa pula itu... ingin... sumber dari pahit kenyataan yang harus saya sesap dengan lidah ngilu keparat.

Ingin... seperti kata Listanto, adalah sumber penderitaan. Namun, pahit kenyataan dan sumber penderitaan adalah dua hal yang berbeda. Meski keduanya sama-sama sulit saya lalui dengan tertawa riang --kecuali gila. Ya, itu dia, gila adalah salah satu jalan keluar yang paling masuk akal sekarang. Sebuah cahaya lilin di ujung gelepan yang apinya bergoyang-goyang pelan.

Saya perlu agak mendekati cahaya mungil yang nyaris mati itu --mendekati gila.

Dan untuk mewujudkannya, saya akan mengabaikan ingin. Saya sudah tidak (ingin) lagi. Saya tidak akan menulis yang buruk pun yang baik. Sekarang, saya hanya akan mengumpulkan tulisan-tulisan orang lain yang saya anggap baik. Demikianlah.

.
.
.

Aduh... paradoks muncul begitu cepat. Jika saya tidak menulis, maka apa yang sedang sama-sama kita pelototi ini?

Perihal menjadikan blog pribadi penuh dengan tulisan orang lain

Paradoks lainnya adalah bahwa rum.web.id merupakan blog pribadi. Muara yang fitrahnya untuk tulisan-tulisan saya seorang diri.

Kadung demen dengan tulisan orang, saya tidak bisa menahan untuk tidak menuliskan ulang. Mencoba memahami bagaimana kata per kata penulisnya bangun. Bagaimana pemahaman akan terbentuk tatkala kalimatnya sudah lengkap. Dan, akan saya lengkapi pula dengan sumber di mana saya mendapat tulisan tersebut.

Menulis ulang tulisan orang apakah sama dengan membacai tulisan mereka? Jika membaca adalah bercengkerama dengan penulis untuk hasil, maka menulis adalah bercengkerama dengan penulis untuk proses kreatifnya. Misalnya, saat menulis ulang tulisan Amato Assagaf, saya merasai kebuntuan saat melakukannya. Jelas, kebuntuan itu muncul hanya dan hanya jika pengetahuan saya dangkal. Pemahaman saat menulis ulang tulisan dari seorang penulis hanya akan tercapai jika pengetahuan saya lebih tinggi, atau minimal setara.

Kabar baiknya setelah saya tulis ulang beberapa tulisan Amato Assagaf --dan tulisan-tulisan Hari Niskala-- saya tidak lagi ingin untuk memahami. Saya buang itu apa yang kita sebut pengetahuan.

Orang bodoh macam saya pun dapat merasai kenikmatan tersendiri. Merasai emosi ganjil saat menulis ulang tulisan-tulisan penulis betulan. Itu adalah emosi yang dengan cara aneh bikin candu.

Suka mengetik meski hanya omong kosong

Kegemaran saya mengetik entah dari mana datangnya. Ibu saya seorang pedagang kaki lima, begitu pula dengan mendiang ayah saya. Kakek-nenek saya orang desa biasa yang mendapat penghidupan dari memelihara ikan.

Mengetik itu enak. Kita dapat meluapkan emosi yang tertahan dengan bebas. Meski hasil akhirnya hanya jatuh pada tulisan cakar-ayam-carut-marut seperti biasa.

Saking suka mengetik, papan tik Chromebook saya sampai njepat karena saya menerapkan metode ngetik brutal. Mengetik yang sepenuhnya lebih sering dilandasi oleh emosi berwarna merah dan kadang membara. Atau, kadang kala berwarna abu-abu yang sangat murung. Atau, dengan warna lain yang membawa emosinya sendiri.

Jadi... jika saya berhenti menulis sepenuhnya, saya tidak akan berhenti mengetik. Lihat... betapa mengetik, membiarkan ketikan mengetik dirinya sendiri sampai di kalimat ini, sudah berhasil meruntuhkan anggapan yang susah payah saya jabarkan di kalimat awal-awal tadi.

Bahwa pahit kenyataan menulis --atau mengetik-- tidak akan muncul jika yang saya tik --atau tulis-- adalah tulisan orang lain. Di mana saya hanya akan melakukannya untuk tulisan-tulisan bagus yang sudah saya baca.

Apakah saya tidak akan mengetik tulisan saya sendiri (lagi)? Pertanyaan itu hanyalah omong kosong lain yang muncul karena kebodohan saya sudah menjadi kebebalan mirip kerak di dalam batok kepala --jika saya tidak menulis, maka apa yang sedang sama-sama kita pelototi ini?

Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.

☕ Traktir kopi