Isi otak atau isi perut?

Selama toko buku ada, selama itu pustaka bisa dibentuk kembali. Kalau perlu dan memang perlu, pakaian dan makanan dikurangi.

Quote di atas tertuang dalam Madilog, Tan Malaka.

Pesannya barangkali sudah jelas, ya. Bahwa, isi otak lebih penting daripada isi perut.

Perbudakan halus sekarang tidak pakai tongkat besi, melainkan nutrisi.

Guna melumpuhkan semangat komunal, Anda hanya perlu mengendalikan piring.

Beri mereka makanan yang cukup hanya menjaga jantung tetap berdetak, namun tidak cukup membuat otak berpikir mendalam.

Sudah banyak kejadian yang kentara mengerikan. Penyiraman air keras misalnya.

Dengan teknologi yang kian maju, sebenarnya mudah saja bagi penegak hukum menciduk pelakunya, membongkar otak di baliknya.

Hanya saja, apakah mereka berani?

Kita semakin takut bersuara. Takut dicekal di tengah jalan, dipukuli, ditagih utang.

Atau justru sebaliknya...

...ketakutan yang kian raksasa membuat kita kehilangan takut itu sendiri?

Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.

☕ Traktir kopi