Ciri tulisan yang dihasilkan AI, jujur ini bikin agak jengkel

Jika aku hendak menulis artikel menggunakan Artificial Intelligence (AI), barangkali paragrafnya akan dimulai seperti ini:

Di era digital yang banjir informasi, ...

Saking sudah bosannya dengan pembukaan yang dihasilkan AI hanya itu-itu saja, lantas kutulis prompt agar ia mengubahnya menjadi lebih manusiawi, unik, dan menarik.

Hasilnya menjadi seperti ini:

Sebagai produk perkembangan zaman, teknologi merupakan inovasi yang tidak bisa diabaikan, ...

Dan kabar buruknya, beberapa tulisan di blog ini akan Anda temui model-model susunan struktur kalimat yang demikian membosankan.

Tidak semua, tentu saja, hanya tulisan-tulisan yang memang muncul "sekadar ada".

Namun ada kabar yang lebih buruk lagi. Bahwa kemarin kupasang Instagram --media sosial yang sekarang satu rahim dengan Facebook, membuat akun baru, dan mencari quote mancing.

Sial betul, yang muncul justru gambar berisi kata-kata dari penulis-penulis kondang dan sastrawan betulan yang diposting oleh akun penerbitan dan (barangkali juga) penulis di Indonesia.

Ya bolehlah, lihat beberapa kutipan biar pikiran lebih segar, pikirku. Beberapa bentar pikiran itu langsung buyar tatkala membaca caption alias deskripsi postingan.

Sial betul, betul-betul sial. Kujumpai nyaris semua caption Instagram dari mereka itu menggunakan gaya bahasa yang mirip dengan gaya bahasa yang dihasilkan AI.

Bagaimana harus menjelaskannya? Seperti ada gap, sebuah jurang seloncatan namun begitu dalam.

Ciri tulisan yang dihasilkan oleh AI

Jika Anda mencari cara memahami tulisan AI atau ciri tulisan AI, akan muncul listicle yang berisi poin-poin seperti:

  • Tulisan terstruktur
  • Susunan kalimat rapi
  • Repetitif (pengulangan)
  • Sistematis
  • Dan teknis sejenisnya.

Jika kita sengaja menganut ciri-ciri yang demikian itu, secara tidak sadar kita sudah mengelompokkan tulisan-tulisan yang betulan bagus sebagai yang dihasilkan AI.

Malang betul penulisnya.

Jadi di sini, aku akan mencoba menjelaskan berdasarkan pengalaman yang sangat sedikit dalam membaca (dan memproduksi) tulisan AI itu.

1 | Tulisan AI membosankan

Anda akan tahu bahwa tulisan yang dihasilkan oleh AI itu begitu membosankan jika dan hanya jika sering membaca dan memproduksi tulisan tersebut.

Bandingkan tulisan artikel dari blog tahun 2026 dengan blog tahun 2015 ke bawah.

Kita akan memperoleh perbedaan yang sangat jelas. Tulisan blog di tahun 2026 sangat terstruktur dan terasa membosankan.

Membosankan. Benar-benar membosankan karena nyaris tidak ada kesalahan dalam pemilihan kata. Ironis! Kesempurnaan yang begitu malah membawanya pada hasil yang dangkal.

Sedangkan tulisan di blog lawas tahun 2015 atau ke bawah tidak memiliki struktur jelas, isinya lompat-lompat, aih apalagi penggunaan kata tidak baku sembarangan yang diulang-ulang terus.

Kejengkelan karena saking carut-marutnya malah mampu menyentuh sisi emosional kita. Dan kita menyadari kesalahan menulis ternyata ada juga manfaatnya justru setelah ada tulisan berpola dari AI.

2 | Tulisan AI tidak menyentuh sisi emosional manusia

Saking canggihnya pemanfaatan tulisan AI, sekarang bukan hanya artikel di website/blog dan caption media sosial. Komentar di media sosial pun juga banyak yang menggunakan AI.

Meski isinya berisi data-data kuantitatif yang penuh angka, menjelaskan sejarah dan tahun yang jelas, atau seolah bercengkerama dengan pembacanya; namun dengan cara yang aneh tulisan-tulisan itu tidak mampu menyentuh sisi emosional kita.

Sekadar menyampaikan informasi. Tidak sampai mengelus sesuatu yang berada di dada, apa itu? Tetek? Bukan, masih terlalu dangkal. Hati.

Aku tidak menyalahkan penggunaan AI dalam memproduksi tulisan, soalnya aku juga memakainya. Hanya saja, kalau tulisan-tulisan itu digunakan oleh penulis betulan, penerbitan, dan pihak yang berkutat dalam kepenulisan; bukankah tidak ada bedanya dengan menjatuhkan martabat sendiri?

Lho, Anda kan juga pakai AI? Berarti Anda juga menjatuhkan martabat sendiri sebagai penulis? Lho, lho, siapa yang mengatakan aku itu penulis? Haha..., orang ini hanyalah pemancing ikan.

3 | Ciri teknis yang gampang kita kenali

Baca kembali quote pada poin satu. Seiring Anda meningkatkan jam terbang membaca dan memproduksi tulisan AI, sejalan dengan Anda akan memahami ada ciri teknis dari kata-kata umum yang sering digunakan.

Contohnya:

a. Anak kalimat mendahului induk kalimat.

Sebagai produk perkembangan zaman, teknologi merupakan inovasi yang tidak bisa diabaikan, …

Atau

Di era digital yang banjir informasi, …

b. Penegasan yang tidak wajar

AI bukan sekadar alat, ia menjelma sebagai pembantu virtual yang serba bisa...

Atau

Caption media sosial bukan sekadar teks, melainkan sarana membangkitkan emosi...

c. Pengerucutan yang monoton

Semuanya memiliki kelebihan dan kekurangan, termasuk teknologi yang dipakai di seluruh dunia: kecerdasan buatan.

Atau

Semua teknologi punya tujuan yang baik: memudahkan urusan manusia.

4 | Munculnya tanda baca yang sulit ditulis manusia

Lanjut, ada tanda baca, ikon, atau simbol yang sebenarnya sulit ditulis manusia secara manual. Misalnya tanda --, derajat, pangkat, dan sejenisnya.

Kalau ingin menyampaikan informasi teknis tentu membantu.

Namun untuk sebuah artikel yang tidak lama lagi akan dilupakan, menulis terlalu detail dengan custom html dan kode rumit apakah setara?

Kupikir tidak ada blogger yang demikian mau mengeluarkan usaha terlalu keras untuk itu.

5 | Pola berulang

Barangali ini salah satu kelebihanku karena sedikit mempelajari tentang matematika, aku jadi agak peka dengan pola.

Tetapi kesulitan di sini adalah menjelaskan bagaiman pola berulang itu, sih.

Oke, aku mulai dari contoh saja, ya. Lalu kita bedah bersama-sama bagaimana pola itu berulang.

Ini adalah contoh teks pembukaan artikel yang dihasilkan AI (ChatGPT gratisan).

Di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital, kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) semakin akrab dalam kehidupan sehari-hari—termasuk dalam dunia tulis-menulis. Mulai dari artikel blog, caption media sosial, hingga esai panjang, banyak teks kini dihasilkan dengan bantuan sistem AI. Kehadirannya membawa kemudahan dan efisiensi, tetapi juga memunculkan pertanyaan penting: bagaimana cara mengenali ciri tulisan yang dihasilkan AI?

Tulisan buatan AI umumnya tampak rapi, terstruktur, dan informatif. Namun, di balik kerapian itu, sering kali terdapat pola-pola tertentu yang dapat dikenali jika dicermati lebih dalam. Memahami karakteristik tersebut penting, terutama bagi penulis, editor, pendidik, dan pembaca yang ingin membedakan antara karya manusia dan hasil olahan mesin.

Artikel ini akan membahas berbagai ciri umum tulisan yang dihasilkan AI, sehingga Anda dapat lebih jeli dalam menilai sebuah teks di era digital yang semakin canggih.

Hahaha...

Lihat, seperti yang kukatakan pada poin satu sampai empat di atas sekarang terbukti, kan?

Disklaimer: aku hanya menggunakan prompt sederhana dan tool AI gratis.

a. Paragraf pertama

Di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital, kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) semakin akrab dalam kehidupan sehari-hari—termasuk dalam dunia tulis-menulis. Mulai dari artikel blog, caption media sosial, hingga esai panjang, banyak teks kini dihasilkan dengan bantuan sistem AI. Kehadirannya membawa kemudahan dan efisiensi, tetapi juga memunculkan pertanyaan penting: bagaimana cara mengenali ciri tulisan yang dihasilkan AI?

Lihat bagian yang kucetak tebal.

  • Di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital,...
    Mengapa anak kalimat selalu mendahului induk, berengsek!
  • —termasuk dalam dunia tulis-menulis...
    Ada tanda strip, pemisah, atau tanda apalah itu (—) tanda yang tidak bisa kubuat hanya dengan mengetik strip dua kali (--). Sialan, bagaimana pula itu ditulis?
  • Mulai dari artikel blog, caption media sosial, hingga esai panjang, banyak...
    Pola berulang menyajikan beberapa poin yang dipisah dengan koma (,).
  • Kehadirannya membawa kemudahan dan efisiensi, tetapi juga memunculkan pertanyaan penting: bagaimana cara mengenali ciri tulisan yang dihasilkan AI?
    Lengkap sudah, semua ciri yang kutulis sudah masuk ke hasil contohnya tulisan ini.

Anda akan melihat pola yang sama (atau setidaknya mirip) dengan paragraf pertama tersebut di blog-blog tahun 2025 ke atas. Apalagi di blog Auto Generate Content (AGC) yang memang terang-terangan memanfaatkan teknologi AI.

b. Paragraf kedua

Tulisan buatan AI umumnya tampak rapi, terstruktur, dan informatif. Namun, di balik kerapian itu, sering kali terdapat pola-pola tertentu yang dapat dikenali jika dicermati lebih dalam. Memahami karakteristik tersebut penting, terutama bagi penulis, editor, pendidik, dan pembaca yang ingin membedakan antara karya manusia dan hasil olahan mesin.

Masuk ke paragraf kedua, kita otopsi dengan pisau bedah ngawur.

  • umumnya tampak rapi, terstruktur, dan informatif.
    Coba rasakan dengan hati (sesuatu yang tidak AI miliki). AI nyaris selalu menambahkan poin-poin yang dipisah oleh koma (,) dalam setiap paragrafnya.
  • Namun, di balik kerapian itu, sering kali terdapat pola-pola tertentu...
    Lalu dilanjutkan dengan kalimat yang seolah bertentangan, didahului dengan kata "Namun" atau "Tetapi", cek sendiri. Selain itu, ada kesalahan minor di mana "sering kali" harusnya ditulis serangkai "seringkali".
  • Memahami karakteristik tersebut penting, terutama bagi penulis, editor, pendidik, dan pembaca...
    Aih, lagi-lagi poin-poin semacam ini.
  • Seringkali, biasanya, umumnya, dan sejenisnya.
    Muncul kata-kata tersebut terlalu sering. AI sendiri tidak yakin dengan apa yang dituliskannya haha

Dari sini saja Anda sudah mendapatkan kacamata baru untuk melihat mana tulisan AI betulan, tulisan yang menyerupai AI, dan tulisan yang ditulis manusia asli.

Anda bisa membuka jasa tulis artikel AI edited by professional human sepertiku.

Ingin pesan? Murah, kok. Boleh ke sini.

c. Paragraf ketiga

Artikel ini akan membahas berbagai ciri umum tulisan yang dihasilkan AI, sehingga Anda dapat lebih jeli dalam menilai sebuah teks di era digital yang semakin canggih.

Ingat, paragraf ini muncul karena kuminta AI untuk menuliskan pembukaan untuk artikel blog. Hasilnya akan beda jika kuminta menulis untuk caption media sosial. Namun, polanya akan tetap sama, jelas sekali, terang benderang.

Kejengkelan yang muncul secara aneh atas tulisan AI

Di judul artikel ini kutulis kata "jengkel", itu tidak main-main, aku betulan jengkel.

Aku sering melihat website dan blog (bedakan dua hal ini) yang benar-benar memanfaatkan AI terang-terangan. Dan, aku tidak pernah mempermasalahkan itu.

Mengapa? Sebab aku sendiri juga mengelola blog. Tujuan dari pemilik blog itu material, seperti mendapatkan traffic (kunjungan pengunjung), menyampaikan informasi, atau sekadar menambah portofolio yang ujung-ujungnya tetap material.

Sedangkan sesaat setelah memasang Instagram di ponsel, melihat akun penerbit buku dan (mungkin) penulis Indonesia yang menggunakan gaya bahasa mirip AI. Kejengkelan itu muncul.

Kutulis mungkin soalnya aku tidak yakin apakah mereka itu betulan penulis atau sekadar influencer media sosial.

Okelah kalau penerbit buku yang notabene industri dengan tujuan utama keuntungan material. Namun kalau penulis dan sastrawan? Jika benar, sungguh mengkhawatirkan dunia kepenulisan modern ini. Semoga saja hanya sebatas kekhawatiran belaka.

Kalau tidak salah kuingat, pernah kurangkum bahwa tulisan sastra (novel dan prosa) yang ditulis AI sempat berhasil memenangkan lomba. Coba baca ulang di Pendapat pribadi tentang AI generate artikel.

Satu hal lagi yang bikin aku lebih jengkel. Yaitu memanfaatkan AI untuk menulis e-book yang kemudian dikomersialkan dengan label "Cepat kaya" --suatu magnet kuat untuk masyarakat Indonesia.

Astaga, ini bencana yang sesungguhnya, e-book yang seluruhnya berisi tulisan-tulisan berpola sama. Dan sialnya ada yang beli. Dan banyak.

Padahal, pembuatnya hanya mengetik sebuah prompt pendek seperti: buatkan e-book tentang cara cepat kaya dalam 30 hari paling realistis, ambil contoh cerita sukses tokoh dunia. E-book minimal 50 halaman diketik rapi dan disusun sesuai template yang saya kirim. Buatkan juga cover dengan gambar yang relevan. Sesuaikan gaya bahasa yang bersahabat dan mudah dimengerti namun tetap informatif untuk pembaca Indonesia. Enter.

Atau, kalau menggunakan AI yang khusus untuk membuat e-book, pembuatnya cukup mengetik prompt yang jauh lebih pendek seperti: buatkan e-book tentang cara cepat kaya lengkap. Enter.

Sialan!

Mbokya memanfaatkan AI tanpa berkhianat pada nurani

Hadirnya AI bagiku pribadi adalah pedang bermata dua. Satu sisi membabat habis sumber pendapatan yang sampai detik ini aku menaruh dendamn padanya. Satu sisi yang lain kumanfaatkan untuk membantu menulis artikel blog.

Aku tidak menuntut AI menuliskan artikelnya, melainkan menyusunkan apa yang biasa kita sebut sebagai outline atau blueprint.

Menurut hematku, itu tidaklah bertentangan dengan nurani. Toh aku yang menulis isi dari awal sampai selesai.

1 | Untuk blogger

Anda bebas menggunakan AI sebagian atau seluruhnya. Tujuan Anda adalah traffic, pembaca hanya mencari informasi di blog Anda.

Mereka tidak melihat siapa yang menulisnya, entah itu robot atau manusia.

2 | Untuk penerbit buku

Menggunakan tulisan yang dihasilkan AI untuk caption media sosial sejatinya tidak berdampak secara langsung untuk Anda. Bukan berarti tidak ada dampaknya. Aku sebagai warganet yang tidak sengaja melihatnya jengkel, dan itu salah satu dampak jangka panjang nantinya.

Anda bisa meminta AI membuatkan caption lengkap. Kemudian menulis ulang alias rewrite manual agar ada sisi-sisi manusia yang membuat caption itu terasa lebih dekat dengan pembaca.

Lha, Anda kok ngatur? Gak ngatur jingaan, itu saran, Anda abaikan juga tidak masalah.

Aku bukan pemerintah yang mengeluarkan kebijakan wajib belajar 13 tahun padahal pendidikan itu sejatinya adalah hak.

3 | Untuk penulis betulan

Jangan gunakan tulisan AI yang kemudian diklaim sebagai tulisan Anda. Manfaatkan AI untuk sesuatu yang selaras dengan nurani. Itu pun kalau Anda adalah penulis betulan, bukan abal-abal sepertiku.

Biar tidak terkesan omong doang, begini kukasih saran memanfaatkan AI yang baik-baik.

Misalnya nih, Anda lagi menulis novel yang idenya buntu sejak tahun 2024 kemarin. Sampai sekarang belum ketemu secercah cahaya terang berupa ide segar untuk melanjutkan.

Anda tinggal mengunggah sepenggal novel buntung belum jadi itu ke AI favorit Anda, mintalah AI untuk menyarankan lanjutan cerita, ide segar, ide yang barangkali dapat memberi kontribusi positif untuk seluruh dunia sehingga Anda layak dan berhak menjadi salah satu kandidat penerima Nobel Sastra.

Penulis betulan yang menggunakan tulisan AI kemudian diklaim sebagai tulisannya sendiri itu haram, lebih haram daripada makan babi. Nah, loh!

4 | Untuk penjual e-book AI

Niat Anda sebenarnya baik, mencari pemasukan guna melanjutkan penghidupan dan memberi nafkah untuk keluarga.

Betul, aneh saja aku jengkel. Tetapi tidak ada yang salah dengan kelakuan Anda. Tidak ada yang melarang, toh mereka yang beli juga atas kemauan sendiri.

Aku merasa kasian dengan para pembeli yang mendapatkan e-book berisi pola-pola rapi khas AI itu, yang jelas tidak (atau kurang) memiliki kedekatan emosional dengan manusia. Yang jelas bisa bikin sendiri dengan prompt sederhana dan alat AI sederhana pula.

Anda bisa melanjutkan kegiatan berjualan tersebut. Bebas. Hanya saja, aku yakin Anda tidak merasakan gairah dan kepuasan karenanya. Dan jelas pula bahwa Anda bukan penulis betulan.

Akhir kata

Aku tidak benar-benar ingin mengatakan sesuatu dalam artikel ini. Aku hanya berak. Menyampaikan hajat lewat lubang yang sunyi dan gelap melalui tulisan.

Jika Anda melihat ada manfaatnya, boleh diambil itu hasil berakku. Jika Anda hanya melihat keburukan semata, abaikan semuanya. Dan jika Anda hanya melihat semua-muanya merupakan tulisan yang menyudutkan posisi Anda, harap maklumlah!

Sekian.

Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.

☕ Traktir kopi