Alasan Tuhan memberi kita kepusingan menurut budaya Jawa

Allah SWT sebagai Tuhan semesta alam menakdirkan kita memiliki begitu banyak pikiran yang membikin pusing luar biasa ternyata ada alasannya.

Semua pikiran tentang duniawi maupun ukhrawi. Kepusingan tentang keduniawian misalnya diteror debt collector pinjaman online bajingan. Yang seperti tidak ada hal lain yang mereka lakukan selain menghubungi kita dari semua saluran penjuru.

Atau, kepusingan tentang memikirkan betapa sudah hilang kepercayaan orang-orang kepada kita; termasuk kerabat-kerabat, saudara-saudara, anak, istri, bahkan ibu kita sendiri. Belum lagi kepusingan yang jelas-jelas turut mengganggu waktu tidur kita, yang seharusnya bisa tidur dengan hanya memejamkan mata harus didadului dengan mengelap air mata.

Sedangkan kepusingan dari pikiran-pikiran yang bersifat ukhrawi, seperti kekhawatiran bagaimana jika tiba-tiba mati membawa utang segunung?

Nah, guna sedikit meredakan kepusingan yang demikian tidak putus-putusnya itu, kita perlu melihat lagi mengapa Allah menakdirkan kita menanggung semuanya.

Perhatikan nasihat orang Jawa ini:

Kowe ngerti nyapo Gusti Alloh ngekeki kowe okeh pikiran? Gen ora kesurupan. Kowe ngerti nyapo wong-wong iso kesurupan, soal e pikiran e kosong. Kowe kudu bersyukur.

Yang kalau dialihbahasakan menjadi bahasa Indonesia kira-kira menjadi begini: Kamu mengerti mengapa Gusti Alloh memberimu banyak pikiran? Agar (kamu) tidak kesenjaan. Kamu mengeri mengapa banyak orang bisa kesenjaan, sebab pikiran mereka kosong. Kamu harus bersyukur.

Begitulah, penjelasan di atas seharusnya bisa menjawab mengapa kita saat memancing di pinggir kali tengah malam sendirian tidak pernah mendapat gangguan dari makhluk gaib. Kita tidak pernah kesenjaan.

Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.

☕ Traktir kopi