Pagi, siang, malam mancing

Perlu kuingatkan dari awal, bahwa ini adalah tulisan yang tidak jelas.

Kalau kamu percaya, mancing tiga kali sehari jauh lebih sehat daripada makan tiga kali sehari. Siapa pula yang menyarankan makan sebanyak itu dalam sehari? Siapa yang paling diuntungkan kecuali industri makanan?

Ada tiga waktu paling baik untuk mancing, yaitu pagi, siang, dan malam. Biar kujelaskan satu-satu.

Pagi

Pagi saat matahari terbit, manusia harus sudah bangun. Minumlah air beberapa banyak, kemudian mengambil peralatan mancing yang sudah kamu siapkan sejak setelah salat subuh beramaah di masjid terdekat.

Berangkat mancing saja, ke kali atau tempat yang baik lainnya. Jangan ke kolam orang, ini risiko besar. Ada risiko yang lebih besar daripada dihajar pemilik kolam, dihajar malaikat pakai palu gada.

Lihat? Pagi-pagi hari kita sudah sangat baik. Setidaknya, tidak melakukan dosa.

Nah, lantas bagaimana kalau pagi hari aku bekerja? Pertanyaan bagus, biar kujawab pelan-pelan. Bekerja itu mulia, orang yang tidak bekerja tidak punya kemuliaan. Maka, setelah salat subuh berjamaah di masjid terdekat langsung siap-siap bekerja saja.

Kamu bisa mancing di dua waktu lain yang tersisa.

Siang

Sekarang siang. Umumnya siang di kepala kita langsung terbayang matahari bulat yang terang-benderang sejengkal di atas kepala. Siang yang panas-ngentang-ngentang.

Tidak perlu risau apalagi gusar. Siang tetaplah menjadi waktu terbaik untuk mancing, kalau beruntung, awan gelap yang pekat akan datang, mengguyur hujan lebat dan mengusir matahari. Hayo, pilih mana, hujan-hujanan atau panas-panasan?

Tenang, sebenarnya persoalan itu bisa kita selesaikan dengan sangat-sangat sederhana.

Jika cuaca panas, kita mencari lokasi mancing yang teduh. Sedangkan jika cuaca hujan, kita memakai mantel hujan biar tidak terlalu kedinginan.

Kehujanan itu sebenarnya tidak dingin, sudah tak terhitung berapa butir peluru hujan mengenai tubuh saya secara langsung di medan mancing. Yang membikin kita kedinginan sampai menggigil adalah angin.

Alternatif lainnya yang setara kadar baiknya dengan memancing siang adalah tidur.

Kamu tidak salah dengar, tidur siang itu mulia. Dengan tidur, kita tidak melakukan perbuatan dosa yang merugikan makhluk Allah yang lain.

Malam

Di antara ketiga waktu mancing, malam adalah yang paling hening. Cocok untuk berpikir mendalam tentang apa saja, termasuk cara kita berpikir.

Memikirkan masalah saat mancing malam bukan berarti menghindarinya. Justru sebaliknya, kita menghadirkan masalah tersebut, menyambutnya, dan berbincang dengannya dengan cara yang baik-baik.

Misalnya, kamu memikirkan tentang utang yang menggunung, diterror debt collector, dijauhi teman dan kenalan, sampai kehilangan kepercayaan dari orang tua dan anak istrimu. Ini misalnya, lho, ya.

Kamu bisa memikirkannya saat malam. Pun kalau kamu menangis, itu tidak akan menjadi soal. Malam yang gelap dan hitam akan menyembunyikan tangismu di pelukannya.

Barangkali, tangismu akan beradu dengan tangis entitas gaib lain di pinggir kali. Konon katanya perairan itu tempat yang cukup disukai bangsa gaib.

Untung saja, sejak dulu hingga sekarang, dan semoga seterusnya; setiap mancing malam tidak pernah mendapat gangguan dari sesuatu yang gaib.

Hal lain tentang mancing pagi, siang, dan malam

Aku juga perlu menyampaikan satu hal yang teramat penting.

Entah seberapa besar beban di pundakmu, seberapa sering kamu boncos, atau seberapa padat jadwal mancingmu; jangan pernah meninggalkan salat.

Di media sosial kupernah melihat sebuah video yang menampilkan seorang pemancing yang sedang salat di pinggir kali. Video tersebut menggambarkan bahwa salat merupakan sesuatu yang luar biasa.

Bahkan, komentar-komentar berseru dengan kalimat-kalimat kebaikan dan puji-pujian atas apa yang dilakukan pemancing itu.

Wah, ini sudah cukup keblinger.

Perhatikan bahwa salat adalah kewajiban semua umat Islam. Titik. Jadi, seseorang salat itu bukan sesuatu yang luar biasa, itu memang normal, dan wajar, dan bukan menjadi hal yang aneh. Pun kalau orang itu sedang memancing ikan di pinggir kali.

Yang aneh adalah, kita pemancing yang beragama Islam, namun meninggalkan salat saking khusyu-masyuk mancing. Ini baru aneh dan perlu koreksi yang luar biasa.

Atau, jangan-jangan, semoga kusalah dengan hal ini. Fenomena video pemancing yang salat di pinggir kali menjadi begitu unik, menjadi bukti bahwa di alam bawah sadar pemancing menganggap pemancing itu tidak --atau jarang-- salat?

Wah...

Lah, kan salat itu urusan masing-masing? Aduh, sebenarnya tidak, kita sebaiknya saling mengingatkan tentang kebaikan.

Meski aku bukan orang yang begitu baik dan mulia, sih.

Mancing saat hujan badai angin kencang

Setiap pemancing militan pasti pernah merasakan, seolah hidup akan berakhir di pinggir kali saat itu juga.

Rasanya ngeri-ngeri sedap, meski lebih banyak ngerinya daripada sedapnya.

Hujan deras yang bikin jarak panjang ke depan hanya setengah meter, di sekitar warnanya sudah putih-kabut. Ditambah dengan angin kencang, suara pohon rubuh di belakang kita, dan gelegar petir yang menyambar entah di bagian atas mana.

Semua kombinasi itu pernah kurasakan saat mancing di pinggir kali tengah sawah. Dan, kabar buruknya aku sendirian.

Pikiranku mengingat kembali di dompet, apakah bawa KTP atau tidak. Biar jika terjadi apa-apa (aku juga berharap jangan sampai terjadi), jasadku cepat diketemukan, diidentifikasi, dan dikebumikan dengan selayaknya.

Untung bukan kepalang, aku masih diberi kesempatan menulis cerita membosankan ini untukmu. Berarti saat itu aku selamat dari hujan badai angin kecang ditambah gelegar halilintar.

Kalau tahu begitu, kenapa tidak pulang? Pertanyaan ini pasti diajukan oleh pemancing musiman yang dalam darah-dagingnya tidak memiliki jati-diri sebagai seorang pemancing.

Telepon dari bini saja kutolak, apalagi sekadar hujan badai?

Aku cukup bangga dengan hal ini. Hahaha

Kamu para pemancing amateur barangkali tidak memahami apa yang ada di dalam batok kepala pemancing militan sepertiku.

Namun jangan salah, di atas langit masih ada langit, aku mengenal pemancing yang lebih militan lainnya.

Bayangkan, ia berangkat pagi buta, mancing di pinggir kali, satu titik, tidak pindah hingga pagi berikutnya. Alasannya bukan karena di sana ikannya banyak. Bukan. Alasannya hanya karena menunggu teman yang lain yang sedang pulang --tidur sama bininya.

Tidak berhenti di situ, setelah sehari penuh --bahkan lebih-- mancing di sana, ia tidak mengangkat satu ikan pun. Lagi-lagi, kamu para pemancing amateur-musiman mana bisa segila dan se-militan itu?

Tentang cerita tidak jelas di sini

Malam ini kuhanya mau menulis saja, entah runtut atau tidak, entah ada yang membaca atau tidak.

Pikiranku dipenuhi sengkarut.

Banyak blog yang tidak terurus, dan terancam hilang beberapa waktu ke depan. Kabar buruknya, termasuk blog ini.

Tadi sore kutambah rubrik baru, Terkini, yang entah gunanya apa.

Buat apa mengelola blog yang pada akhirnya akan mati? Kucek ulang beberapa blog milik kenalan, semua-muanya sudah hilang.

Ya, sudah. Sebagaimana hidup kita, usia blog yang kita urus pun kita juga tidak tahu. Jika Allah menghendaki filosofish akan tetap ada.

Aku jadi teringat tentang kata-kata seorang teman. Ia mengatakan bahwa aku menulis seperti onani, aku yang melakukan menulis itu, aku pula yang menikmatinya. Sialnya, kata-kata itu dilontarkan oleh ia yang tidak pernah menulis sama sekali. Ironis.

Lalu apa hubungannya dengan tulisan Pagi, siang, malam mancing? Seperti yang kukatakan, ini adalah cerita tidak jelas, jelas?

Aku juga teringat dengan ambisi membara seorang teman yang mengatakan bahwa ia bercita-cita mati muda --seperti Aku bin Atang. Sial betul, sampai sekarang orang itu belum mati.

Sial, sial. Kenapa sekarang aku banyak mengingat masa lalu? Jangan-jangan sudah hampir sampai usiaku? Katanya akan terbayang beberapa ingatan sebelum seseorang mati, kan?

Aku tidak tahu, apalagi kamu.

Dan, tidak ada seorang pun yang tahu. Ungkapan saat kita menjelang ajal akan muncul ingatan, itu didasari oleh penelitian di Frontiers in Aging Neuroscience (yang katanya ilmiah) dari para peneliti tentang life review.

Konon, 30 detik sebelum dan sesudah jantung berhenti, otak manusia menunjukkan lonjakan gelombang gamma yang berkaitan erat dengan fungsi kognitif tinggi, seperti memanggil memori, bermimpi, dan meditasi.

Mari coba kita tanya pada mereka yang pernah mati suri.

Selain pagi, siang, malam mancing

Ada hal lain yang entah mengapa ingin kutulis juga di sini. Yaitu tentang prinsip 3M.

  • M-manjing
  • M-mancing
  • M-mangkring

Prinsip itu merupakan implementasi paling realistis dari apa yang kita sebut life-work balance. Jika kita ubah menjadi skema garis besar dalam sehari, kira-kira menjadi begini:

  • M-manjing (bekerja/pagi)
  • M-mancing (siang-sore)
  • M-mangkring (ngewe, bersetubuh, berhubungan badan dengan bini/malam)

Mantap betul.

Kebutuhan finansial terpenuhi. Makanan batin-ketenangan tercukupi. Dan, nafsu berahi sebagai kodrat dasar manusia juga terlaksana.

Sangat seimbang, kan?

Sayangnya, prinsip 3M tidak berlaku setiap hari, jika:

  • Menganggur
  • Belum kawin/sudah pisah

Tetapi, bagaimana jika orang itu sebenarnya tidak menganggur, bekerja dari jarak jauh, atau malah menjadikan mancing sebagai pekerjaannya? Berarti itu pengecualian.

Ngomong-ngomong tentang pengecualian, aku lagi-lagi (dan lagi) jadi teringat dengan ungkapan Sujiwo Tejo entah di mana tentang matematika. Di mana matematika adalah mengajarkan tentang persamaan --yang disimbolkan dengan sama dengan (=).

Sedangkan pertidaksamaan --yang disimbolkan dengan tidak sama dengan (≠)-- merupakan pengecualian.

Entah apa pula maksudnya, apakah kita harus menjunjung tinggi toleransi, atau apakah kita harus melihat manusia lain sebagai sama-sama manusia? Tak tahu pula aku.

Kalau kamu penasaran, mumpung orangnya masih hidup segera tanyakan saja.

Soalnya, kalau seseorang sudah mati, akan sulit untuk bertanya tentang suatu hal. Kecuali pada orang-oang tertentu yang terpilih.


Nah, kira-kira sekian dulu.

Sial, ini sebenarnya tulisan apa? Sudah dari awal kusampaikan bahwa ini adalah tulisan cerit tidak jelas, jelas?

Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.

☕ Traktir kopi