Harga diri, kelinci jenis apa itu?

Sebatas pendapat pribadi. Tidak lebih.

Sekarang, kita (saya) berada dalam kondisi lingkungan yang menganggap harga diri seorang laki-laki hanya sebatas seberapa jembar lahannya, seberapa mewah kendaraannya, seberapa banyak emas istrinya; dalam arti yang lebih sederhana, seberapa banyak uang yang dimilikinya.

Laki-laki dewasa tidak dipandang apakah dia manusia atau bukan. Hanya dipandang dari status quo belaka.

Namun, untuk menggiring tulisan agar tidak menulis dirinya sendiri dengan nuansa muram. Akan saya lanjutkan dengan ini...

Masih ada lingkungan yang mana laki-laki dewasa tetap dipandang sebagai manusia. Apakah dia punya harta, bukan lagi soal. Misalnya, lingkungan orang-orang yang taat kepada Allah. Dan, barangkali itu bukan lingkungan saya saat ini.

Itulah lingkungan para kiai-kiai sungguhan. Bukan kiai macam syududu yang berada dalam kesesatan nyata itu.

Laki-laki dewasa agar memiliki harga diri, harus memiliki salah satu atau lebih antara ini:

  • Harta
  • Harta
  • Harta
  • Tahta
  • Sosial
  • Ilmu

Saya tulis harta sebanyak tiga kali karena itulah tolok ukur yang paling utama.

Jika Anda hanya memiliki utang, pengangguran, tidak mampu bersosial, dan bodoh --yang semuanya agaknya tepat untuk saya--, maka jangan harap mendapat kelinci yang disebut harga diri itu.

Mari kita berbaring di bawah keset, memeluk bau kaki keparat orang-orang. Atau, tidur di bawah tanah bersama cacing-cacing yang digunakan kaum borjuis untuk memancing.

Kita tidak lagi memiliki hak apa-apa selain bernapas.

Jadi...

"Ibu, janglah engkau meneteskan air mata lagi sambil bertanya 'di mana harga diri anak laki-lakiku' kepada orang-orang berengsek itu, saya tahu betul kondisi sekarang tidak perlu menuntut apa-apa. Hanya menjalani hidup, hanya bernapas, sembari beribadah dan memohon agar saya tidak mati dalam kondisi berutang. Itu saja." ...kata sesuatu dalam diri entah apa.

Orang-orang melihat laki-laki dewasa dari hartanya, kecuali ibu.

Orang-orang menghormati mereka yang berada, kecuali ibu.

Oya, apakah Anda tahu asal muasal istilah orang berada itu? Tidak, itu sama sekali bukan eufemisme. Sudah tampak terang benderang itu untuk memperjelas gap antara si kaya dan si miskin.

Mereka yang memiliki harta melimpah disebut orang berada. Sedangkan mereka yang tidak memiliki apa-apa selain nyawa, dan nyawa itu pun hanya titipan disebut...

...tidak ada sebutannya, karena memang orang tidak ada. Orang yang tidak terlihat. Yang tidak dilihat orang lain.

Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.

☕ Traktir kopi