Mencatat asam urat 2
Padahal, tiga hari ke belakang aku nyaris tidak makan apa-apa. Beberapa masih bisa aku absen dengan jelas; tiga hari lalu nasi pecel, dua hari lalu bakso, hari ini air putih. Itu jenis makanan (dan minuman) yang seharusnya tidak memunculkan asam urat.
Kalau menengok ke belakang, asam uratku muncul jika dan hanya jika mengkonsumsi camilan. Kau tahu? Camilan yang memiliki bumbu dalam kadar tak tertakar. Sesuatu macam itu sangat ampuh mengundang asam urat daripada dua puluh tusuk sate kambing Pak Kuwat.
Dan aku menyadari hal penting. Di sendi mana pun kemunculan asam urat, itu tidak akan menghalangi dalam melakukan gerakan salat!
Pun itu di sendi jempol kaki kiri atau kanan, tidak akan; pun di pergelangan kaki kiri atau kanan, tidak akan.
Mengatur kemunculan asam urat di luar kendaliku sebagai manusia biasa. Yang terbukti senyata-nyatanya penyakit macam ini pun tetap tunduk pada ketentuan ilahi.
Asam urat hanya membatasi jalan, tidak mampu membatasi ibadah. Dia seolah memiliki kesadarannya sendiri. Dia enggan dijadikan alasan tidak sembahyang saat hari penghakiman. Untuk kondisi yang cukup mengkhawatirkan, jalan menuju kamar mandi yang terbatas untuk bersuci dengan air pun dapat diganti dengan debu.
Sementara itu, hingga sekarang apa yang menyebabkan linu di pergelangan kaki kanan belum jelas kuterawang. Mungkin makanan, bisa jadi diduduki hantu saat tidur di luar.
Terjebak di WC
Asam urat di pergelangan kaki kanan memaksaku menenggak tiga kapsul obat entah apa. Catatan ini kulanjutkan di WC karena aku belum bisa keluar dari sini sejak 45 menit lalu sementara dengkul kaki sudah mulai kesemutan.
Rasa-rasanya kurang keren meminta bantuan dengan berteriak untuk membopong keluar dari WC. Hai diri, kita tidak perlu terburu-buru. Mari lakukan perlahan sebagaimana saat bocah usia setahun belajar berjalan.
Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.
☕ Traktir kopi