Kecoak dan kupu-kupu

"Jika kau membunuh kecoak, kau adalah pahlawan. Jika kau membunuh kupu-kupu, kau adalah penjahat."
Kutipan tersebut sering dikaitkan dengan filsuf nihilisme paling penting, Friedrich Nietzsche, yang oleh manusia biasa seperti kita, dapat kita artikan sebagai moralitas memiliki standar estetika.
Serangga yang jelek layak mendapatkan perlakuan yang jelek pula. Meski sama-sama serangga, kupu-kupu yang indah, seolah layak mendapatkan label perlakuan yanglebih baik. Ada semacam bias moralitas yang terang-benderang di sini.
Siapa pula dari kita melihat kecoak --dengan alasan apa pun-- menaruh rasa cinta dan kasih serupa melihat kupu-kupu? Kita akan lebih maklum kepada yang 'terlihat' indah meski melakukan kesalahan.
Kutipan di atas cukup populer, disampaikan dengan berbagai bahasa dan pembahasan, entah berasal dari filsuf dengan palu sungguhan, orang bijak dari Tiongkok, atau seorang kasir jelek di media sosial yang selalu mendapat perlakuan tidak setara dengan kasir cantik yang ideal. Barangkali asal-usulnya memang tidak penting. Yang penting adalah mengapa kalimat sependek itu terasa begitu benar. Aku pun tak ambil pusing dengan memikirkan sumber kutipan.
Aku akan lebih suka menuju ke dapur malam hari. Lantas, menyalakan lampu untuk melihat serangga-serangga kotor dan jelek itu terbirit-birit melarikan diri. Di sana, membunuh kecoak adalah tindakan paling tidak bermasalah yang bisa kita bayangkan.
Lain cerita saat aku tidak sengaja menemukan taman bunga. Terbang banyak kupu-kupu warna-warni yang justru dengan cara ganjil membuat kita merasa perlu melindungi.
Andaikan, serangga dapat memilih untuk dilahirkan menjadi apa; niscaya spesies kecoak tidak akan pernah muncul di muka bumi ini. Setiap dapur yang kotor akan memiliki selusin kupu-kupu. Setiap taman akan memiliki lebih banyak darinya.
Hal serupa juga berlaku untuk jenis hewan pengerat. Menembak mati tikus pada malam hari membuat kita merasa menjadi pahlawan yang melakukan kebenaran karena berhasil melindungi sumber daya dari maling. Tetapi, menembak mati hamster yang notabene sama-sama hewan pengerat akan membuat kita merasa begitu jahat. Bagaimana mungkin ada manusia yang terlalu tega menembak hewan selucu itu?
Mungkin kau menganggap bahwa fitrah hewan-hewan kotor memang begitu. Sayangnya, antara kecoak dan tikus, tidak ada yang sungguh-sungguh berniat mengganggu kehidupan damai manusia. Mereka memiliki kehidupan untuk berada di tempat itu, juga mengambil peran yang seolah-olah buruk dan menjijikan.
Sehingga menggunakan kerangka tersebut, kecoak hanya akan berkembang biak di suatu tempat kotor yang sebenarnya kita sebagai manusia menciptakan kekotorannya itu sendiri.
Oleh karenanya, sungguh, saat masuk ke dapur, aku tidak pernah berniat untuk melempar tikus-tikus yang berlarian dengan sandal. Atau, menginjak kecoak yang tidak bergerak di depanku meski aku memiliki seribu kali kesempatan melakukannya.
Analogi kecoak dan kupu-kupu yang terlalu dekat dengan kehidupan kita
Sialnya, kutipan tadi tidak serta-merta berhenti pada serangga semata. Aku dan kau bisa menjadi salah satu kecoak bernasib buruk. Apalagi jika mengambil peran sebagai pedagang kaki lima yang merusak keindahan kota, pengamen di bus yang menyebarkan polusi suara, orang gila yang melakukan perjalanan menuju entah, atau warga negara kurang beruntung yang terpaksa tinggal di bawah kolong jembatan sehingga gubuknya perlu dirobohkan untuk penertiban. Bersikap tidak sopan kepada pemegang peran-peran 'kotor' itu dinilai layak untuk dilakukan. Sedangkan, kupu-kupu adalah seorang guru atau dosen. Yang bagaimana pun, meski sama-sama serangga, mereka menjalankan peran yang lebih baik untuk memberikan ilmu pengetahuan sebagaimana kupu-kupu melakukan penyerbukan. Yang karenanya perlu penghormatan setinggi langit.
Lagi, istilah penertiban sendiri kelewat menarik. Bagaimana mungkin pekerjaan penyingkiran paksa terdengar mulia seperti merapikan baju yang lusuh? Sayangnya memang begitu, tak beda dengan membunuh kecoak, penertiban dirayakan sebagai kebaikan umum, dan orang yang menjalankannya merasa menjadi pahlawan kebersihan.
Tentu kita sudah tidak asing atas banyaknya fenomena ganjil di negeri ini. Salah satunya pengurangan hukuman yang berlebihan hanya karena pelaku kejahatan berkelakuan sopan; mereka jugalah kupu-kupu. Kesopanan dan keindahan, dengan keajaibannya, mampu memberi maklum untuk kupu-kupu jahat.
Sisi lain kecoak dan kupu-kupu
Baiklah, sekarang sudah lewat tengah malam dan aku harus segera menyelesaikan catatan ini untuk tidur.
Nyatanya, bahasa kita sendiri menyimpan ironi yang lebih rumit. Misalnya, istilah indah 'kupu-kupu malam' yang justru digunakan untuk menghaluskan sekaligus menyisihkan. Mereka ini secara harfiah disebut sebagai kupu-kupu, tetapi nyatanya mendapat perlakuan serupa kecoak yang perlu ditertibkan.
Yang lebih rumit lagi, kupu-kupu sungguhan, benar-benar serangga, sangat mungkin menjadi korban karena keindahannya. Kupu-kupu yang indah sampai hari ini diburu, diawetkan, dan dijual sebagai suvenir.
Secara ekologis, kecoak sungguhan di hutan, di antara serasah dan kayu lapuk, ikut mengurai bahan organik dan menjadi mangsa bagi banyak hewan lain. Mereka bukan pengacau, melainkan bagian dari jaring kehidupan yang sama dengan kupu-kupu. Yang disebut 'hama' lahir dari pertemuan manusia dengan makhluk itu di tempat yang kita buat sendiri, dan seringkali dengan cara kita membiarkan sampah menumpuk.
Agaknya, kita dapat mengambil semacam pelajaran dari kecoak dan kupu-kupu, meski ironisnya, sepertinya tidak ada yang bisa kita ubah. Bahwa orang yang kita anggap mengganggu kerap muncul karena sistem yang dibiarkan timpang. Ada banyak contoh, misalnya lapangan kerja yang sempit, harga tanah yang mahal, kota yang dirancang untuk yang mampu. Menyalahkan kecoak-kecoak tadi jauh lebih mudah daripada memeriksa dapur kita sendiri.
Pada akhirnya, setelah semuanya, aku tak hendak mengajakmu untuk mengusir kecoak dari rumah. Kau sah-sah saja membunuh kecoak dengan cara paling menyiksa sekali pun. Menjaga kesehatan keluarga adalah hal yang wajar dan tidak semua pembasmian adalah kekejaman.
Namun, yang ingin kuperiksa tidak lain yaitu perasaan di baliknya. Apakah akan muncul rasa bahwa kita pasti benar? Rasa jijik yang kita anggap sebagai pertimbangan moral?
Jijik itu emosi yang bisa menipu. Terasa seperti kebenaran padahal seringkali hanya kebiasaan. Jika kita tidak waspada, kita akan menggunakannya untuk menilai tidak hanya serangga, tetapi juga tetangga, kelompok, bahkan bangsa lain. Tentu, kita tidak ingin seperti pemerintah melakukannya, kan?
Lain kali sandal sudah terangkat di dapur, kita boleh tetap memukul. Tetapi baiklah kita bertanya pada diri sendiri dengan jujur, terutama ketika yang kita hadapi bukan lagi serangga. "Siapa yang sedang kusebut hama, dan apakah itu karena dia merugikan, atau karena dia hanya tidak enak dipandang?"
Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.
☕ Traktir kopi