Begitu dekat, memayu hayuning bawana

Tidak kurang jika kusebut membersihkan halaman rumah adalah laku memayu hayuning bawana. Dan kabar baiknya, untuk menerapkannya tak butuh sumbangsih pemerintah. Kau bisa mengerjakannya setiap pagi. Kalau perlu, boleh dua kali ditambah sore hari. Dengan atau tanpa sampah di halaman rumahmu.

Seseorang yang dengan sadar membersihkan rumah memenuhi ketiga pilar dalam memayu hayuning bawana, hubungan dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam. Serta selaras dengan tujuan luhur memperindah dan melestarikan dunia.

Sedangkan dalam kerangka falsafah ngelmu iku kalakone kanthi laku nyatanya tak ada yang langsung menjadi ksatria dalam semalam. Perlu adanya sesuatu yang sering kusebut perjalanan menuju. Bahkan, para begawan pun masih berjuang untuk mati sajroning urip.

Dan pertanyaan yang selama ini berkelindan di kepalamu tentang akan jadi apa aku itu tidak melulu butuh jawaban sekarang. Menunda, kadang-kadang ada baiknya juga. Jika kau ingin makan mi ayam sedang belum lapar, maka kau bisa menundanya. Atau, jika kau ingin merokok sedang belum punya duit, maka menunda lebih mulia daripada utang di warung.

Leluhurku bilang padaku dalam nepsu ketika sebuah jamuan kopi dan gorengan bahwa nafsu tidak harus dimusnahkan. Karena akan lebih tepat jika dikendalikan. Kau boleh makan mi ayam asal dapat mengendalikannya agar tidak membuat perutmu kekenyangan. Seiring berjalannya waktu dalam perjalanan tersebut akan kau dapati jawaban yang selama ini kau harapkan.

Menggunakan kerangka catur nepsu untuk mencapai laku ksatria, makanya dapat kau mulai dengan bangun pagi lalu membersihkan halaman. Awali dengan basmalah atau doa-doa keselamatan, bersihkan halaman dengan gerakan sadar, akhiri dengan membakar sampah. Yang terakhir akan menghangatkan badanmu, juga batinmu di pagi hari itu. Membersihkan halaman rumah di depan matamu perlu didahulukan sebelum kau menyelamatkan dunia sebagai seorang pahlawan.

Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.

☕ Traktir kopi