Mencatat menulis e-book
Setelah menyelesaikan sebuah e-book tentang melunasi utang, aku berpikir bahwa seharusnya aku bisa menulis lebih baik lagi daripada itu. Meski tulisanku dalam e-book itu tentu saja lebih baik daripada kebanyakan e-book yang dihasilkan dalam beberapa menit oleh AI. Dengan tegas kukatakan agar dapat terpatri di batok kepalamu sekalian, bahwa tulisan AI tidak memiliki kedekatan dengan manusia.
Dan surup ini, secara aneh, tiba-tiba aku teringat idolaku, Amato Assagaf, dalam sebuah wawancara panjang hampir satu jam. Kalau tidak salah kuingat, dia menyebut sebuah nama, Sapardi Djoko Damono, yang mengatakan bahwa sajak yang paling saya sukai adalah sajak yang belum saya tulis.
Itu bisa menjadi jawaban mengelak jika suatu waktu aku terkenal, berada di sebuah forum, dan dilempari sebuah pertanyaan buku Anda yang mana yang paling Anda suka? Maka, dengan gampang aku menjawab bahwa bukuku yang paling kusuka adalah buku yang belum kutulis.
Di suatu tempat, sekitar 2.500 tahun yang lalu, seorang tua bernama Laozi menuliskan kalimat pertama dari Tao Te Ching: Tao yang bisa diucapkan bukanlah Tao yang abadi. Nama yang bisa disebutkan bukanlah nama yang kekal.
Laozi tahu tentang paradoks itu, bahwa dengan menuliskannya, dia sudah melanggar prinsipnya sendiri. Sebab begitu sesuatu dikatakan, itu bukan lagi sesuatu yang utuh. Hanya jadi satu versi. Semacam bayangan dari sesuatu lain yang jauh lebih besar.
Aku telah berdiskusi dengan bayangan yang hampir pudar surup ini untuk menjelaskan makna Laozi dengan sedikit lebih sederhana. Seperti saat aku menggunakan kata surup, maka pagi dan siang hilang. Hal itu juga bisa dipahami lewat kayu yang masih berbentuk batangan pohon. Ketika itu berubah jadi meja, kayu bukan lagi kursi. Atau, saat menjelma sebagai papan penyangga liang lahat, kayu bukan lagi meja. Kayu mengandung segala kemungkinan hanya ketika itu masih menjadi batangan pohon.
Sehingga, jawaban mengelak tidak sepenuhnya menghindar untuk tidak menjawab. Cerita lawas dalam Zen Buddhisme memiliki cara tersendiri untuk memahami itu. Kiasan yang sangat terkenal sampai sekarang, tentang cangkir penuh, tetapi aku lebih suka menganggapnya sebagai seloki karena sebuah alasan. Buku yang berhasil ditulis adalah seloki penuh. Sedangkan seloki kosong tak bedanya dengan kertas kosong yang terisi semesta kemungkinan tak hingga.
Karena alasan itu pula, saat kupilih judul "Tidur Pulas, Utang Lunas", ada puluhan, mungkin ratusan judul lain yang teronggok diam. Kau boleh mengira-ngira judul itu berasal dari sebuah puisi Wiji Thukul berjudul Aku menuntut perubahan; dan kau tidak akan keliru. Dan sekarang, judul itulah yang eksis.
Jawaban bukuku yang paling kusuka adalah buku yang belum kutulis dalam kerangka Sartre itu tidak eksis, tidak bisa dikatakan ada dalam pengertian yang penuh. Buku yang belum ditulis tidak memiliki kehadiran di dunia, tidak bisa dibaca, tidak bisa dirasakan, tidak bisa mengubah siapa pun. Hanya saja, Plato percaya bahwa dunia yang kita lihat hanyalah bayangan dari dunia ide yang sempurna --yang benar-benar nyata adalah yang ideal, bukan yang material. Maka dalam kerangka Plato, buku yang belum ditulis justru lebih nyata karena masih dalam bentuk ideal. Buku itu belum dikotori oleh keterbatasan bahasa, keterbatasan kertas, dan yang paling sering keterbatasan penulisnya yang sedang dilanda sengkarut.
Dan untuk memahami Sapardi berdiri di antara Plato dan Sartre, perlu kutulis ungkapannya dengan lebih lengkap begini.
Sajak yang paling saya sukai adalah sajak yang belum saya tulis. Kalau saya sudah suka, saya berhenti nulis. Untuk apa? Saya selalu berpikir kalau saya harus membuat sajak yang lebih bagus lagi. Itu dorongan bagi saya dan itu tidak pernah selesai sampai sekarang.
Jika terpaksa ingin menggunakannya dalam konteks buku, maka kita dapat mengubahnya secara serampangan menjadi begini.
Buku yang paling saya sukai adalah buku yang belum saya tulis. Kalau saya sudah suka, saya berhenti nulis. Untuk apa? Saya selalu berpikir kalau saya harus menulis buku yang lebih bagus lagi. Itu dorongan bagi saya dan itu tidak pernah selesai sampai sekarang.
Ada semacam perasaan optimis untuk bisa menulis yang lebih baik. Aku juga ingin memelihara perasaan itu. Kadang, kucoba menggapai langit untuk menangkap ide-ide yang bergelantungan di sana. Mengubahnya dengan kata-kata pilihan, lalu menuangkan dengan kompromi terhadap semua keterbatasan.
Memelihara perasaan optimis agaknya bisa kita benturkan dengan Dasein-nya Heidegger yang kalau sekonyong kita sederhanakan menunjukkan keberadaan manusia yang selalu dalam perjalanan. Manusia selalu menuju sesuatu, dalam sebuah perjalanan yang mustahil selesai sampai kematian tiba. Anggapan tulisan sendiri buruk dan keputusan kekanak-kanakan untuk berhenti menulis tidak lain adalah bagian dari perjalanan menuju itu. Sebab, selesai menulis buku sama dengan ketidakselesaian. Itulah satu-satunya kondisi yang memungkinkan seorang penulis tetap hidup sebagai penulis.
Sehingga, kalau-kalau suatu waktu aku terkenal, berada di sebuah forum, dan dilempari sebuah pertanyaan buku Anda yang mana yang paling Anda suka? Maka, dengan gampang aku sederhanakan menjadi, buku yang kutulis setelah ini.
Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.
☕ Traktir kopi