Mencatat blogging

Sebenarnya saya tidak ingin menggunakan istilah asing, seperti blogging.

Namun kita sepakati saja dalam catatan ini bahwa blogging yang nantinya kita tulis blogging (tanpa miring) adalah kegiatan mengelola blog. Sedangkan blog (menurut KBBI VI daring) adalah catatan harian atau jurnal pribadi di internet yang dapat diakses oleh siapa saja.

Entahlah... saya jadi kebawa meniru Amato Assagaf dalam menulis judul blog-nya. Seperti rumus mencatat + topik. Judul yang sederhana dan mudah dipahami, namun lain cerita dengan menuliskannya.

Blogging sudah saya mulai sejak 2012, tujuannya untuk mencotek. Sebab, dulu informasi di internet masih terbatas. Jika memasukkan materi tentang ujian ke blog sendiri, akan lebih cepat mendapatkannya.

Begitulah... perjalanan blogging ini bisa menjadi teramat membosankan. Tidak ada yang benar-benar saya dapatkan. Atau sebenarnya ada, tetapi sangat sedikit. Memiliki tempat semua tulisan carut-marut-cakar-ayam bermuara, misalnya, sebagian dari manfaat kecil tersebut.

Di tahun-tahun berikutnya, orientasi blogging berubah. Yang semula fitrah untuk menulis. Menjadi terkontaminasi dengan racun pikiran para blogger (orang yang melakukan blogging) dengan mencari traffic.

Aih, dua istilah asing lagi, blogger dan traffic.

Bisalah untuk bagian traffic kita ubah menjadi kunjungan. Kunjungan yang dilakukan oleh pengunjung atas blog kita sudah seperti jantung blogging itu sendiri. Jika dalam jurnalistik, kunjungan itu sama dengan data. Siapa pun yang memilikinya dapat membanggakan diri.

Dampaknya, harus tunduk pada aturan optimasi mesin pencari yang sejati-jatinya tidak ada yang baku sama sekali. Semuanya omong kosong, disetir oleh pengaya (plugin) optimasi yang kian hari kian raksasa. Para blogger memiliki ketergantungan menggunakannya. Mereka ketergantungan pada omong kosong yang katanya lebih mudah.

Alasannya, satu-satunya yang berpengaruh apakah tulisan Anda muncul di mesin pencari adalah otoritas domain itu sendiri.

Apakah Anda pikir media pemberitaan besar macam Kompas, Tribunnews, dan seterusnya menggunakan pengaya optimasi mesin pencari? Tidak. Mereka hanya memiliki otoritas, kewenangan, kekuasaan, atau apa pun Anda menyebutnya.

Blogging dengan begitu serupa kehidupan manusia.

Guna mendapat otoritas tersebut, Anda perlu memiliki relasi dengan manusia dengan pangkat yang lebih tinggi. Otoritas suatu domain web turut meningkat jika terhubung dengan situs web yang lebih tinggi. Tidak ada bedanya.

Setelah mendapat otoritas, Google --sebagai mesin pencari paling populer di dunia-- akan turut mempercayai domain web itu. Memperbolehkan tulisan keluar dari sana muncul di halaman hasil pencariannya. Halaman pertama, tentu saja. Dan tulisan yang bagaimana pun juga.

Analogi ini mudah dipahami. Sebab, sangat relevan dengan kehidupan manusia di mana pun berada.

Jika Anda sudah memiliki pangkat atau kekuasaan, kentut yang keluar dari lubang silit Anda akan tetap didengarkan dengan khidmat oleh khalayak. Berbeda dengan orang yang entah dari mana asal-usulnya, datang dari bawah kolong jembatan atau keluar dari retakan batu besar, berbicara panjang lebar yang dibarengi data dan teori akurat, akan tetap diabaikan oleh khalayak.

Begitulah kondisi blogging yang sekarang.

Para blogger terlalu sibuk meningkatkan otoritas dengan jalan apa pun. Menjilat web-web besar agar bisa bergandengan tangan untuk tujuan kenaikan. Tidak jauh berbeda, atau malah sama persis dengan kelakuan banyak pejabat di suatu negeri?

Ya, saya tahu, tidak semua blogger melakukannya sebagaimana tidak semua pejabat itu buruk. Hanya saja, mencari yang benar-benar memiliki tujuan fitrah untuk blogging sangat sulit. Nyaris tidak ada.

Sejak 2019 saya berkecimpung dengan menawarkan jasa optimasi mesin pencari tersebut, sehingga menelurkan kegelisahan dalam apa yang sedang Anda pelototi sebagai Mencatat blogging ini. Yang jelas, saya menuliskannya sebebas-bebasnya tanpa terikat oleh optimasi tersebut. Yang tujuannya memang bukan otoritas, bukan pula kunjungan. Entahlah, apa tujuan saya menulis ini pun juga tidak jelas. Namun kalau dipaksa memberi tujuan, biar ini saja: saya ingin merasakan kelegaan menuliskan kegelisahan.

Kelegaan yang sederhana saja. Seperti lega sehabis menyampaikan hajat di atas mulut kakus.

Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.

☕ Traktir kopi