Mencatat hari ini
Hari ini dompet kosong, yang sebenarnya kosong. Di saku hanya ada tisu untuk mengelap ingus, juga air mata --karena kelilipan. Aku keluar mengendarai motor yang nyaris kosong pula itu minyaknya.
Kekosongan rasanya ringan. Tidak ada yang perlu kujaga mati-matian. Aku menyerahkan semuanya kepada Allah. Ini agak beda dengan menyerah secara harfiah, menyerah yang barangkali ada di pikiranmu. Menyerah yang ini tidak sebenarnya menyerah. Masih ada semacam usaha dan harapan (dengan doa-doa, tentu saja) untuk mengubah kehidupan menjadi lebih baik --menurut definisi umum saja.
Kekosongan bisa menjelma jadi berat kalau minyak di tangki motor itu kosong betulan. Untungnya tidak.
Dan air mata. Belakangan aku sering berjumpa dengannya. Terutama setelah melihat video pendek dari iklan yayasan penggalangan dana yang benar-benar menampilkan kesedihan. Sehingga dalam catatan ini, kalau bisa aku tidak hendak membahas perihal air mata.
Mengendarai motor orang lebih berat daripada motor sendiri. Itu masih patut disyukuri daripada berjalan kaki. Sebab, menempuh tiga puluh lima kilometer dengan jalan kaki bukan sesuatu yang bisa dianggap ringan oleh orang dangkal sepertiku.
Selama perjalanan yang sebentar itu, aku melihat cukup banyak hal biasa yang justru terasa menarik karena kekosongan ini. Aku melihat sebuah masjid megah berwarna kuning menyala dengan dua buah menara di sisi kiri dan kanannya. Sedang di depan masjid ada dua orang penjual pentol; satu penjual memakai kopiah sambil merokok, satunya duduk di bangku menenggelamkan kepalanya di antara kaki.
Aku juga melihat seorang anak seusia anakku, sekitar dua setengah tahun, duduk di bagian depan motor yang dikendarai bapaknya dalam kecepatan tinggi. Duh, rasanya ingin menampar tengkuk bapaknya itu sambil mengatakan bahwa anaknya merem-melek karena kena angin.
Di seberang jalan ada penjual minuman cokelat kekinian yang tengah mengeluarkan barang dagangannya dari bagasi Fortuner. Aku tahu dia berjualan hanya untuk mengisi waktu luang. Sedang lima puluh meter di sebelah utara ada penjual minuman serupa yang memandangi mobil penjual sebelumnya.
Aku juga melihat orang gila yang lusuh dengan kuku tangan dan kaki sangat rapi. Aku curiga dia bukan orang gila yang sebenarnya. Dan aku lebih curiga bahwa orang gila yang sebenarnya adalah aku yang melihat-lihat orang-orang beraktivitas dengan kekaguman.
Beberapa waktu setelah perjalanan menyusuri aspal yang kian berlubang, aku sampai di sebuah rumah. Di sana aku melihat perempuan yang semakin tua dengan senyuman yang masih hangat. Aku melihat ibuku dalam balutan terusan panjang dan kerudung yang itu-itu saja.
Aku masuk rumah dan menemukan aku di sebuah cermin. Wajahnya muram dan kosong, pikirannya penuh pertanyaan yang belum terjawab --dan barangkali tidak membutuhkan jawaban. Aku mewanti-wanti kepadanya agar bersabar sedikit lebih lama. Dia mengangguk dan aku percaya dia mampu melakukannya. Bagian tersulitnya adalah mewanti-wanti kepada istri dan anaknya untuk melakukan hal sama.
Malam menjadi begitu berisik karena layangan gapangan yang dipanjer. Sendaren layangan itu mengeluarkan suara mirip raung meski agak lembut. Beberapa layangan membentuk simfoni lengkap dari atas langit. Kalau kau tidak waspada, bisa menganggap kerlip warna-warna berbentuk setengah lingkaran itu adalah benda asing yang belum teridentifikasi, semacam pesawat alien. Baik layangan maupun pesawat alien, sebenarnya sama-sama mainan orang desa. Tidak lebih.
Aku kembali masuk rumah setelah habis setengah bungkus rokok hasil genduri orang mati. Udara dingin ditambah batuk yang tak kunjung mereda membuatku berhenti pada batang kelima. Aku berbaring di dipan reyot dan melihat kunang-kunang yang mengantarkan pada tidur.
Memejamkan mata malah membuatku melihat dunia berputar. Persis dengan apa yang dirasakan para pemabuk setelah dua-tiga botol anggur kosong. Aku cukup menikmati putaran-putaran itu sambil membayangkan gempa dan tsunami yang meratakan seluruh dunia yang didahului petir biru menyambar para maling uang rakyat berkali-kali hingga tak tersisa.
Dalam kekosongan yang semakin gelap itu, aku melihat semburat wajah bercahaya anak perempuan usia dua setengah tahun yang menjadi alasan untukku tidak gila sekarang. Aku mendengar suaranya yang begitu nyata, juga sentuhan jemari kecil yang menggenggam telunjukku saat dia mengajak menuju suatu tempat.
Aku melihat semuanya. Aku juga melihat diriku sendiri sedang tidur di dipan reyot. Memeluk dengkul dan terisak.
Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.
☕ Traktir kopi