Bertanya kepada sandal

Seperti biasa, aku sedang duduk menghadapi Chromebook yang masih sama --tiga huruf papan tiknya njepat. Bedanya, aku duduk teras rumah orang tua.

Kupikir aku sudah cukup berusaha memperbaiki kehidupan. Sepertinya belum cukup. Masih ada begitu banyak perjuangan yang hanya aku gantikan dengan kemalasan dan rebahan yang jelas-jelas tidak ada artinya selain menambah linu di pergelangan tangan memegangi HP berjam-jam.

Kupikir mengirim belasan surat lamaran pekerjaan dalam waktu seminggu itu juga merupakan semacam perjuangan. Ternyata bukan. Sama sekali bukan perjuangan karena dari belasan yang tadi tidak ada satu pun yang menetas menjadi pekerjaan yang sebenarnya, setidaknya itulah yang berada di pikiran istriku.

Tidak ada orang luar yang menganggap usaha sebagai perjuangan selama itu belum membuahkan hasil. Bambu di depan rumah itu juga tahu. Hanya segelintir orang yang menganggapnya pohon. Sebab bagaimana pun, bambu mustahil berbuah, dan pohon yang tidak berbuah bukanlah pohon.

Jika aku adalah bambu, maka aku adalah bambu yang terlalu sayang dengan ginjal. Bambu akan memberi manfaat jika dimanfaatkan batangnya. Lain tidak. Apakah aku harus menjual ginjal untuk mendapatkan pengakuan bahwa aku selama ini berjuang?

Salah satu video dari ratusan yang kutonton selama sore sampai malam ini di Facebook, menampilkan budayawan yang mengatakan bahwa penderitaan masyarakat Indonesia, termasuk yang sedang aku alami, tidak ada sekelingking penderitaan Rasulullah. Kau akan janggal saat membaca kalimat barusan. Itu karena kehidupanmu tidak berada dalam penderitaan yang setara denganku. Sebab, setelah menimbang-nimbang ternyata ada benarnya juga. Itu dibuktikan dengan cara aneh air mataku jatuh begitu saja dengan bibir jelek sesenggukan yang menahannya.

Kau akan menyadari bahwa penderitaan atau kesulitan (atau apa pun kau menyebutnya) itu sangat beragam; pedih, perih. Semuanya tuntas jika video Facebook-mu sudah didominasi oleh iklan-iklan dari yayasan penggalangan dana kemanusiaan. Video-video tersebut, jelas, menampilkan kesedihan dalam beragam rupa. Yang setiap dari videonya akan menunjukkan apa yang kita sepakati sebagai penderitaan atau kesulitan (atau apa pun kau menyebutnya).

Lantas dengan sembrono kita akan membandingkan dengan penderitaan yang kita alami. Perbandingan yang mengantarkan aku dan kau pada titik pemahaman bahwa penderitaan kita bukanlah apa-apa sama sekali --apalagi jika dibandingkan dengan penderitaan Rasulullah.

Jadi, aku tak hendak untuk menulis tulisan tentang bunuh diri dan semacamnya. Aku ingin menghargai hidup ini bagaimana adanya. Kehidupan yang bagaimana pun merupakan anugerah tak terbantahkan dari Dia yang Maha Penyantun.

Tetapi, terlepas dari itu semua, aku merasa tidak mampu menjalani kehidupan yang begitu rupa ini sendirian. Sedangkan Tuhan terasa tidak nyata. Aku telah melantunkan banyak doa-doa yang dengan begadang aku hafalkan satu-satu. Aku juga merasa telah berjuang untuk keluar dari kesempitan berbagai bentuk. Hasilnya masih kosong.

Aih, berbicara tentang kosong. Itu jelas berbeda dengan nol. Kosong merupakan kondisi yang tidak ada, sedangkan nol merupakan angka yang berada dalam koordinat titik asal kartesian. Nol dapat berubah menjadi positif atau negatif tergantung arah geraknya. Kosong tidak akan berubah bagaimana pun kondisinya.

Sehingga, lain tidak, satu-satunya yang dapat menolongku dari semua omong kosong dan kerancuan pikiran selama ini hanyalah keajaiban Tuhan. Jika Tuhan saja terasa tidak nyata, tidak dengan keajaiban.

Sungguh, aku pernah merasakan keajaiban saat masih kecil. Keajaiban yang kudapatkan dengan cara berdoa. Doa itu mampu mengubah realita. Jelas. Gamblang. Dan bekerja begitu rupa seolah semesta berubah hanya untuk menyenangkanku saja. Semesta berjalan ke arah yang sesuai dengan doaku.

Bagiku, keajaiban terasa lebih nyata daripada Tuhan. Itu seharusnya membuktikan bahwa Tuhan lebih nyata daripada apa pun, termasuk keajaiban yang merupakan kehendak-Nya.

Dengan menulis "Tuhan tidak terasa nyata" bukan berarti aku kehilangan keyakinan atas-Nya. Aku tetap percaya pada-Nya. Dan semoga, semoga saja, bukan karena aku tidak memiliki pilihan lain untuk percaya kepada selain-Nya.

Usia kepala tiga ini keajaiban lebih jarang muncul. Ini mirip seperti yang dianalogikan banyak orang berilmu sebagai cermin kotor yang tidak bisa memantulkan cahaya. Dalam konteks ini, jelas, cahaya ilahi. Sedang kotoran cermin berasal dari dosa-dosa. Ini selaras dengan perjalananku dari usia kecil penuh keajaiban hingga setua ini mengalami begitu banyak pengalaman tentang dosa dan melanggar aturan. Aku sudah mengucapkan ampun kepada Allah, Tuhan yang Maha Agung, untuk memberikan pengampunan. Dia jugalah Tuhan yang Maha Pengampun, sebuah bacaan istighfar aku yakin tidak akan pernah sia-sia. Apalagi jika itu diucapkan sebanyak tiga kali. Allah, Tuhanku, akan meminta malaikat berhenti menahan doa-doa dari hamba penuh dosa jika diucapkan tiga kali, 'kan?

Di atas Chromebook adalah sandal. Jika aku baca semua catatan ini, sebenarnya tidak lain aku sedang berbicara dengan sandal. Yang terasa lebih nyata daripada Tuhan meski sama-sama diam. Sandal itu berada di depanku, saat ini dan terkini.

Berbicara tentang Tuhan sama sekali bukan ranahku yang isi otak hanya video Facebook dan sengkarut yang makin kusut. Aku perlu mengakhiri omong kosong ini. Melaksanakan salat isya sambil menguatkan keyakinan bahwa Tuhan lebih nyata daripada apa pun, atau menerima semuanya dengan tekat sebulat purnama entah Tuhan nyata atau tidak. Namun sebelum itu, aku perlu memakai sandal di depanku untuk bersuci dulu.

Oh, benar juga. Meski Tuhan tidak nyata, aku akan tetap melayangkan doa-doa kepada-Nya. Sebab, tidak ada Tuhan pengganti yang akan setara dengan-Nya.

Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.

☕ Traktir kopi