Mencatat lapar

Anak perempuan usia dua tahun
yang kurus dan lusuh
yang tangan kanannya memegang perut
yang tangan kirinya memegang baju sobek ibunya
yang rambutnya mirip sapu ijuk
yang kakinya menapak dua puluh lima kilometer aspal dari Blitar ke Tulungagung
yang kutemui di sebelah alon-alon
yang di sebelahnya pos jaga polisi lalu lintas
yang menjawab tidak tahu saat kutanya hendak ke mana
yang mereka ada di negeri yang amat kaya
yang nama bapaknya dibacakan lewat musala dua tahun lalu
yang nama ibunya diteriaki mertua dalam pengusiran
yang dilewatinya orang-orang peduli selama perjalanan
yang tak ada satu pun memberi bantuan selain melihatnya
yang dua kali masuk media sosial diberi bantuan uang
yang setelah kamera mati diminta lagi uangnya
yang malam tetap dingin dan siang tetap panas
yang mata keduanya mengatakan kelaparan
yang membuat mataku menangis
yang demikian memang ada dekat dengan kita
yang suara mungilnya serak sekali
yang tidak ada yang bisa kulakukan selain mendoakan mereka
yang kemiskinan ini pula membuat hatiku teriris
yang kalau boleh kutukar nyawa ini agar mereka dalam kehidupan sejahtera
yang kurasa sudah cukup derita begitu rupa.

Anak perempuan usia dua tahun yang tersenyum padaku saat melanjutkan perjalanan
yang ibunya melambaikan tangan dan mendoakan
yang kakinya mulai pincang
yang tidak ada kata-kata setelahnya.

Ya Tuhan, ya setan, ya hewan, ya tanaman
akankah menangis melihat anak perempuan usia dua tahun berjalan dengan ibunya menuju entah?
ya manusia... Keparat kalian semua!

Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.

☕ Traktir kopi