Tangis selalu lembut
Kau dan aku bisa menangis
hanya karena delapan detik
video lawas di media sosial.
Yang menampilkan cuplikan anak
perempuan di punggung bapaknya
saat menyusuri malam di kota yang kekar
menjual kerupuk dan gorengan.
Juga saat melihat ratusan-
ribuan anak sekolah diracuni
menangis dan menjerit
mengerang dan menangis
menangis dan kau dan aku menangis
mengerang dan menangis
menangis.
Rantai tangis yang semakin panjang
selama program keparat berjalan.
Menangis di permakaman
memetik bunga dan daun
beberapa bungkus makanan basi.
Tangis orang tua atas anak terkasih
juga tangis nabi atas umat tercinta
anak-anak yang masih mulia.
Kau dan aku yang sudah dewasa
bisa menangis mengingat dosa
yang menabung dan berbunga
semakin besar, semakin raksasa.
Udara sore dingin dengan tangis
hangat menyambut malam
siapa pun bisa menangis
dengan atau tanpa sebab.
Tangis selalu lembut.
Mata berkabut.
Mulut terkatup.
Hati tertutup.
Terdobrak. Kelembutan yang itu juga.
Kau dan aku tak perlu malu menangis
melempar seember cat pada kanvas
membuat lukisan tangis yang melaut.
Tambah lebih banyak warna
biar tangis punya tangisnya.
Anak-anak yang masih mulia
orang tua yang penuh rela
kebaikan yang tak kentara
ketulusan yang terlunta
kemarahan yang membara
kekosongan yang... merajalela;
tangis dapat lahir dari semua.
Menangis adalah pinggir paling tipis
yang memisahkan kehidupan
dengan kematian.
Setiap yang hidup akan mati,
setiap yang hidup bisa menangis.
Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.
☕ Traktir kopi