Mencatat tangis

Tangis sebagaimana sesungguhnya, menjatuhkan air mata sembari mengeluarkan suara yang itu. Dan jangan lupakan bentuk bibir khas yang boleh dikatakan menggelikan.

Orang yang melarang Anda menangis hanyalah tergganggu kupingnya lantaran suara itu.

Mata mereka sudah cukup tega untuk melihat Anda melakukannya. Sedang hatinya sudah kebal tidak merasakan apa-apa.

Jika Anda menangis dalam keadaan diam, itu tidak akan merepotkan siapa-siapa.

Tangis itu akan padam, redam, pendamn!

Seolah tidak pernah ada yang jatuh air mata. Tidak pernah terdengar miris suara. Juga tidak pernah muncul sesak dada yang terasa.

Tangis itu bisa juga sengaja diledakkan setelah empunya tangis tidak mampu lagi membendungnya. Biasanya di sebuah ruang gelap yang pesing. Dibersamai oleh hantu-hantu, sebuah seloki, dan botol air meneral kusam berisi cairan pembebasan.

Jerit akan terlepas di sana. Menampilkan bentuk bibir yang menggelikan setelah semua wajah kuyup oleh air mata. Seonggok penyesalan yang sangat besar mencoba keluar dengan perih. Itu sudah seperti tahi super keras seukuran betis orang dewasa dan sepanjang empat meter yang ditahan selama tujuh hari tujuh malam ingin keluar lewat lubang anus mungil ambeien. Setiap senti prosesnya betapa tidak terbayangkan.

Malam yang menyakitkan... begitu menyakitkan. Dan lagi-lagi, selalu begitu, harus dilalui sendirian.

Tidak ada dukun beranak yang baik hati datang lalu rela membiarkan kedua tangannya bersentuhan langsung dengan semua cairan di bagian bawah itu. Kemudian membantunya mengeluarkan penyesalan dengan lebih lembut.

Hantu-hantu di sekitarnya getir melihatnya. Bahkan mereka ingin hidup lagi menjadi manusia hanya agar bisa datang menemui Anda untuk memeluk Anda dengan ketulusan yang tak terlukiskan.

Jika setiap malam harus dilewati dengan demikian, maka tidak ada jalan keluar selain menyerahkan sisa umur sampai di situ saja. Kecuali menerimanya.

Ya, barangkali itu yang perlu dilakukan.

Tuhan tidak melarang menangis. Saya tidak pernah mendengar ceramah yang melarang seseorang menangis, bahkan saat puasa. Puasa Anda di Bulan Ramadhan yang penuh suka cita itu akan batal hanya jika setelah Anda menangis memasukkan sepotong ayam ke dalam mulut saat siang hari. Disusul satu sendok penuh nasi dan sambal terasi. Begitu terus hingga semua sajian di atas piring habis tak tersisa. Lantas, diakhiri dengan menyulut sebatang kretek Sam Soe setelah berhasil menenggak dua gelas air putih yang penuh kesegaran hingga bersendawa.

Jika demikian, bisa dipastikan nyaris 100% bahwa puasa Anda batal. Begitulah manusia, kepastian merupakan kesia-siaan. Sebatas kekosongan dalam memahami apa kehendak Tuhan.

Dan tangis, sebagaimana sesungguhnya, menjatuhkan air mata sembari mengeluarkan suara yang itu. Dan jangan lupakan bentuk bibir khas yang boleh dikatakan menggelikan --semua orang pernah mengalami.

Kecuali mereka yang sudah tidak memiliki hati. Atau memilikinya namun mati. Atau batu. Atau seonggok penyesalan yang berusaha keluar dengan susah payah meski sudah dibantu seember arak sisa paling murah. Arak kadaluarsa yang akan membikin Anda lebih mabuk daripada menenggak arak tidak kadaluarsa.

Sambil membacakan puisi yang lahir dari ruang gelap. Juga puisi dari penyair kondang yang menyamar sebagai ustaz musala untuk mengajar mengaji a-ba-ta saat ashar. Serta puisi-puisi sederhana semacam Celana Ibu.

Sambil menyanyikan dengan memilukan lagu-lagu yang barangkali masih terbesit di batok kepala tanpa iringan nada. Ruangan penuh hantu diselimuti kesunyian yang hitam. Tidak ada yang akan terdengar selain penyesalan.

Dan pada pagi hari Anda harus segera sadar.

Beranjak dari lantai basah yang sudah menjadi lebih pesing. Menunju kamar mandi umum terdekat untuk membersihkan diri. Memakai koko dan sarung, lengkap dengan kopiah untuk memunaikan salat subuh berjemaah. Dan setelahnya bersalam-salaman. Keluar dari musala dengan wajah penuh senyum yang kontras atas apa yang terjadi semalam.

Jika setiap malam harus dilewati dengan demikian, maka tidak ada jalan keluar selain menyerahkan sisa umur sampai di situ saja. Kecuali menerimanya.

Tangis itu sempat pula membisikkan tentang kata-kata putus asa untuk mengambil barang dua-tiga meter tali tambang. Leher Anda terasa bergidik tatkala mengingatnya. Sebab dirinya sudah masuk ke lingkaran yang Anda buat. Hanya butuh beberapa detik penentuan untuk mengakhiri segala-galanya. Namun, Anda urung melakukannya karena belum selesai menulis catatan tentang tangis.

Laki-laki tidak akan pernah menangis. Dan lain-lain maknanya adalah laki-laki tidak membiarkan tangisnya dilihat orang lain.

Saya seumur hidup belum pernah melihat ayah saya menangis hingga akhir hayatnya pada 2019. Ia seorang laki-laki yang sabar. Pun kalau dipaksa melihat, barangkali saya akan menangis duluan.

Tangis laki-laki merupakan petaka jahanam yang tidak bisa dibendung oleh semua benteng pertahanan yang paling kokoh. Di dalamnya berisi sengkarut yang, lagi-lagi, tak terlukiskan dan tak terbayangkan.

Acapkali segelas kopi dan sebatang kretek akan sedikit menenangkan bagi sebagian laki-laki. Meredakan gejolak bak tsunami air got yang nyaris tumpah-ruah di muka setiap orang yang ia temui. Laki-laki akan diam sesaat mengecap kepahitan kopi. Mengisap dalam-dalam asap kretek yang diam-diam benar-benar ia tahu akan menggerogoti tubuhnya dari dalam.

Pada akhirnya, melanjutkan malam dengan malam yang itu-itu saja. Menjalani pagi dengan pagi yang itu-itu saja. Menyembunyikan semua-muanya dengan sebisanya.

Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.

☕ Traktir kopi