Mencatat omong kosong 2

Tidak ada omong kosong yang cukup layak untuk mengubah blog pribadi yang lebih menyerupai catatan harian menjadi serupa platform blogging yang terikat aturan.

Kebebasan, kupikir dalam-dalam, mustahil digantikan dengan jumlah kunjungan. Kau barangkali tidak menemukan sesuatu yang menarik di blog ini (kecuali tulisan-tulisan bagus dari orang-orang pilihan). Kau barangkali akan lebih sering bertemu dengan tulisan-tulisan ke-aku-an yang memuakkan. Dan semua itu tidak membuatku gusar.

Blog pribadi biarlah menjadi blog pribadi sedemikian rupa dengan kemelut asap keputusasaan atas semuanya.

Pada waktu yang sudah ditentukan oleh Sang Maha, blog pribadi bagaimana pun bentuknya akan runtuh dan hilang. Menghilang pula tulisan-tulisan (atau catatan-catatan) yang sempat berada di sana. Menguap bersama udara. Menjadi asap. Lalu hinggap di pikiran orang-orang setelahku. Dituliskan oleh mereka di sebuah blog pribadi yang lain, di sebuah buku harian sederhana, atau di ingatan yang memang kuat untuk melakukannya.

Jadi, tidak ada tulisan yang sebenarnya tulisanku. Sebab, tulisan-tulisan yang kutulis hanyalah asap dari tulisan-tulisan orang lain sebelumku yang sedemikian hingga hinggap di pikiranku.

Menggunakan anggapan itu sebagai fondasi artinya akan terlalu sembrono mengatakan kalau tulisanku tidak kunjung membaik. Sebab, tulisanku sejatinya bukan tulisanku. Setiap tulisan adalah baik. Tulisan sudah baik secara fitrah. Cara penyampaian penulisnya adalah persoalan lain. Dan karena itu pula, aku akan bersedia memeluk kekosongan lebih banyak untuk membuat ruang pikiran terasa lapang, membiarkan tulisan menulis dirinya sendiri sesuka hati.

Aku (dan kita) hanyalah taman bermain untuk tulisan.

Ya, entahlah. Omong kosong tentang tulisan belum pernah bermain-main semenyenangkan ini.

Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.

☕ Traktir kopi