Mencatat perdebatan

Belakangan, aku menemukan sebuah titik yang sempit dan sebentar untuk merasakan semacam kenikmatan. Titik itu akan muncul dari dua irisan garis takdir yang bertabrakan --sedang aku menghindarinya.

Pukul delapan sampai hampir tengah malam bolehlah kuanggap sebagai titik itu. Lalu, keesokan harinya aku terpaksa melintasi garis takdir yang itu-itu saja. Satu mengarah ke kiri, lainnya ke kanan. Kadang bersinggungan, sering beririsan. Ada cukup banyak penghinaan, dan tak terhitung rasa yang kupendamn. Hasilnya sepadan. Aku terhindar dari nasib celaka yang lebih gila.

Menghindari perdebatan cukup menyenangkan. Meski harus aku dahului dengan memendamn, dan benar, benar-benar damn!

Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.

☕ Traktir kopi