Mencatat utang yang membabi buta

Utangku telah mencapai jumlah yang mengenaskan. Bahkan saat melihat kolom 'total' di tabel yang kubuat, kepalaku dibikin lebih berdenyut daripada saat mencatat daftarnya. Angka yang rasa-rasanya sudah berada di luar kemampuanku sebagai manusia. Manusia miskin, tentu saja. Apakah angka-angka itu dapat dibayar dengan nyawa? Apakah nyawa sebanding dengannya? Aku tak tahu.

Pikiranku telah kalut luar biasa. Semakin coba kupikirkan cara menyeret titik di kuadran tiga kartesian menuju titik nol koma nol, pikiranku buntu belaka. Tidak ketemu. Jalan keluar omong kosong yang dulu sempat kudambakan memudar seperti embun pada pukul 06.35 sekarang.

Di hadapanku kini teronggok semacam starter pack yang itu-itu saja. Bagian tengah adalah Chromebook yang menunjukkan tabel keparat itu dengan beberapa huruf papan tiknya rontok. Bagian kiri kretek murah dengan merek aneh ditumpuk korek yang hampir habis gasnya. Sebelah kanan adalah kopi hitam pahit buatan ibu sebelum sahur. Kalutnya pikiranku jika memiliki warna akan seperti kopi itu. Cokelat yang terlalu gelap, hitam yang tidak penuh, teronggok diam yang sekarang sudah dingin.

Aku tidak menyangka bagaimana angka-angka itu berlipat ganda begitu rupa. Mestinya aku segera bangkit dari keterpurukan menuju kejayaan yang sempat kucicipi sebentar di masa lalu. Namun, aku akan memilih mencicipi kemelut kopi dingin yang entah mengapa memberi kehangatan yang aneh.

Untuk beberapa menit ke depan, aku tak membutuhkan nasihatmu. Sekarang sudah cukup. Sementara ini. Untuk memberi keyakinan bahwa aku mesti terus hidup, setidaknya itu. Kau bisa bersenang karena aku sedang bersusah. Kondisiku adalah contoh buruk yang sebaiknya tidak kau ikuti.

Setelah semua tabel keparat itu menjadi nol, entah kapan, aku akan langsung menceritakannya kepada ibu sebagaimana aku bercerita tentang memancing di hari-hari sebelumnya. Itu kupikir lebih baik daripada harus menyampaikannya sekarang.

Catatan ini bukti bahwa titik di kuadran yang sepenuhnya negatif tersebut, titik 'aku', masih hidup dalam semesta kefanaan yang kental akan cobaan. Kita boleh sepakat menyebutnya cobaan alih-alih azab. Aku tidak ingin lebih menyalahkan diriku di masa lalu atas semua yang telah kulakukan.

Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.

☕ Traktir kopi