Letupan kecil yang menyambung dua generasi

Anakku lahir 2024, yang artinya kalau percaya dengan klasifikasi generasi, dia tergolong sebagai Generasi Alpha angkatan terakhir. Sebab, setelahnya, anak yang lahir 2025 sudah masuk Generasi Beta.

Antara aku dan anakku tidak terpisah generasi. Saling berurutan langsung. Sebab, aku adalah anak lucu berusia hampir 360 bulan angkatan pertama Generasi Z.

Meski begitu rentang yang cukup panjang memunculkan semacam perubahan.

Dulu, masa kecilku pada interval 2006 atau sebelumnya --aku agak lupa persisnya-- erat kaitannya dengan koceh di kali, main kelereng, memetik buah di pohon-pohon pinggir jalan dan kebun milik Allah, membuat bola dari lembar-lembar daun wadang muda, juga memperoleh letupan kecil dari petasan alam yang bernama buah pletekan dari bunga Ruellia tuberosa.

Kini, di zaman anakku yang lucunya masih sama sepertiku (saat ini dia berusia dua setengah tahun), kali-kali kecil sekitar rumah dibiarkan mengalir tanpa pernah dijelajahi, kelereng adalah monumen purba yang keberadaannya sangat langka, buah-buah tumbuh terlalu subur di mana pun hingga berjatuhan, tidak ada pohon wadang yang tersisa.

Satu-satunya yang tersisa hanyalah bunga pletekan itu. Bunga berwarna ungu sehingga memiliki nama lain kencana ungu. Tersebar begitu banyak hanya sebagai bahan merumput para penggembala kambing.

Aku setengah niat mencoba menawarkan mainan baru itu kepada anakku. Dan dengan keajaiban alam, anakku menyukainya, hingga akhirnya setiap pagi sehabis sarapan dia mengajak untuk mencari ntuk-ntuk --nama yang diberikan olehnya-- di halaman belakang rumah.

Main biji bunga pletekan setiap bagi bersama buah hati


Bunga sehari yang malah tak pernah habis

Barangkali kita sebagai bayi berusia 360 bulan hampir lupa kalau bunga ntuk-ntuk yang berwarna ungu itu hanya mekar sehari sebagaimana bunga sepatu.

Hanya saja, ntuk-ntuk mampu memunculkan ilusi seolah bunganya mekar terus-menerus. Itu karena tanaman Ruellia tuberosa terus berbunga sehingga selalu ada bunga baru di hari berikutnya.

Pletekan (Ruellia tuberosa)

Di desaku, daun pletekan dipercaya memiliki manfaat untuk kesehatan, terutama menstabilkan gula dalam darah. Tetapi kini, manfaat lain yang kupercaya adalah pletekan menghubungkan dua generasi; aku dan anakku.

Alam rasa-rasanya begitu luar biasa. Dan aku tak habis pikir kenapa ada manusia yang bodohnya keterlaluan untuk membabat dan membakar alam habis-habisan.


Pletekan yang bisa meledak saat terkena air

Anak usia dua setengah tahun itu selalu menggandeng jari telunjuk tangan kananku saat mengajak untuk mencari buah ntuk-ntuk.

Dia memiliki ketertarikan pada bunganya, kadang dipetik dan turut dibawa pulang. Tetapi lebih banyak mencari buah kering yang terkenal sejak zaman baheula bisa meledak saat terkena air. Oleh karenanya, setiap hari kita ke halaman belakang, menyusuri pinggiran jalan setapak yang berjejer pletekan siap petik.

Biji bunga pletekan bisa meledak saat terkena air

Dan kami, entah kenapa selalu mampu mengumpulkan dalam jumlah tak terhitung. Dan alam, entah kenapa selalu tak habis-habis memberikan buah ntuk-ntuk itu.

Sampai tibalah tanganku dan tangannya tidak lagi mampu menggenggam jumlah ntuk-ntuk. Kita hanya akan mencari segenggam lantas pulang.

Anakku akan mencari wadah bekas es krim biasanya untuk kemudian diisinya dengan air. Menghitung dengan perolehan buah ntuk-ntuk yang bagaimana pun hanya akan berakhir pada pengulangan sepuluh hitungan.

Bunga pletekan kenangan masa lalu

Kita hanya perlu memasukkan buah kering tersebut ke dalam air --aku agaknya tidak mengajarkan cara militan dengan meledakkan menggunakan air liur-- dan menunggu dalam penantian yang hanya sebentar.

Setelah semuanya, satu per satu buah ntuk-ntuk meledak melepaskan biji di dalamnya. Turut meledak pula tawa riang anak itu. Juga entah kenapa tawa tipisku. Dari kesederhanaan itu sebuah pagi terasa lebih hangat.


Kenangan adalah jembatan masa lalu dan masa kini

Jika ada yang menjembatani masa lalu dan masa kini, itu adalah kenangan. Sedangkan kenangan dapat berbentuk catatan di buku harian atau foto lawas yang terselip di kasur nenek.

Pada pengakhiran yang lebih pribadi ini, kenangan itu berwujud sebuah bunga yang di banyak tempat dianggap gulma.

Biji bunga yang bisa meledak saat terkena air

Tidak besok dan lusa, tetapi suatu hari ini nanti, aku pun ingin menjadi kenangan yang indah di ingatan anakku.

Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.

☕ Traktir kopi