Dua wajah di atas Sungai Brantas

Pukul 14:40, matahari sedang tidak punya belas kasihan. Jalan setapak menuju perahu tambang semakin kering dan berdebu. Keringat di dalam jaket itu pula sudah bergejolak hendak ingin keluar.

Aku, sebagaimana pengendara motor lain, hanya ingin menyeberang ke sisi lain sungai dengan cepat. Kami bersama-sama pelan-pelan naik perahu tambang.

Seorang petugas mengarahkan agar para pemotor parkir di bagian belakang. "Motor rodok rono!". Akhirnya dia menatapku, lantas dengan dagunya menunjuk ke satu sudut perahu.

Perahu tak kunjung melaju. Nyatanya, mereka menunggu kehadiran beberapa mobil. Petugas yang sama menyambut mobil-mobil itu dengan perasaan gembira penuh suka cita. Tampak senyum yang kalau-kalau diberikan kepadaku tadi, matahari pukul 14:40 barangkali tidak akan sepanas ini.

"Monggok, Pak... Mriki... Njenengan parkir teng mriku," kata petugas itu kepada pengendara mobil yang hanya membuka lima senti kaca sopir.

Ediaan, pikirku kemudian. Arahan petugas dengan dagu kepadaku saat itu sebenarnya tidak membekas apa-apa. Namun, setelah melihat sendiri perlakuan 'curang' kepada pengendara mobil, ada semacam perbandingan yang kian jelas.

Suaranya melunak yang sulit kujelaskan. Bakalan cocok lek dadi Wantimpres, pikirku lagi.

Terlepas dari itu, perahu lalu bergerak, dan Sungai Brantas mengalir di bawahnya dengan tenang dan tak peduli. Air itu menopang sebongkah perahu. Juga motor-motor dan mobil-mobil. Juga orang-orang dengan sengkarut isi kepala masing-masing.

Baiklah. Aku tak ambil pusing. Barangkali petugas itu sama lelahnya denganku. Hanya saja, memahami bukan berarti membenarkan. kerasnya hidup tak memberi siapa pun hak untuk merendahkan orang lain, apalagi hanya karena persoalan kendaraan yang ditunggangi.

Sialnya, malah di situ letak persoalannya. Perlakuan timpang sering dianggap wajar dalam masyarakat kita. Ya begitulah.... Padahal, itu tak beda dengan meletakkan hormat ke rak dagangan, yang hanya jatuh ke tangan orang yang mampu bayar.

Setelah itu sebenarnya tidak ada kejadian besar, pun pertengkaran. Aku hanya akan melupakan setelah menulis catatan ini.

Ini juga sebagai pengingat dalam masyarakat keparat macam begini, martabat manusia dilihat dari jumlah roda yang dibawanya. Mungkin saja petugas itu belum menyadari bahwa semua pemilik kendaraan adalah penumpang di perahu yang sama, di atasnya lagi mereka adalah sama-sama manusia.

Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.

☕ Traktir kopi