Mendung sore dengan kelakar anak perempuan
Sore ini cukup damai tanpa adanya puluhan telepon dari nomor tak dikenal. Si bocah perempuan usia dua setengah tahun itu berlari-riang di halaman, di bawah mendung hampir hujan, dibalut kesederhanaan kaus kotang.
Kombinasi yang apik nian. Andaikan waktu berhenti pada saat ini, menunda sengkarut selamanya.
Namun apalah daya. Segalanya tidak akan kekal. Kejadian buruk akan berubah jadi baik, kejadian baik bisa berubah jadi buruk.
Di sela gerimis kecil sore hari yang sudah turun pukul 16.29, untung kita menyadari kenikmatan itu. Kita bersyukur dengan serendah-rendahnya diri ke hadirat Allah dengan bacaan hamdalah yang agaknya kering dan dangkal.
Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.
☕ Traktir kopi