Dendam: Bahan bakar menulis paling membara

Dendamn! Benar-benar DAMN!!!

Saya salah satu orang yang percaya bahwa tidak ada satu pun manusia di muka bumi ini yang tidak memiliki masalah. Barangkali juga di selain-bumi.

Menceritakan masalah kepada orang lain menjadi kegiatan yang nyaris tidak ada gunanya sama sekali.

Toh, mereka yang mendengarkan, tidak akan memahami 100% apa yang sedang kita rasakan. Ya, kecuali jika para pendengar itu menjadi diri kita.

Ada cukup banyak drama Tiongkok, donghua (sejenis kartun animasi), dan komik kekinian yang membahas perihal kembali ke masa lalu.

Sekarang saya cukup tahu mengapa 'sesuatu yang kembali ke masa lalu' cuku populer. Sebab, sekarang saya juga ingin melakukannya.

Jika benar adanya, saya akan membeli Bitcoin pada 2008 silam. Menyimpannya hingga sekarang agar tidak berada dalam kondisi sekarang.

Dari sini sudah jelas masalah yang sedang saya hadapi mengerucut pada topik itu: ekonomi.

Saya tidak sendiri, tentu saja, ada jutaan manusia yang mengalami masalah yang sama. Meski pada kondisi yang mungkin berbeda.

Si A 'merasa' mengalami masalah ekonomi hanya karena satu dari empt belas rumahnya rubuh digasak sound horeg. Si B 'merasa' mengalami masalah ekonomi karena sudah tiga bulan anaknya yang berusia tiga tahun hanya makan tajin.

Jadi, semoga kita juga sama-sama sadar, bahwa menyamakan kondisi kesulitan antara satu orang dan orang lain adalah kesia-siaan yang niscaya.

Makanya, saya lebih memilih untuk menuliskannya di sini. Sebuah blog tempat membuang segala macam tulisan cakar-ayam-berantakan. Atau, pada titik tertentu saya lebih memilih menaruh jidat saya di lantai sambil berbisik lirih kepada sesuatu entah apa.

Mentok-mentok kalau dipaksa harus bercerita. Saya akan memilih bercerita kepada ikan-ikan daripada kepada manusia.

Saat menenggak dua botol lima hari lalu pun, saya masih merasa sadar untuk tidak bercerita yang tidak-tidak. Kondisi runyam yang saya alami sekarang tampaknya memang jauh lebih raksasa daripada kehilangan kesadaran.

Biarlah, ini sekadar catatan usang yang memang tidak penting.

Jangankan bagi kalian, bagi saya pun tulisan-tulisan ini juga tidak penting.

Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.

☕ Traktir kopi