Bercengkerama dengan montir roda kehidupan
Setiap orang memiliki persoalan dalam kehidupan. Jelas. Tidak ada yang terlepas dari ini.
Kita terlampau sering mendengar nasihat bahwa, "Roda pasti berputar".
Kemudian barangkali menyangkal bahwa itu yang berputar hanya roda-roda milik kalian. Sedangkan roda saya diam di tempat, tidak bergerak, masih berada di titik nadir paling mengkhawatirkan.
Saya mau memberi perumpamaan, namun jangan pakai tikus, konotasinya begitu jahanam seperti para pejabat negeri ini. Mari kita bikin perumpamaan dengan ikan sapu-sapu saja.
Jadi, begini.
Dua ekor ikan sapu-sapu lahir dari kubangan super-kumuh-bau yang sama. Mereka sejak kecil bersama, saling menguatkan menghadapi kenyataan yang masuk akal disebut sebagai titik paling rendah kehidupan.
Ikan sapu-sapu pertama memiliki keyakinan bahwa kehidupan ini akan berubah. Ikan sapu-sapu kedua memiliki kemampuan untuk menerima segetir apa pun takdir.
Seiring berjalannya waktu, kedua ikan itu tumbuh dewasa. Mereka menemukan jalan yang ternyata berbeda, jalan yang bisa mengubah posisi roda kehidupan.
Roda kehidupan ikan pertama bergeser, yang semula berada di titik rendah, kini semakin maju menuju titik lebih tinggi. Lain cerita dengan roda kehidupan ikan kedua, meski sama-sama bergeser, namun yang semula berada di titik rendah kini semakin mundur dan lebih rendah.
Rasanya sudah seperti dikubur hidup-hidup di kubangan super-kumur-bau itu.
Andaikan, kalau boleh, pergeseran roda kehidupan kedua ikan itu disebut sebagai ujian. Maka, ikan pertama mendapatkan ujian kesombongan. Ikan kedua mendapatkan ujian kesabaran.
Keduanya sama-sama mulia asalkan bisa melewati, menjalani, dan menerima segala takdir tanpa bersambat.
Nahas, di tengah putaran roda kehidupan itu. Ikan pertama terlena dengan kubangan yang lebih baik, airnya bersih, dan banyak teman-teman dari ras ikan lain (koi, mas, hingga sturgeon) yang dekat dengannya.
Ia telah melupakan betapa berasal dari kubangan super-kumuh-bau. Melupakan bagaimana dulu saling menguatkan dengan ikan kedua. Melupakan segala-galanya, termasuk menyadari kehidupan sekarang adalah harapannya yang paling tinggi dan indah saat itu.
Sedangkan di kehidupan ikan kedua, sudah sampai pada titik nadirnya titik nadir. Itu mengerikan.
Ia terlempar ke kubangan yang jauh lebih jahanam penuh cacing, lintah, dan parasit setelah kena pancing seseorang. Bahkan orang yang memancing itu jijik memegangnya langsung, diinjaklah ikan sapu-sapu kedua ini, ditariknya senar sampai kail yang menancap di bibir bawah membuatnya sobek. Lalu ditendang sembarangan, ia mesti merangkak dua hari satu malam megap-megap di daratan sampai akhirnya berakhir di kubangan itu.
Pada kondisi itu, ia teringat dengan ikan sapu-sapu pertama. Berharap kehidupan ikan itu tidak lebih buruk darinya.
Kabar datang dengan cepat, ia mendengar berita dari cacing kremi bahwa roda kehidupan ikan sapu-sapu pertama sudah jauh lebih baik. Dan sebuah fakta satu-satunya roda kehidupan yang buruk hanyalah saat di kubangan super-kumuh-bau bersamanya.
Mendengar berita itu, hati sapu-sapu kedua goyah.
Belum sembuh pula bibir sobek, belum pulih pula kondisi setelah merangkak dua hari satu malam di daratan. Belum menerima pula berada di titik nadirnya titik nadir itu.
Hati ikan sapu-sapu kedua merasakan iri dan dengki yang membara.
Akhirnya keduanya tidak lulus ujian.
Jadi, roda pasti berputar itu merupakan keniscayaan. Hanya saja, arah putarannya ke depan atau sebaliknya menjadi persoalan lain.
Kalau cerita ikan sapu-sapu itu dibenturkan dengan kehidupan kita. Tentu, sebagai manusia yang manusiawi kita akan memilih ujian sebagai ikan sapu-sapu pertama.
Kita lebih memilih diuji dengan gemerlap duniawi alih-alih kesengsaraan dan sisi gelapnya. Kita akan berharap mendapatkan apa pun yang kita inginkan, meyakini bahwa hati dan akal kita tidak akan terlena karenanya.
Namun faktanya, teman-teman kita adalah ikan sapu-sapu pertama. Sedangkan kita adalah ikan sapu-sapu kedua.
Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.
☕ Traktir kopi