2.000 dan kekosongan
قُلِ اللّٰهُمَّ مٰلِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِى الْمُلْكَ مَنْ تَشَاۤءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاۤءُۖ وَتُعِزُّ مَنْ تَشَاۤءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاۤءُۗ بِيَدِكَ الْخَيْرُۗ اِنَّكَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ ٢٦
qulillâhumma mâlikal-mulki tu'til-mulka man tasyâ'u wa tanzi‘ul-mulka mim man tasyâ'u wa tu‘izzu man tasyâ'u wa tudzillu man tasyâ', biyadikal-khaîr, innaka ‘alâ kulli syai'ing qadîr
Katakanlah (Nabi Muhammad), “Wahai Allah, Pemilik kekuasaan, Engkau berikan kekuasaan kepada siapa pun yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kekuasaan dari siapa yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan siapa yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan siapa yang Engkau kehendaki. Di tangan-Mulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu.
~Ali 'Imran: 26
2.000 adalah rupiah terakhir yang tersisa di dompet, kekosongan adalah kondisi setelah memasukkan rupiah terakhir tadi ke kotak amal saat salat Jumat.
Wah, sombong sekali sedekah uang dua ribu rupiah saja malah disampaikan?
Justru karena itu, harusnya bukan sombong, melainkan sesuatu yang benar-benar biasa saja. Sesuatu yang teramat normal bagi orang miskin seperti saya.
Jika sombong, seharusnya saya mengatakan telah memasukkan uang empat ratus juta ke kotak amal masjid yang membutuhkan waktu sampai dua jam hingga akhirnya semua uang itu masuk ke dalamnya.
Bukankah sedekah yang justru membawa ke kesulitan tidak disarankan?
Di Indonesia, uang Rp2.000 bisa buat bayar parkir motor. Barangkali Anda berpikir bahwa, seharusnya saya menggunakan Rp2.000 itu untuk memenuhi kewajiban utama, dan bukan untuk sedekah zalim. Sebenarnya, dan seharusnya, ini tidak masuk kategori zalim, seperti:
- Bersedekah yang bikin keluarga terlantar
- Memberi besar namun utang tidak dibayar
- Sedekah dari harta orang lain tanpa izin
“Cukuplah seseorang berdosa jika ia menyia-nyiakan orang yang menjadi tanggungannya.”
(HR. Abu Dawud)
Andaikan, uang Rp2.000 itu bisa untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari atau bisa membayar utang. Niscaya saya tidak akan memasukkan dapuran 2.000 itu ke kotak amal hari ini.
Hanya saja, pemerintah kita yang terlampau zalim kepada rakyatnya. Jika sekarang kita hidup di tahun 1990, maka uang 2.000 tersebut bisa untuk membeli sekotak susu untuk anak usia dua tahun.
Sekarang mari kita lihat, bagaimana hujan dari pagi sampai petang ini mengantarkan niat baik yang penuh keikhlasan. Apakah benar-benar mendatangkan keajaiban, atau sekadar cerita sejarah yang memabukkan?
Saya sudah kepalang basah dalam kehinaan. Pun kalau Anda menganggap saya sebagai orang sombong hanya karena menulis tentang memasukkan uang 2.000 ke kotak amal, padahal itu jelas-jelas normal dan wajar bagi orang miskin, maka terserahlah Anda.
Siapa pun di hatinya memiliki keyakinan bahwa harta bukan sesuatu yang kekal. Harta menempati urutan pertama sebagai barang fana yang akan hilang. Namun, telepon berdering dari para penagih utang, tekanan berton-ton di pundak, keadaan yang terhimpit dari kiri dan kanan, serta bayangan menyeramkan jika mati meninggalkan utang adalah sesuatu yang lebih nyata.
Pada catatan singkat ini, semoga ini kelak menjadi ingatan tersendiri berwujud jembatan keledai yang mampu mengantarkan saya pada keadaan bahwa saya pernah mengalami kondisi kekosongan yang mengerikan.
Jadi kalau nanti saya tiba-tiba berkecukupan, saya tak akan malu memberikan motivasi dengan mengatakan bahwa saya pernah hidup miskin. Tidak memegang uang sama sekali.
Toh seorang suami kalau sudah mengatakan tidak pegang uang itu benar-benar kosong melompong, nol rupiah. Tanpa bermaksud bias gender, tetapi para istri saat mengatakan tidak pegang uang, itu masih memiliki simpanan yang barangkali cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari beberapa minggu ke depan.
Begini anak muda, kalian tidak perlu gusar kalau sekarang kondisi kalian sulit, terhina, dan terlilit utang segunung. Soalnya saya dulu juga pernah mengalami hal serupa dengan kalian, bahkan lebih parah. Saya nyaris secara sengaja memaksa bertemu dengan Izrail. Untung bukan kepalang, Allah menguatkan pundak saya di tengah kekosongan yang mengerikan itu. Bertahan sendirian di tengah gempuran badai yang tidak ada lelahnya... Nah, begitulah kira-kira saya akan memulai acara motivasi jika benar-benar berkecukupan.
Selanjutnya, saya akan memberikan motivasi yang diambil dari catatan ini tentang uang dua ribu rupiah. Saat itu uang saya tinggal dua ribu rupiah. Tidak ada lagi selain galian utang yang semakin lama semakin dalam. Pikiran saya sudah buntu, jangan salah, ini buntu yang benar-benar tidak ada jalan keluar. Kalau dipikir secara logika, jelas, kehidupan saya akan menjadi gelandangan, atau tiba-tiba gila di jalanan kota.
Ketika anak-anak muda yang sedang kesusahan itu sudah tertarik dengan cerita saya. Lantas saya melanjutkan begini. Ternyata tidak semua kejadian di dunia ini berjalan sesuai logika kita. Ada kalanya terlepas dari itu. Dan kita umum menyebutnya sebagai keajaiban. Kalian harus percaya bahwa tangan Tuhan memiliki andil penuh dan kuasa purna atas segala sesuatu yang terjadi. Saat tangan kita tidak mampu lagi mengubah keadaan. Kita perlu menyerahkan, meletakkan, menaruh segala-galanya pada tangan Tuhan. Ibaratnya, kalau Allah menginginkan kita mati detik itu juga, kita dengan senyum dan kerendahan diri menyerahkan semua-muanya nyawa tanpa bertanya apa pun. Kebulatan yang tanpa celah.
Dan, saya akan melanjutkan hingga pembicaraan tengah malam yang lebih menakjubkan tentang keajaiban-keajaiban itu. Tentang bagaimana berubahnya kehidupan manusia yang penuh kehinaan menjadi berkecukupan.
Namun sebelum itu, saya perlu melewati kondisi kekosongan yang hakiki sekarang dan saat ini. Saya perlu melewati fase telepon yang berdering terlalu sering ini, fase tekanan-tekanan di pundak yang teramat berat ini, serta fase himpitan dari sisi kiri, kanan, depan, belakang, atas, dan bawah ini.
Anda, para pembaca yang budiman, sebenarnya dapat membantu dengan menghubungi saya kemudian mengirimkan cukup banyak uang tanpa mengharapkannya kembali. Atau, setidaknya, Anda bisa berdoa menurut keyakinan masing-masing bahwa, saya dan Anda pasti bisa melewati semua getir takdir yang seolah tak berkesudahan. Semoga.
Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.
☕ Traktir kopi