Kapan lagi bisa merasakan mancing di kali tengah sawah hujan-hujan sendirian?
Sejak pukul tiga sore, sebenarnya aroma cuaca sudah menunjukkan tanda-tanda mau hujan.
Kau akan merasakan bagaimana perbedaan aroma antara mendung biasa dan mendung yang mendatangkan hujan jika agak lebih sering mengamati perubahannya.
Aroma yang cukup lembab, dingin, dan lebih banyak air yang seolah masuk ke dalam hidung.
Abaikan soal aroma, saya tidak hendak membicarakan tentang hal itu.
Meski melihat bahwa kemungkinan besar hujan akan turun, saya tetap berangkat memancing. Hal ini masih bisa saya lakukan jika dan hanya jika saya berada di rumah orang tua saya --bukan di rumah mertua.
Berangkatlah saya seadanya. Keluar-masuk tanah tinggi yang curam di tengah sawah (orang sini menyebutnya sebagai andil). Dan, sampai pada titik orang-orang lain berjejer memegang joran pancing di pinggir kali yang arusnya agak deras.
Seperti pemancing pada umumnya, jelas sudah, saya datang dan ramah-tamah dengan bertanya apakah ikan mau makan. Mereka yang sudah lebih dulu datang, seperti pemancing pada umumnya mengungkapkan kebohongan bahwa mereka baru saja datang.
Tanya jawab singkat dan basa-basi yang tampak tidak ada arti itu mengantarkan saya untuk duduk berjejer dengan mereka. Menjadi bagian pemancing-pemancing biasa pada umumnya.
Ramah-tamah berikutnya juga punya maksud tersendiri. Saya bertanya mereka pakai umpan apa. Kemudian dijawab dengan bahasa Jawa krama, "Ndamel cacing, Pak."
Bangsat pula anak-anak itu. Saya bukan tua, hanya kelihatan tua lantaran memelihara kumis. Tidak lebih.
Tanya umpan memiliki maksud untuk meminta sedikit karena saya hanya bawa jangkrik. Dikasihlah saya dua cacing orang anak-anak itu. Lantas saya tawari balik mereka jangkrik. Mereka menolak, katanya tidak ada ikan gurame yang suka jangkrik di kali ini.
Sekitar setengah jam berlalu tanpa ada ikan yang terselamatkan, dua pemancing anak-anak yang sempat saya mintai cacing tadi pamit undur diri.
Ada pula adab mereka ini, pikir saya. Tinggal seorang yang jelas tua, barangkali sudah punya cucu, orang itu anteng dengan dua joran pancing yang dibiarkan di jagrak seperti sedang njeguk.
Biar tidak terlalu tegang, saya tawarilah orang tua itu tembakau. Ia menengok, dan syukur mau menyulut sebatang. Bukan tipikal pemancing asosial yang tidak peduli dengan maksud baik orang lain.
Berbicaralah kami ngalor-ngidul tentang memancing, sempat pula ia menceritakan bagaimana mendapat ikan sebesar bayi di hulu sungai Brantas. Aih, selalu melebih-lebihkan yang terdengar seperti alunan cerita pengantar tidur.
Lanjut saya tawari orang tua itu jangkrik. Mau pula ia. Dipasanglah dua ekor di sebuah kail berukuran besar.
Angin dari selatan semakin kencang. Tak lama gerimis turun. Orang tua itu nyatanya tidak pulang, saya malah khawatir jika terjadi apa-apa dan terpaksa menjadi saksi yang dimintai keterangan polusi polisi.
Ia pakai mantel, saya tidak. Kita hadapi hujan yang semakin lebat ini sampai menjelang magrib, pikir saya.
Hanya saja, jika tidak ada sesuatu yang terjadi, maka akan muncul kejadian baru. Ya, itulah saat di mana pancing saya menyangkut ori di dasar sungai, benang putus, tidak bawa peralatan mancing.
Orang tua itu dengan bangga menawarkan kail dan timah pemberat. Barangkali seperti itulah wajah saya saat menawari anak-anak tadi jangkrik, atau saat menawari orang tua itu tembakau --cukup mengerikan.
Baiklah, saya terima, lagi pula belum ada keinginan pulang sebelum pengeras suara dari masjid di jauh sana mengeluarkan puji-pujian.
Setelah itu hujan yang sebatas gerimis berubah menjadi deras. Benar-benar deras. Akhirnya orang tua itu juga mengatakan bahwa ia mau pulang saja.
Tinggalah saya seorang di sana. Di pinggir kali tengah sawah sore hari menjelang magrib sedang memancing ikan entah apa sendirian dalam kondisi hujan lebat.
Ya Tuhan, betapa nikmat, betapa sudah lama saya tidak merasakan sensasi ketar-ketir mantap yang begini.
Saya khawatir jika tiba-tiba air bah cepat menggasak apa saja dari hulu. Saya khawatir jika ada ulat bulu dan ular berbisa yang melilit kaki. Saya khawatir jika sambaran petir yang tersesat tidak sengaja mengenai ujung joran pancing yang sedang saya pegang. Saya juga khawatir jika ada seseorang yang berniat buruk kepada saya, mencekik leher saya, dan membawa lari sepeda motor yang terparkir agak di atas. Dan, saya juga khawatir jika ada sosok menyeramkan muncul dari dalam air, dari rimbun ori, dari jejeran pohon pisang, atau dari mana saja yang mengagetkan dan membikin saya jantungan lalu modar saat itu juga.
Banyak pula kekhawatiran. Saya malah bersykur dengan cara yang agak aneh. Sebab, ternyata masih ada kekhawatiran yang mampu membuat saya lupa tentang kekhawatiran diteror penagih utang.
Setengah jam menikmati semua rasa khawatir yang tadi, akhirnya pengeras suara masjid di jauh sana terdengar. Saya berkemas, pulang.
Semua kekhawatiran hilang begitu saja, kecuali yang sudah ada sejak sebelum saya berangkat mancing sore ini.
Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.
☕ Traktir kopi