Makna filosofis mancing menurut budaya Jawa

Dalam kental budaya Jawa, setiap alat memancing memiliki namanya sendiri. Misalnya, walesan untuk menyebut joran.

Makna filosofis memancing berdasarkan pandangan budaya Jawa terletak pada walesan, yang secara harfiah juga berarti balasan.

Singkat saja, ada segudang makna tersirat mengapa joran disebut sebagai walesan yang memiliki arti balasan. Berikut rinciannya.

  1. Memberi tidak selalu mendapat balasan
  2. Jika tidak mendapat balasan, terus memberi
  3. Jika mendapat balasan, juga terus memberi
  4. Memberi karena ikhlas atas nama Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang
  5. Memberi karena sabar atas takdir Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang

Budaya Jawa menafsirkan berbagai kegiatan sehari-hari dengan makna filosofis mendalam supaya manusia Jawa memiliki budi pekerti luhur.

5 Makna Filosofis Memancing Menurut Pandangan Budaya Jawa

Nah, pada kesempatan kali ini, saya akan membuka sarana diskusi untuk para pemancing. Tentang seberapa mendalam makna dari kegiatan hobi yang sering disepelekan ini.

1. Memberi Tidak Selalu Mendapat Balasan

Semua teknik memancing menggunakan umpan mancing, baik itu umpan hidup, umpan racikan, maupun umpan tiruan. Kecuali satu; mancing nyegrak (terkutuklah pemancing yang nyegrak).

Umpan ibarat sesuatu yang kita berikan. Ada kalanya ikan memakan umpan, ada kalanya ikan mengabaikan umpan, bahkan ada kalanya umpan habis begitu saja saat ikan memakan maupun tidak.

Itulah makna filosofis memancing berdasarkan pandangan Jawa poin pertama, bahwa; memberi tidak selalu mendapat balasan. Lebih dalam lagi, merujuk pada balasan tidak selalu datang saat itu juga.

Contohnya, Anda memberi makanan ke tetangga yang kelaparan. Mungkin saat itu tetangga hanya mengucapkan terima kasih. Bukan tidak mungkin balasan di kemudian hari saat Anda kesusahan, tetangga adalah orang pertama yang menolong Anda untuk keluar dari keadaan susah tersebut.

Bagaimana kalau tetangga ternyata orang yang tidak baik dan tidak tahu terima kasih?

Anda juga tidak perlu risau, balasan kebaikan tidak harus datang dari tempat yang sama. Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang memiliki rencana sempurna untuk membalas kebaikan Anda, baik melalui tetangga atau orang lain.

Hingga pada titik anggapan seperti, saya memberi benar-benar tidak mendapat kebaikan apa pun dari mana pun! Sebenarnya bisa bermakna salah, balasan dari kebaikan akan selalu ada, seperti Anda terhindar dari malapetaka, bahaya, atau kerugian. Yang sama-sama juga merupakan balasan kebaikan yang tidak Anda sadari.

Artinya, saat mancing boncos, walesan seolah mengatakan kalau balasan kebaikan niscaya ada. Jika tidak datang pada saat itu saat Anda menyentak joran, mungkin datang pada waktu lain atau dalam bentuk lain.

Dalam arti yang lebih sederhana, walesan bermakna setiap memberi kebaikan tak perlu pusing memikirkan apakah mendapat balasan atau tidak.

2. Jika Tidak Mendapat Balasan, Terus Memberi

Walesan pancing dalam budaya Jawa menekankan pada sifat ksatria yang terhormat dalam memberi sesuatu. Jika dikaji lebih dalam lagi, sebenarnya apa yang kita beri?

Segala-galanya di dunia ini adalah milik Tuhan. Bahkan, tanah dengan sertifikat nama Anda, konon hanyalah hak pakai, bukan kepemilikan yang sebenarnya. Setiap manusia yang mati, meninggalkan semua keduniawian saat itu juga.

Arti memberi dalam makna filosofis Jawa adalah menyalurkan titipan Tuhan dari kita kepada orang lain. Kita sebenarnya telanjang; tidak memiliki apa-apa dan memang begitu adanya.

Sehingga, walesan lebih lanjut mengatakan untuk terus memberi meski seolah-olah tidak mendapat balasan kebaikan. Sebab, itulah yang diperintahkan oleh Dia yang memiliki segalanya.

Jika hati dan akal kita terbuka pada pemaknaan yang demikian, dapat menerapkan makna kebaikan di kehidupan bermasyarakat. Contohnya, seseorang yang selalu infaq setiap kali berangkat Jumatan.

Apakah saat Anda memasukkan uang 2.000 rupiah ke kotak amal, seketika itu langsung mendapat balasan uang 2 juta rupiah? Tidak, Anda bahkan seolah-olah tidak mendapat apa-apa.

Tetapi Anda yakin ‘kan bahwa ada balasan kebaikan yang menanti Anda entah di mana, entah dalam bentuk apa.

3. Jika Mendapat Balasan, Juga Terus Memberi

Ada pula kejadian tatkala seseorang memberi, seketika itu juga langsung mendapat balasan kebaikan.

Contohnya saat jam istirahat, Anda memberi lauk ayam kepada rekan kerja. Ternyata menanggapi tindakan itu, rekan kerja Anda langsung memberi nasi kepada Anda.

Atau saat pemancing memberi umpan cacing ke pemancing lain, dan pemancing pertama mendapat balasan pemberian berupa umpan lumut. Sangat sederhana, terjadi begitu saja atas kehendak-Nya.

Jika keadaan adalah seketika mendapat balasan, walesan mengisyaratkan untuk tetap terus memberi.

Lain waktu saat jam istirahat, ada rekan kerja lain yang tidak membawa bekal, Anda sebaiknya menawarkan untuk makan bekal Anda bersama-sama. Atau saat seorang pemancing lupa tak bawa umpan cacing, cobalah untuk menawarkan jika Anda membawanya. Terlepas dari apakah mendapat balasan seketika atau tidak.

4. Memberi karena Ikhlas atas Nama Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang

Pada poin memberi di atas berada di tingkat masih yakin akan adanya balasan kebaikan, entah waktunya, entah bentuknya. Sedangkan pada tingkat ini, walesan mengatakan sudah benar-benar sepenuhnya tak mengharap kebaikan, alias lillahitangala.

Singkatnya, bah diganjar nopo mboten sak kerso Jenengan, Gusti, kulo maringi tiyang mung kerono Jenengan.

Hingga pada titik memberi kebaikan justru mendapat balasan keburukan. Sikap yang disarankan makna filosofis memancing dalam budaya Jawa adalah ikhlas.

Contohnya, seseorang memberi makan kepada tetangganya. Namun, tetangga itu justru membentak dengan mengatakan bahwa apa dikira pengemis dan tidak mampu untuk sekadar beli makanan.

Sudah biasa saat kita menanam pohon mangga, di sekitarnya tumbuh rumput lateng yang gatal dan panas.

Supaya manusia tetap berada di jalur budi pekerti luhur, supaya hati dan akalnya tidak kotor, segala bentuk tindakan memberi sebaiknya tidak mengharap apa-apa, segala-galanya ikhlas atas nama Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang.

5. Makna Sabar atas Nama Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang

Tidak semua pemancing itu sabar, justru kegiatan memancing itulah yang dilakukan untuk melatih kesabaran.

Tidak berbeda dengan seorang anak bandel yang suka berkata kotor, oleh orang tuanya diputuskan untuk dimasukkan ke pondok pesantren. Dengan harapan anak bandel itu mampu mengubah akhlak menjadi mulia.

Perubahan dari tidak baik menjadi baik, dari tidak sabar menjadi sabar, adalah makna filosofis memancing berikutnya.

Dua hal jika seseorang ingin merasakan ketenangan pikiran; ikhlas dan sabar. Keduanya dapat mempererat tali hubungan antara hamba dengan Tuhan.

Sabar jika diartikan lebih dalam; adalah sikap menerima segala macam takdir tanpa mengeluh.

Poin itu yang penting; menerima dan tanpa mengeluh.

Bayangkan Anda sebagai kepala keluarga memberi uang kepada istri sebesar 5 juta, kemudian Anda mengatakan agar bisa menggunakan uang tersebut untuk semua kebutuhan satu bulan ke depan.

Lantas, istri Anda ternyata mengatakan dengan nada tinggi tepat di depan jidat Anda, bahwa mana mungkin uang receh ini dapat memenuhi kebutuhan sebulan. Lalu, Anda ingat dengan perjuangan kerja keras yang benar-benar melelahkan setiap harinya untuk mendapatkan uang itu.

Apa yang Anda rasakan jika istri mengeluh begitu? Kesal, kan?

Begitu pula dengan takdir kehidupan ini, intinya jangan membuat Tuhan marah kepada Anda. Itu saja. Beberapa jalannya adalah dengan tidak mengutuk takdir, tidak mengeluh, dan senantiasa sabar.

Setiap manusia niscaya melakukan kesalahan tanpa disadari, oleh karenanya harus senantiasa memohon ampunan kepada Tuhan dengan istighfar. Setiap manusia niscaya memiliki cobaan tersendiri, oleh karenanya harus senantiasa memohon kepada Tuhan agar mendapat bahu yang kuat dan dada yang jembar dalam bentuk sabar.

Lagi-lagi jika hati dan akal kita terbuka pada pemaknaan yang demikian, berbekal makna filosofis memancing menurut budaya Jawa di atas, kita seharusnya sudah siap menjalani kehidupan dengan penuh keridaan.

5 Makna Filosofis Memancing secara Umum

Makna filosofis memancing secara umum, dapat diartikan sebagai pembelajaran hidup. Memancing bukan hanya urusan mendapat ikan, melainkan lebih jauh daripada itu.

Teman saya pernah bertanya kepada saya bahwa, mengapa saya begitu suka memancing ikan. Saya menjawab bahwa, memancing mungkin hanya alibi sebab kalau hanya duduk diam di pinggir kali nanti dikira gila. Saat itu teman saya manggut-manggut dan mengatakan lirih bahwa itu masuk akal.

Ada beberapa pembelajaran hidup yang bisa kita petik dari kegiatan memancing secara umum, seperti:

1. Kesabaran

Memancing mengajarkan kesabaran, misalnya saat menunggu umpan disambar ikan. Kesabaran juga diperlukan dalam berbagai aspek, seperti saat senar kusut, kail nyangkut ranting, atau cuaca panas ngentang-ngentang.

2. Persiapan

Memancing membutuhkan persiapan, hal ini melatih kita agar menyiapkan semua kebutuhan sebelum berangkat. Setidaknya, kita perlu menyiapkan walesan yang penuh makna filosofis dalam pandangan budaya Jawa itu.

3. Berproses

Memancing perlu proses yang cukup panjang, mulai dari berangkat ke spot, merangkai piranti mancing, memasang umpan, dan baru bisa memancing. Proses itu belum termasuk Surat Izin Memancing (SIM) yang dikeluarkan secara resmi oleh istri. Dalam hal ini, memancing mengajarkan bahwa menikmati semua proses sangat penting, bukan hanya saat proses menarik ikan. Sebelumnya, ada proses pelampung yang tenggelam atau ujung joran yang bergetar.

4. Bersosial

Sepanjang yang saya tahu, semua pemancing adalah orang yang ramah dan baik. Sederhana, saat Anda meminta umpan, mereka akan memberikan. Saat Anda meminta kail, mereka akan memberikan. Saat Anda meminta bantuan, mereka juga akan memberikan.

5. Menghargai

Khususnya, memancing memberi kesadaran bahwa kita perlu menghargai alam. Menjaga ekosistem sungai yang sehat dan keberlangsungan ikan-ikan agar anak-cucu kita nantinya juga bisa memancing.

Setidaknya, itulah makna filosofis memancing berdasarkan budaya Jawa dan pandangan secara umum. Bagaimana menurut Anda?

Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.

☕ Traktir kopi