Microfishing disambar ikan gabus rasanya mengagetkan

Siapa yang pernah mancing untuk menarget wader, keting, atau merah ganting? Lalu kemudian mendapat kejutan karena disambar ikan bukan target?

Ini merupakan salah satu cerita mancing paling umum. Kusebut umum karena aku yakin nyaris semua di antara kalian pernah mengalaminya.

Rasanya mengagetkan, sekaligus meningkatkan lonjakan kepanikan pada tingkat maksimal.

Siapa sangka umpan maggot BSF untuk target keting dan merah ganting malah dimakan gabus! Dan sebenarnya ukuran gabusnya 3 jari, tetapi di foto kok terasa lebih kecil, ya.

Microfishing disambar ikan gabus rasanya mengagetkan

Apalagi saat itu kupakai tegek lentur Mini Stream Wing, senar 0.10 mm, dan kail nomor 1 yang jelas-jelas dimakan telak.


Kebosanan microfishing jika yang didapat ikan itu-itu saja

Bayangkan kita mancing selama 3 jam (atau lebih), sedang yang berhasil diangkat hanyalah wader pari. Satu spesies saja dalam jangka waktu yang demikian panjang akan mengantarkan kita pada kebosanan.

Joran microfishing ruas pendek memberi keuntungan yang lain. Kita bisa menaruh tegek itu di bagasi bawah jok motor, membawanya ke mana pun kita pergi. Lalu memancing di sungai mana saja saat kita berhenti.

Sore itu, begitulah aku berhenti di sungai asing pinggir warung kopi. Memesan kopi sambil duduk di pinggiran sungai memaksaku mengeluarkan seperangkat alat pancing dari bagasi.

Akhirnya, dengan persiapan yang sederhana, mulai memancing.

Sekira setengah jam berlalu belum ada samburan berarti. Aku mendapat beberapa ikan betok, dan lebih banyak keting. Targetku sebenarnya merah ganting purba, berapa pun ukurannya asal yang paling besar di sungai itu.

Satu jam terlewat tanpa perlawanan ikan yang berarti. Kopi tinggal separuh. Dan aku mulai merasakan kebosanan. Berpikir untuk melanjutkan perjalanan.


Sungai mengantarkan kejutan lewat aliran airnya

Memancing ikan menjadi jalan keluar di tengah kemelut sengkarut dalam kepala. Aku dan kamu bisa mengunjungi sungai-sungai kecil, perairan mana pun yang terlihat tidak ada ikannya. Lalu iseng melemparkan umpan ke sana.

Kemudian, kita menunggu yang ternyata di waktu bersamaan sudah melupakan kemelut yang tadi. Atau tidak melupakan, tetapi menghadapinya dengan cara baik-baik.

Sungai akan mengantarkan kejutan lewat aliran airnya. Itulah kenapa aku lebih suka mancing di sungai air keruh daripada jernih. Kejutan akan terasa lebih menggembirakan.

Pelampung direspons, aku beranggapan itu hanyalah betok atau keting yang lain. Kuangkat sembarangan, muncul perlawanan.

Ikan itu belum kelihatan, dibawanya ujung joran sampai tercelup ke permukaan air. Kedalaman dua meter sudah cukup membuatku panik.

Sedang di sisi lain, tokos terus mengeluarkan senar dalam jumlah yang cukup banyak. Dan dalam kondisi panik tersebut otakku memikirkan berbagai kemungkinan jenis ikan, ular kadut, atau sampah yang terseret arus.

Pemancing lain mulai melihat, para pemuda garang di warung kopi mulai mendekat, dan aku dalam kepanikan yang sulit bisa dijelaskan.

Aku angkat sembarangan. "Biarlah putus", batinku. Putus saat ikan belum kelihatan akan memunculkan cerita lain yang lebih megah. Serta segera membuyarkan orang-orang yang menatap ke arah sini.

Senar mulai keluar dari rumpun enceng gondok. Ikan mulai kelihatan. Dia masuk-keluar air. Kuseret perlahan ke tepi. Dan hasilnya merupakan seekor gabus berukuran lumayan.


Tidak pernah membawa ikan pulang

Mancing tidak sengaja di sungai antah berantah, pun kalau dapat ikan tidak pernah kubawa pulang. Akhirnya, semua perolehan ikan masuk keramba pemancing lain.

Biarlah, memang begitu seharusnya, kejutan itu terasa lebih memuaskan daripada ikan.

Andaikan tadi putus atau mocel. Aku akan datang lagi ke sungai itu. Memesan kopi. Dan berharap ikan sama makan umpan. Ya, tidak ada kegagalan yang benar-benar mampu menghentikan pemancing untuk terus memancing.

Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.

☕ Traktir kopi