Lebih baik minta maaf daripada minta izin beli pancing

Idiom “lebih baik minta maaf daripada minta izin” cukup populer di kalangan para pemancing. Anda juga setuju, kan? Terlebih pemancing yang sudah punya bini.

Kebanyakan bini akan kaget melihat harga pancing yang ratusan ribu. Namun mereka akan bersikap biasa-biasa saja melihat harga skincare jutaan.

Tidak semua bini begitu, tentu saja. Bini saya tidak begitu. Saya sendiri ketika mau beli alat pancing, menerapkan “lebih baik minta izin daripada minta maaf”.

Bukan tanpa soal, seluruh manajemen keuangan dipegang oleh bundahara. Kebutuhan rumah tangga, kebutuhan anak, dan kebutuhan pancing ayah. Semuanya harus melalui satu pintu yang tidak terelakkan.

Kadang berharap si bini saya kasihan melihat pancing suaminya sudah uzur yang lebih layak masuk museum daripada dibawa ke pinggir kali.

Di matanya tampak jelas ketidaktahuan tentang pancing. Ia menganggap pancing saya masih bagus, masih bisa dipakai mancing, dan belum saatnya menambah atau berganti.

Untungnya masih ada sedikit kabar baik, saya dikasih uang saku setiap kali mau berangkat mancing. Artinya mendapat restu, kan?

Berbeda dengan teman saya, ia memiliki manajemen keuangan khusus dalam mengalokasikan penghasilan untuk memenuhi kebutuhan dan keuangan. Asal uang bulanan untuk anak bini beres, sisanya sudah pasti habis buat beli alat pancing dan main slot.

Ia bekerja di pertambangan, bayaran dua digit yang menggiurkan. Hanya sekitar 20% dari bayarannya dikasih ke bini, itu sudah cukup untuk satu bulan, ia mengatakan sendiri kepada saya saat itu.

Kalau Anda datang ke rumahnya, ada rak-rak dan lemari-lemari berisi alat pancing yang sudah mirip dengan museum.

Sambil menahan air liur, saya bertanya apakah ia menerapkan idiom lebih baik minta maaf daripada minta izin?

Ia jawab dengan santai bahwa tidak. Ia bahkan tidak pernah minta maaf, hanya izin menggunakan rumus.

Saya bingung, mengapa ada rumus, seperti apa? Lantas ia menjelaskan bahwa rumus membeli alat pancing adalah angka nol dikurangi satu.

Ia meyakinkan kepada saya, jika bini mendengar harga sebenarnya kalau tidak kena jantung ya kena satru satu minggu lebih!

Risikonya besar sekali, kata saya. Ia mengangguk dan tetap meyakinkan bahwa persoalan ini jarang diketahui.

Misalnya ia membeli Shimano SX ZA seharga 2.500.000, maka ia akan mengatakan kepada bini membelinya seharga 250.000 (rumus nol dikurangi satu, rumus universal untuk beli pancing).

Saya merasa bersyukur menjadi suami yang jujur dan baik hati. Tanpa menggunakan rumus beli alat pancing maupun menerapkan lebih baik minta maaf daripada minta izin. Pun harus merelakan keinginan meminang tegek Shimano idaman, bukan lantaran tak dapat izin tetapi emang enggak ada duitnya. Heu heu heu…

Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.

☕ Traktir kopi