Cerminan diri muncul di air saat mancing

Apakah Anda pernah melihat diri sendiri? Bukan, bukan, maksud saya bukan di cermin, melainkan di air.

Tadi saya mancing, saya tak ingat ini hari apa dan tanggal berapa. Entah, sengkarut di kepala ini rasanya sudah di titik purna.

Sehabis azan zuhur saya berangkat saja. Menuju ke spot yang jelas-jelas ikan sulit makan. Namun, saya hanya berangkat, tetap berangkat.

Di jalan hendak beli rokok dan air mineral. Pas ambil uang di tas pancing, kejadian itu muncul. Sebuah kejadian yang memicu serentetan sengkarut yang lain. Saya bukan ritsleting tas. Tak sengaja, entah bagaimana, saya dengar suara klek.

Perasaan langsung enggak enak…

Benar saja, ujung joran pancing kesayangan patah. Sampai di sini saya sebenarnya ingin pulang lalu tidur atau menangis sesenggukan.

Sebenarnya bukan joran mahal. Hanya saja joran itu saya custom sendiri sepenuh hati. Patah ujungnya masih bisa diperbaiki, namun entah seperti ada yang turut patah di dalam dada.

Saya langsung pulang, mengambil joran pancing yang lain. Dan, lagi-lagi berangkat ke spot ikan sulit makan. Langsung berangkat saja daripada ketahuan bini lagi nahan nangis, kan malu.

Akhirnya sampai ke spot itu. Merangkai ulang semua peralatan mancing. Eh, pelampung enggak ada. 

Tak berpikir macam-macam, saya putar akal pakai teknik dasaran gombyok pelet. Hasilnya sudah jelas: boncos.

Kalau spot panas, saya mungkin akan memilih tidur di rumah. Di sini benar-benar teduh, adem.

Sejauh mata memandang, tak ada siapa pun yang kelihatan di sekitaran bekas galian pasir ini.

Saya benar-benar seorang diri, dan saat itu saya melihat di air. Muncul bayangan wajah saya yang ganteng namun sendu.

Seolah bayangan di air yang tenang itu mengatakan sesuatu. Kemudian saya menyadari kenyataan bahwa setiap manusia memiliki sengkarut masing-masing di kepala.

Ada yang kalah slot sampai jual rumah, kendaraan, dan terlilit utang yang nilainya tidak main-main. Ada yang sapi peliharaannya yang sedang bunting mati. Ada yang harus bolak-balik kontrol ke rumah sakit karena satu dua hal. Ada yang ditinggal mati suami tercinta. Ada yang suaminya bajingan suka main tangan. Ada saja sengkarut masing-masing orang.

Joran pancing kesayangan yang patah, pelampung yang ketinggalan, atau mancing boncos kiranya belum seberapa jika dibandingkan dengan itu semua.

Pada akhirnya, ini adalah refleksi subjektif saya. Bahwa, jangan biarkan sengkarut dalam kehidupan menghalangi kita untuk mengucap syukur dengan ikhlas atas segala-galanya takdir Tuhan.

Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.

☕ Traktir kopi