Memperingati dua tahun harga diri mati

Apakah kau ingin tahu apa yang lebih mendung dari kemelut, lebih kusut dari sengkarut, lebih kelam dari jurang?

Entah mengapa kepalaku dipenuhi kemarahan yang meluap-luap, sedangkan hatiku merah membara yang menyala-nyala. Satu kata yang keluar dari mulut siapa pun, terasa seperti trisula yang melesat cepat ke dahiku. Menyulut sesuatu entah apa, dan meledakkan bagian dalam hingga tercerai-berai.

Tubuhku gemetar, perutku lapar, pikiranku buntu. Dan lagi-lagi, dalam kekacauan yang berpadu-padan itu, teringat kembali di belakang gubuk samping sungai irigasi sawah dangkal, teronggok sebuah nisan dari batu yang kutulis sebuah nama dengan darah.

HARGA DIRI
1997-2024

Aku berlari terseok-seok ke sana. Sekarang surup, azan magrib berkumandang di seluruh penjuru mata angin, langit berwarna abu-abu pekat. Lebih mendung dari kemelut awan pola baju batik yang dipakai mendiang ayah di masa lalu.

Untuk kali pertama dalam hidup, tak kupedulikan ular dan ulat, apalagi sekadar nyamuk dan biawak. Kematian karena racun ular tidak lagi menakutkan. Aku pun bisa mati kapan saja karena ulat bulu, kaget, terpeleset, batu, terbentur, pecah, kepala, berdarah, kejel-kejel, bongko.

Tanganku yang gemetar dan kukuku yang hitam, kuraih nisan batu itu. Menancap terlalu kuat. Kutendang pula dengan jempol kaki cantengan. Menjerit sialan! Jeritan lantang melipatgandakan kekuatanku. Nisan itu mencelat sampai akar. Jatuh teronggok di sungai dangkal sebelahnya.

Tubuhku gemetar, perutku lapar, pikiranku buntu, sekarang malah ditambah perih dari jempol kaki cantengan yang berdarah-darah. Kukuku yang hitam tergores-gores, makin hitam seluruh tangan saat kupaksa menggali tanah.

"Konon, manusia telah menemukan teknologi bernama cangkul," kata tetanggaku dua hari lalu.

Sial! Saat itu aku masih bisa tertawa bersamanya. Umurnya 35 tahun, masih suka menonton Spongebob sampai hafal nyaris semua percakapan di tiap episode. Tidak ketinggalan segala teori konspirasi di dalamnya.

Sampai kedalaman 15 meter kutemukan kerangka harga diri. Wujudnya mengerikan! Lebih kusut dari sengkarut, mencekam, teronggok diam dan kedinginan sendirian. Dua tahun sudah aku kuburkan dengan berlinang air mata di waktu yang sama-sama surup. 45 kali aku pukuli batu sekuat tenaga sampai pecah terbelah, satu potong jadi nisan, potongan lain yang lebih besar jadi tempat duduk. Tanganku yang akhirnya berdarah menjadi tinta untuk menulis namanya di sana.

Azan isya baru saja selesai. Langit yang abu-abu menjadi hitam saja. Bunyi jangkrik berisik. Suara aliran sungai mengganggu. Tidak ada bunyi-bunyian yang mampu untuk setidaknya memberi kenyamanan. Dengung dari dada lebih keparat. Bisikan lain di kepala tak kunjung minggat. Semua yang kuterima seolah memaksaku untuk mengambil tempat duduk batu, mengangkatnya tinggi-tinggi, dan menghantam kepala sebanyak-banyaknya. Berkalang tanah bersama kerangka harga diri yang lebih dulu mati.

Sekuat tenaga. Benar-benar kupaksakan. Aku mengabaikan semua bunyi-bunyian. Tubuhku makin gemetar kedinginan, kelaparan. Rebah di sampingnya. Memeluknya. Menciumnya sesekali. Aku menemukan semacam ketenangan di bawah sini. Bersama kerangka kosong, dalam kecamuk yang lebih kusut dari sengkarut.

Aku ingat kemarin tetanggaku mati. Aku turut membantunya masuk ke liang lahat sebagai tempat jasad terakhir kali. Setelah seseorang mengazani, iseng-iseng kudekatkan wajah sembari membuka tali di kepalanya. Berbisik pelan di telinganya, "Kau tahu apa yang lebih lucu dari 11? 17!" Ia tetap diam. Tak bergeming. Ia benar-benar mati. Lelucon semacam itu tidak akan pernah gagal membuatnya tertawa. Namun sekarang, tampak ia tidak bernapas, dibalut pucat yang lambat-laun kuamati semakin bikin ngeri.

Di sinilah aku sekarang. Aku hanya ingin tidur. Barang satu-dua malam tidak apa-apa. Sebuah lubang sedalam 15 meter yang lebih kelam dari jurang. Bersama kerangka harga diri dan kenangan yang silih berganti datang.

Yang terakhir kuingat adalah kata mendiang ayahku. "Harga diri seorang laki-laki hanya sampai ia punya anak. Selanjutnya yang hidup adalah harga diri anaknya," katanya pelan. Lanjut terkekeh dengan santai seperti biasa.

Kupikir hanya bercanda. Aku benar-benar menganggapnya bercanda! Astaga!

Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.

☕ Traktir kopi