Ndasku mumet

Ndasku mumet. Yang mana kata "ndasku" dapat kita sepakati definisinya sebagai "kepala sialanku" daripada "kepalaku" dalam bahasa ibu kalian. Ada sesuatu yang pekat dan kental turut tersampaikan di dalamnya.
Ketika melihat seorang tetangga mengayuh sepeda --karena tidak memiliki motor-- menuju sawah. Aku merasakan iri yang membara. Itu pukul setengah lima pagi. Tepat setelah dia tuntas berganti pakaian sepulang dari jemaah di musala.
Hingga sekarang hampir pukul empat sore, aku masih mengingat kejadian itu. Hidup di desa seharusnya memang begitu. Namun sialnya, aku menanggung sengkarut rumit dari masalah orang-orang kota. Apa lagi itu kalau bukan utang.
Sialan. Utang negara sudah mencapai enam belas digit dan pemimpinnya masih bisa pelesiran membanggakan program celaka di negara lain. Sementara utangku yang masih delapat digit dengan caranya yang ganjil selalu mendorongku pada pengakhiran.
Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.
☕ Traktir kopi