Kali pertama membaca kutipan ini
Cerita, selamanya tentang manusia, kehidupannya, bukan kematiannya. Ya, biarkan yang ditampilkannya itu hewan, raksasa, atau dewa, atau hantu. Dan tak ada yang lebih sulit dapat dipahami daripada sang manusia. Jangan anggap remeh si manusia, yang kelihatannya begitu sederhana, biar pengelihatanmu setajam mata elang, pikiranmu setajam pisau cukur, perabaanmu lebih peka dari para dewa, pendengaranmu dapat menangkap musik dan ratap tangis kehidupan, pengetahuanmu tentang manusia takkan bakal bisa kemput.
(Pramoedya Ananta Toer)
Saya kali pertama membaca kutipan tersebut, kalau tidak salah ingat, pada 2020 di sebuah kantor organisasi intra kampus. Kantor yang bagian dalamnya terpampang selebar-lebarnya wajah Che Guevara.
Saya tidak bohong, Anda bisa melihat langsung bagaimana wajah Che itu terpampang di sana. Serta BONUS mendengar suara saya yang teramat merdu dan tidak jarang bikin orang mimpi buruk itu.
Cek di sini.
Sedang bagian luarnya yang lebih panjang itu tampak dua sosok, Pramoedya Ananta Toer dan Tirto Adhi Soerjo. Jadi, barangkali Anda sudah bisa menebak kantor organisasi apa pula itu? Ya, betul, itu adalah kantor takmir musala kampus. Aih... Tidak penting pula saya sebut apa itu.
Saya merasakan dengan begitu kental, bagaimana Pram menceburkan diri sepenuhnya dalam kesusastraan. Tidak hanya koceh, ia slulup sampai nyaris mampus di dalamnya. Untung bukan kepalang yang hilang hanya pendengarannya, tidak sampai nyawanya.
Membacai Tetralogi Buru membikin saya terkesima. Pembawaannya mengalir saja, runtut, dan bersentuhan langsung dengan kehidupan manusia. Meski pada akhirnya saya benar-benar jatuh hati pada Dewi Ayu dalam Cantik Itu Luka setelah beberapa bulan kemudian selesai dengan Tetralogi Buru.
Setelah membacai ulang beberapa tulisan tahun-tahun itu, saya menemukan Semusim dan Semusim Lagi oleh Andina Dwifatma. Di dalamnya ada hal senada yang disampaikan oleh Haruki Murakami.
Murakami pernah bilang begini dalam novel Hear The Wind Sing: dua hal yang tidak seharusnya ada dalam cerita adalah kematian dan hubungan seks, sebab cepat atau lambat orang pasti mati, dan pria akan tidur dengan wanita. Tidak ada gunanya menulis sesuatu yang niscaya.
(Hlm. 93)
Kita bisa sok asyik membenturkannya dengan kalimat pertama dalam kutipan Pram, yaitu:
Cerita, selamanya tentang manusia, kehidupannya, bukan kematiannya...
Kiranya kita sekarang sudah memiliki kesadaran sebagaimana kesadaran yang dimiliki oleh penulis-penulis besar. Anak zaman. Yaitu tidak perlu menulis tentang kematian, meski satu-satunya yang serius dalam kehidupan hanyalah kematian.
Pun, kita dapat abai dengan memasukkan perihal hubungan seks. Sebegitu liar Cantik Itu Luka, ia tidak serta-merta memasukkan adegan hubungan seks Dewi Ayu saat didatangi oleh menantunya sendiri.
“Kenapa kau datang kemari?” tanya Dewi Ayu.
“Aku tak bisa menahan berahiku.”
“Kau punya istri.”
“Ia begitu mungil untuk dicelakai. Begitu tanpa dosa untuk disentuh. Aku ingin meniduri mertuaku sendiri.”
“Kau benar-benar menantu celaka.”
(hal. 272)
Wah... Wah... Lalu, bagaimana dengan masa kecil kita yang cabul? Masa kecil yang tidur di atas tumpukan karya Enny Arrow dan Fredy S?
Pada akhirnya, kutipan yang sekonyong-konyong muncul sehabis salat Jumat di masjid itu, membikin saya bergidik agak ngeri. Sekaligus ingin mengajak para pembaca yang budiman untuk ini... Ila ruhi Pramoedya Ananta Toer bin Mastoer Imam Badjoeri... Al-fatihah...
Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.
☕ Traktir kopi