Pengap dalam bising yang mengganggu
Bernapas, yang seharusnya menjadi hak paling dasar manusia hidup, terasa menggantung di atas pohon kates.
Harus loncat dulu untuk menggapainya.
Beberapa kali malah butuh tangga jika pohon katesnya lebih tinggi.
Ambil tangganya sendiri. Loncat pun sendiri. Kalau jatuh, baru orang-orang pada berkumpul, menertawakan.
Jari mereka menunjuki batang hidung yang patah.
Sebagian besar yang lain hanya memasang tatapan tidak yakin. Yang justru dengan aneh sekali tatapan-tatapan itu lebih menusuk sampai jeroan daripada telunjuk mereka.
Saya (seolah) telah kehilangan nyaris segalanya. Meski kenyataannya memang tidak memiliki apa-apa. Menghabiskan tiga dekade usia hanya untuk kesia-siaan.
"Bukan, itu hanyalah pupuk untuk pohon baru yang lebih lebat daunnya tumbuh. Pohon yang nantinya tinggi dan besar, bisa untuk berteduh banyak orang."
"Ya, semoga, saya juga menantikan itu segera terjadi."
"Pupuk perlu waktu untuk benar-benar busuk dan memberi manfaatnya."
"Membiarkan kuping mendengar isi hati mereka, betapa itu menyiksa."
"Engkau memiliki orang yang masih peduli."
"Andaikan saja begitu."
"Orang tu--"
"Benar! Apakah engkau punya dua puluh ribu? Kita bisa memilikinya dalam tiga puluh menit ke depan."
"..."
"Lihatlah langit itu."
"Hitam--"
"Sehitam nasib kita, Kawan."
"Kapan engkau akan berusaha mencoba tidak menyela kalimat saya?"
"Oh, maaf. Ruang ini hanya untuk saya kali ini."
Kabar baiknya, manusia yang ini masih bernapas. Bisa menghirup-embuskan udara yang untung bukan kepalang gratis.
Gratis dalam arti yang sederhana saja. Jangan beranggapan harus menukarnya dengan setiap detik usia yang kian bertambah.
Usia ini laiknya sepeda motor belaka.
Membawa empunya usia semakin dekat dengan maut yang sejatinya sudah ditakdirkan sejak pertama kali keluar dari lubang yang itu.
Gratis, artinya tidak perlu mengeluarkan uang sepeser pun.
"Apakah ini sudah saatnya menghadap kepada-Nya?"
"Menghadap... yang... bagaimana?"
"Yang sebenarnya."
"Kau tinggal menunggu azan subuh beberapa bentar. Lalu salat."
"Yang sebenarnya."
"Kalau itu, siapa yang tahu."
"Betul juga. Percuma tanya kepadamu."
"..."
Setelah meloncat dan beberapa kali naik tangga, akhirnya diraih juga itu kates.
Saya bisa bernapas. Memperjuangkan napas itu sendirian.
Sungguh disayangkan sepeda listrik belum terlalu laku di sini. Sepeda motor bensin mengeluarkan suara yang bikin risih, apalagi dalam keadaan begini.
Saya mau makan kates yang barusan diperoleh. Seliweran kendaraan! Bisakah berhenti sebentar?!
"Jangan marah-marah. Pertolongan Allah itu nyata."
"Saya tahu itu. Barangkali lebih tahu daripada engkau."
"Lantas?"
"Saya sedang bertaruh. Sebenar-benarnya taruhan. Lebih cepat kepala ini yang meledak atau pertolongan Allah yang turun."
"Meledak seperti Hemingway?"
"Bukan... khusus yang itu hanya perumpamaan."
Kates ini rasanya seperti air sumur. Tidak bisa menyegarkan. Namun, cukuplah untuk sedikit bernapas meski harus diperoleh dengan menjadi pemeran monyet di sirkus jalanan.
"Engkau mau kates?"
"Oh... tidak. Orang tuaku sudah menyiapkan jus beraneka jenis buah setiap hari."
"Baguslah kalau begitu."
Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.
☕ Traktir kopi