Kopi hitam pahit yang jadi lebih pahit karena kemiskinan

Apakah ada yang sepakat bahwa bahan bakar menulis paling ampuh adalah kemarahan?

Marah, entah kepada siapa. Barangkali tetangga yang setiap minggu gonta-ganti motor baru, atau kepada takdir yang abu-abu.

Marah yang kiranya benar-benar marah, yang lahir dari iri hati, dengki, kelaparan. Kemiskinan.

Saya perlu memasukkan kemiskinan karena itu pula yang memiliki tanggung jawab terbesar dalam setiap kemarahan.

Terbesit segurat garis tipis yang menghubungkan dengan nasihat tentang menahan kemarahan.

Kita dianjurkan untuk diam, barangkali menyeruput kopi hitam dan mengisap dalam-dalam kretek juga boleh.

Kemudian, kita dianjurkan untuk mengambil wudlu. Sebab marah diibaratkan laiknya api yang bergoyang dombret.

Yang paling pamungkas adalah setelahnya. Salat.

Mustahil manusia yang masih memiliki akal akan membiarkan kemarahan bersarang-bertelur di dalam hatinya.

Salat jadi ritual tatkala seorang hamba mendatangi Tuhannya.

Saat salat di hadapan Tuhan, yang jelas-jelas Tuhan selalu di mana-mana, kemarahan itu melebur.

Luluh, lumer. Dengan aneh berubah jadi kesedihan, isak tangis muncul, butir demi butir air mata berjatuhan. Semakin deras, suaranya keras, terpendam, pada akhirnya tenggelam pada penyesalan, mengapa seorang hamba berani-beraninya marah atas takdir-Nya.

Namun, saya urung menunaikan anjuran itu.

Sekarang masih duduk diam, menikmati kopi hitam pahit yang jadi lebih pahit karena kemiskinan yang kental.

Sedang sebatang kretek terakhir tegeletak di sampingnya sewaktu saya menulis cerita ini.

Keadaan masih sama belaka.

Isap dalam-dalam kretek itu sampai sesak agaknya sedikit mengurangi sesak lain yang lebih raksasa di dalam dada.

Saya kepikiran untuk meluapkan kemarahan kepada seseorang.

Presiden? Wah, jangan kepalang sembrono. Lengkapi juga dengan presiden sebelumnya yang membikin kondisi negara di suatu negeri antah berantah berantakan nian.

Orang desa tidak pakai dolar, kata nyaris semua media berita.

Barangkali benar. Tetapi, ada hosting dan domain yang harganya naik ugal-ugalan gara-gara berpatokan pada dolar.

Sehingga di negeri antah berantah yang tadi, ada seorang blogger yang terpaksa merelakan blognya mati untuk kedua kalinya.

Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.

☕ Traktir kopi