Website yang kadaluarsa
Siklus hidup website sama saja. Beberapa akan kadaluarsa, mati di sana.
| Siklus |
|---|
| Registrasi |
| 👇 |
| Hidup |
| 👇 |
| Punya nama |
| 👇 |
| Kadaluarsa |
| 👇 |
| Dipakai situs judol |
| 👇 |
| Hilang |
Merelakan sebuah domain yang kadung jadi identitas kita itu tidak akan pernah gampang.
Domain yang berusia lebih dari dua tahun, otoritas bagus, teknis indexing cepat.
Plugin pro lifetime, logo cukup dikenal, serta memiliki ekor berupa YouTube 1.8k subs itu.
Saya jadi teringat waktu-waktu saat menghabiskan berjam-jam setiap hari di depan layar Chromebook untuk memperbaiki tampilan.
Atau sekadar mengisi tulisan dengan pembahasan tentang hobi.
Pada akhirnya, apakah benar-benar harus merelakannya, lagi? Setelah dulu sempat hilang, namun berhasil kembali.
Meski harus dibersihkan luar-dalam sebelum digunakan.
Di dalamnya juga sudah ada 672 tulisan. Cukup banyak, perjalanan agak panjang.
Domain yang sempat mengisi saldo beberapa akun adsense, yang kemudian akun-akun itu laku lebih dulu.
Domain yang sama yang untuk menerbitkan sebuah artikel di sana mendapat imbalan 170k.
Merelakannya cukup sulit, ternyata.
Hanya saja, sulit bukan berarti tidak bisa.
Wahai domain dan hosting, kalian akan terbujur kaku lagi di ruang gelap bersama para website blog lain yang sudah mendahului.
Kembali ke asal, ke ketiadaan.
Bagaimana jika menjualnya?
Saya sempat bertanya pendapat Gemini tentang kondisi tersebut.
Ia sembrono menyarankan agar menjualnya, mengubahnya jadi cash yang barangkali akan lebih berguna.
Saran yang masuk akal seperti biasanya.
Hanya saja, menjual blog itu rasanya lebih rendah daripada harus merelakannya pergi dengan sendirinya.
Menjual berarti memindahtangankan. Orang baru melanjutkan isi di dalamnya dengan identitas yang sama.
Catat, identitas yang sama.
Bukankah itu berarti saya juga mesti merelakan identitas saya dipakai orang lain?
Tulisan-tulisan saya diubah namanya menjadi nama orang itu.
...rasanya agak keterlaluan jika harus begitu
Mengingat kembali blog-blog yang lebih dulu terbujur kaku
Kondisi tidak bisa memperpanjang domain dan hosting bukan kali pertama yang saya alami.
Dan, seharusnya saya mampu untuk melewatinya.
Seperti sebelum-sebelumnya, domain yang begitu dramatis kadaluarsa.
Lantas beberapa waktu kemudian sudah memiliki redirect 301 permanen ke situs judi.
Bandar-bandar keparat itu memiliki cukup banyak uang; sesuatu yang digunakan untuk memperpanjang domain, sesuatu yang belum saya miliki sekarang.
Kejadian sama terulang.
Orang-orang yang mengetahui itu domain saya bertanya, ada apa dengan blog-mu?
Tidak ada yang perlu dijelaskan. Semuanya sudah terpampang gamblang.
Orang-orang itu bakalan lupa juga bahwa sempat ada blog untuk berbalas tulisan dengan blog mereka.
Hanya saya yang masih mengingatnya. Blog yang berakhir dengan tragis.
Untung juga saya agak pintar.
Masih sempat menyelamatkan tulisan cakar ayam di dalamnya. Barangkali memang hanya itu yang bisa saya lakukan.
Pun, saya tidak memberi penghormatan kepada mereka, blog-blog yang sudah tiada, dengan baik dan layak.
Lukanya sampai sekarang masih terasa. Bekasnya pun masih ada. Terlihat tertutup, namun samar-samar ada perasaan aneh yang biasa disebut sebagai penyesalan.
Dari awal sudah kekeliruan
Daripada mengulangi kesalahan seperti yang sudah-sudah.
Saya hendak memberi penghormatan terakhir untuk engkau, domain .id.
Terima kasih atas waktunya dalam jam-jam kekosongan di hari-hari abu-abu selama ini.
Maaf karena memaksamu hidup lagi hanya untuk mati dua kali.
Jika engkau berakhir di tangan bandar judi keparat, haraplah bersabar. Sebab, itu tidak akan selamanya.
Namun jika engkau berakhir di tangan blogger yang penuh kasih sayang, nikmatilah. Sebab, itu lagi-lagi tidak akan selamanya.
Semuanya tidak berlangsung selamanya sebagaimana bersamaan kita.
Merelakan domain di tengah kondisi sengkarut yang luar biasa seperti ini tidak pernah gampang.
Ampun~
Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.
☕ Traktir kopi