Pemancing yang tidak tahu nama antara satu dan yang lain

Ada sebuah kedekatan magis antara para pemancing. Mereka bahkan tidak tahu nama satu dengan yang lain.

Jika pemancing itu laki-laki, dipanggil "mas".

Sedang kalau pemancing perempuan, panggilannya lebih banyak. Bisa "mbak", "neng", atau "nama".

Jangan beranggapan semua pemancing tidak memiliki etika.

Atau melanggengkan patriarkal.

Mereka itu terlalu sering bercengkerama hanya dengan cacing dan ikan. Sehingga tatkala melihat manusia, yang perempuan, akan tertarik untuk menanyakan nama.

Saya laki-laki, dan seorang pemancing. :ebih sering dipanggil "mas" daripada ditanya nama oleh pemancing laki-laki yang lain.

Dan, itu sama sekali tidak masalah.

Saya telah membutikan bahwa apa yang saya sebut sebagai kedekatan magis antara para pemancing itu benar-benar nyata adanya.

Saat itu, saya memancing di tempat yang sama sekali baru, sendirian.

Di sana sudah ada banyak pemancing, lima atau enam orang.

Keesokan harinya saya memancing di tempat itu lagi.

Besoknya lagi dan lagi selama lebih dari sebulan. Tetap sendirian.

Pada akhirnya, saya bisa akrab dengan para pemancing yang memang hanya itu-itu saja orangnya.

Bahkan sampai di titik tidak hadir sehari, keesokannya ditanyakan ke mana kemarin.

Selama itu pula, mereka tidak tahu nama saya, juga sebaliknya, saya tidak tahu nama masing-masing kepala.

Bukti lainnya adalah waktu memancing.

Jika nama saya tidak tahu, apalagi nomor telepon untuk janjian mancing.

Hanya dari sebulan lebih sedikit, saya hafal jadwal kedatangan setiap orang.

Kepala A datang sebelum pukul tiga sore. Saya datang tepat setelah ashar sekitar pukul setengah empat. Barang dua-lima menit kemudian Kepala B datang. Disusul satu jam kemudian Kepala C. Dan terakhir adalah Kepala D yang datang hampir magrib.

Si B dan D biasanya akan memancing menembus magrib hingga pukul setengah satu malam.

Kenapa saya bisa tahu? Saya juga suka mancing malam.

Namun setelah azan magrib pulang dulu, kembali ke lokasi antara pukul delapan hingga setengah sembilan.

Begitulah, para pemancing bisa memiliki kedekatan dengan pemancing yang lain.

Terlepas mereka tahu namanya atau tidak.

Jadwalnya pun sudah jelas.

Dan, kalau ada yang tidak hadir selama lebih dari dua hari, berarti suatu keadaan gawat yang sedang terjadi.

Yah... mengingat itu semua cukup menghangatkan kala menghadapi segala ombak kehidupan sendirian seperti sekarang.

Saya rindu berkumpul dengan orang-orang itu lagi, yang jelas tidak saya ketahui namanya.

Sebab, sudah dua bulan lebih empat belas hari tidak ke sana. Ke lokasi yang seharusnya.

Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.

☕ Traktir kopi