Tatkala si bocil mengatakan bahwa ingin tidur dengan buku

Pukul setengah sembilan malam itu saya sedang membaca The Gambler, Fyodor Dostoyevsky di kamar.
Mencoba untuk memahami tulisannya. Sebab, rasanya memang agak sulit dipahami, meski yang saya pegang sudah Indonesian Version.
Si bocil usia dua setengah tahun yang hendak tidur itu meletakkan empong. Mendatangi ayahnya, dan bertanya "Lihat apa ayah?"
Ibunya bocil yang merespons. "Baca buku," katanya.
"Uku apa?" itu si bocil.
"Buku bacaan. Ayo bubuk, sudah jam berapa ini?"
Pukul setengah sembilan malam bagi bocil itu sebenarnya masuk kategori jam lembur.
Sebab, hari-hari biasanya ia akan sudah tidur sebelumnya.
Pembicaraan ringan yang terjadi sedemikian tergesa menarik juga, pikir saya. Si bocil dengan keluguan dan kepolosan yang masih fitrah membuat semuanya lebih baik.
Dan...
...ia naiki ayahnya, lalu mengambil bukunya.
"Aku mau aca uku... Aku mau aca uku..." rengeknya pada akhirnya.
Karena sudah tidak tahan melihat keluguan dan kepolosan yang barangkali hanya muncul di usia segitu, saya berikan bukunya.
Ibunya bocil khawatir jika nanti disobek. Padahal seharusnya yang khawatir itu saya. Sebab itu merupakan buku hasil pinjam dari seorang teman.
Jika pun disobek, dengan menjelaskan dari sudut pandang sama-sama sebagai bapak anak satu, saya yakin ia akan mengerti.
Dan begitulah, benar kata para tetangga bahwa anak sekecil itu bahkan lebih mbeneh daripada ayahnya.
Si bocil sama sekali tidak menyobeknya.
Sekadar membolak-balik isi halaman, mencari gambar atau bagian paling menarik dari The Gambler itu.
"Aku mau aca uku," katanya lagi sembari rebahan dan masih membolak-balik lembar buku.
"Sudah, ayo dikasih ayah, ayo bubuk," itu ibunya.
"Aku mau u..uk ama uku..."
"Num mau bubuk sama buku?" tanya ibunya.
"Iyaa," jawab si bocah spontan.
Banyak orang yang bisa menulis tanpa makan, tetapi tidak tanpa kopi.
☕ Traktir kopi